March 18, 2003

[a+ magazine] Mengenang Barbie

Pada suatu sore, saya terkenang pada sebuah kisah cinta lama, dan bagaimana saya melaluinya.

Mengingat jumpa pertama saya dengan barbie adalah melayangkan ingatan pada masa kecil. Entah sejak kapan persisnya, tiba-tiba sudah ada sepasang barbie berambut pirang dalam peti mainan saya. Saya segera terpesona pada kecantikan wajah dengan pipi merona dan kulit yang nampak begitu halus, rambut pirang sepinggul yang memantulkan cahaya pada setiap gerak, serta tubuh tinggi langsing dengan pinggang begitu ramping. Dalam sekejap saya melupakan Katak, boneka bulu berwarna hijau lusuh yang telah menemani selama bertahun-tahun. Apa boleh buat, barbie memang sebuah citra yang sangat, sangat cantik.

Sesuai dengan wujud mereka yang 'bule', saya memberikan nama Laureen dan Maureen. Layaknya barbie, kedatangan mereka ke kediaman saya tentu saja disertai seperangkat busana dan perlengkapan paling indah yang bisa dibayangkan seorang gadis kecil. Untuk tiap outfit berbeda, mereka memiliki padanan sepatu dan tas yang berbeda pula. Setiap pagi, mereka bersenam dalam busana ketat berwarna merah dan kuning lalu membengkok-bengkokkan lutut serta memutar-mutar tubuh (inilah kelebihan barbie dibandingkan boneka sejenis lainnya). Saat menghadiri acara makan siang, mereka merasa perlu mengenakan setelan denim dengan boots selutut dan tas tangan bernuansa senada atau paduan blouse putih berenda dan rok lipit bermotif bunga-bunga dan sepatu sandal bertali, tergantung di mana tempat makan siangnya.

Pada dasarnya, saya bukanlah orang yang mudah merasa iri. Tapi, siapa yang takan terpancing rasa irinya bila melihat sosok yang begitu cantik, begitu sempurna, dan begitu kaya? Ah, siapakah wanita yang tak ingin menjadi barbie walau sekali saja dalam hidupnya? Tak peduli betapa bodoh dan tak berotaknya citra yang kadang ditampilkan barbie.

Saya bukanlah satu-satunya yang tergila-gila pada kecantikan barbie. Sejak kemunculannya sebagai wanita berkebangsaan Italia pada tahun 1959, impian menjadi barbie mulai merasuk dalam pikiran setiap wanita. Apalagi kemudian barbie muncul dalam berbagai warna kulit, bentuk mata, maupun etnis berbeda. Jadi, bolehlah saya (waktu kecil) bercita-cita menjadi
barbie berkulit cokelat dan bemata belo sambil menikmati koleksi busana dan aksesori yang merupakan hasil cipta berbagai perancang berkelas -dari Bob Mackie, Vera Wang, Christian Dior, sampai Didi Budiardjo.

Tetapi mimpi memang harus tetap mejadi mimpi. Pada akhirnya saya tersadar bahwa semua barbie memiliki bentuk tubuh dan kecantikan yang persis sama, tak peduli etnisnya. Yang ada adalah barbie berpakaian Cina, Jepang, Rusia, sampai Minang, tetapi bukan wanita Cina, Jepang, Rusia, maupun Minang. Barbie hanyalah mimpi yang diciptakan otak jenius seorang
pemilik pabrik boneka, Ruth Handler. Dan karena itu, barbie haruslah tetap menjadi sekedar mimpi belaka, karena bila tiba-tiba menjadi nyata maka impian indah itu justru tak ada lagi. Maka, bodohlah mereka yang terobsesi ingin menjadi seperti barbie, karena sebenarnya hanya barbie yang boleh menjadi barbie. Masa nggak sadar juga, sih?

Jadi jangan salahkan saya yang akhirnya meletakkan Laureen dan Maureen ke dasar terbawah peti mainan beserta segenap perlengkapannya -sebagaimana umumnya kanak-kanak yang bosan pada mainannya. Pada saat saya melakukan hal itu, saya melihat Katak di dasar peti,
begitu lama terlupakan. Saya mengambilnya.

August 08, 2002

[Harper's Bazaar] Mereka Merantau ke Pulau Dewata

Walau bergelut di bidang yang sama, mereka berasal dari latar belakang dan budaya yang sama sekali berbeda. Mengapa akhirnya memilih tinggal di Bali?

Tak ada tempat yang memiliki begitu banyak sisi seperti Bali. Mereka yang hanya ingin bersantai dan menjauh dari kesibukan sehari-hari, lari sejenak ke Bali untuk menghilangkan kepenatan. Tapi Bali tak sekedar pulau liburan, tempat ini juga mampu menjadi sumber inspirasi bagi mereka yang bergerak di bidang seni, seperti para desainer perhiasan ini. Rupanya ada sesuatu yang menarik di Bali. Mungkin budaya setempatnya yang memang menempatkan seni sebagai bagian hidup sehari-hari. Mungkin alamnya yang masih begitu menawan. Atau mungkin, Bali memang memiliki suatu daya tarik misterius. Paling tidak, begitulah beberapa alasan yang dikemukakan para desainer perhiasan ini.

Diana Dunk: Kembali Pada Tradisi

Pada awalnya, wanita asal Bandung berencana tinggal di Bali selama setahun untuk bekerja di bidang interior, sesuai dengan jurusan tekstil interior yang telah didalaminya di Institut Kesenian Jakarta. Lalu tiba-tiba, tak terasa hampir duapuluh tahun sudah berlalu.

Saat itu, ia tak langsung bergerak di bidang desain perhiasan. Bali yang begitu kaya memuaskan
keinginannya untuk mempelajari berbagai hal yang berhubungan dengan desain. Ia belajar banyak tentang berbagai bahan seperti kayu, kain, bambu, dan akhirnya emas, perak, serta bermacam batuan. Sekitar lima tahun yang lalu, ia memutuskan untuk melepaskan berbagai
pekerjaan desainnya dan menjadi ibu rumah tangga penuh. Ketak-betahannya untuk menganggur membuatnya mulai menggambar beberapa sketsa perhiasan, yang kemudian diwujudkan oleh suaminya. Akhirnya, dengan bantuan sejumlah perajin, ia memutuskan untuk lebih menekuni bidang perhiasan ini.

"Yang saya suka dari Bali adalah cratmenship-nya. Mereka (para perajin itu) sangat berbakat, mampu membuat apa saja. Buat mereka, berkarya merupakan suatu dharma, bagian hidup sehari-hari, sama seperti kita makan nasi atau bekerja," ujarnya.

Dalam berkarya, Diana memilih untuk berkutat dengan emas 22 karat. Ia juga banyak menggali ke dalam budaya Indonesia sebagai bahan inspirasi. Saat ia menikah, ibunya yang berdarah jawa memberikan seperangkat perhiasan emas kepada Diana. Saat itu, terpikir olehnya bahwa sudah begitu banyak perhiasan tradisional Indonesia yang sudah tak bisa ditemui lagi karena telah dibeli oleh para kolektor di luar negri. Di sinilah awal idealismenya untuk mengembalikan apa yang sudah lama ada dalam budaya Indonesia, untuk dikombinasikan dengan desain yang memungkinkan pemakaian sehari-hari.

Ia mencontohkan salah satu desainnya yang mengambil inspirasi bentuk giwang kuno dari Kalimantan. Diana memodifikasinya sehingga bentuk tersebut bisa dikenakan sebagai kalung atau cincin karena bentuk aslinya terlalu besar sebagai giwang.

Inspirasi ini memang terpancar pada berbagai desainnya yang memiliki bentuk-bentuk tradisional seperti spiral serta tekstur dan permukaan yang tak halus. Beberapa pelanggannya justru mengomentari desain Diana seperti perhiasan Eropa lama. Hal ini tak disangkal olehnya.
"Mungkin saja itu benar, budaya kita memang terpengaruh Spanyol, Portugis, dan Belanda di masa lalu."

Sebelum dua tahun terakhir, Diana hanya memasarkan karyanya di Amerika. Hal itu diawali dengan mengikuti pameran perhiasan di negara bagian Arizona, Amerika, yang berlangsung setahun sekali pada bulan Januari. Pemasarannya di Indonesia diawali dengan tawaran dari
Palanquin Bali, sebuah butik di Kuta, untuk menjual hasil karyanya. Tak sekedar menjual, Palanquin juga mempromosikan para desainer yang menjadi mitra kerjasama melalui berbagai bentuk promosi, salah satunya adalah dengan trunk show atau pameran. Walau tanpa ikatan kontrak khusus, promosi melalui Palanquin ternyata cukup efektif, banyak pelanggan baru yang datang. Kini, selain di Palanquin, Diana juga memasarkan karyanya di Amanjiwo, Jogjakarta.

Saat ini Diana tinggal di Pejeng, sebuah desa kecil yang sunyi di luar Ubud, bersama keluarganya. Rumah itu ditinggalinya sejak lima tahun yang lalu, setelah ia meningalkan Ubud yang sudah mulai ramai. Ia memilih tinggal di tempat-tempat yang sepi karena ingin
mendekatkan diri dengan kehidupan masyarakatnya. Lagipula Bali bukanlah tempat yang terlalu besar, hanya dengan setengah jam perjalanan, ia bisa pergi ke gunung atau pantai.

Sebuah konsep yang ia pelajari dari para perajinnya adalah tak adanya keterikatan pada karya yang dihasilkan. "Setelah selesai mengerjakan, mereka lepas dari karya itu. Tak ada keterikatan, karena mereka tahu akan ada hal baru yang lain lagi," jelasnya. Diana pun mempraktekkan konsep yang sama pada karya-karyanya. "Perhiasan saya yang sudah selesai,
lepas dari diri saya, karena kini ia telah memiliki tanggung jawabnya sendiri."

Dalia Brooks: Perak Kelas Tinggi

Bidang perhiasan bukanlah hal baru untuk wanita kelahiran Israel keturunan Yugoslavia ini. Ayahnya, Rafael Alfandary, adalah seorang desainer perhiasan yang sangat terkenal di Toronto, Kanada. Tak heran bila Dalia telah mulai membuat perhiasan pada usia tujuh tahun dan menjual karya pertamanya pada usia 12 tahun. Pada usia 19 tahun, ia telah membuka butik perhiasan sendiri, yang berkembang menjadi tiga buah saat usianya mencapai 21 tahun.

Ketika datang ke Bali 12 tahun yang lalu, keinginannya hanyalah untuk berlibur, bagian dari perjalanannya berkeliling dunia. Tapi di pulau itu, ia terpesona pada kemampuan para perajin setempat untuk menghasilkan berbagai karya perhiasan tradisional dengan biaya yang sangat murah. Segeralah timbul idenya untuk mengkombinasikan hal itu dengan desain dan teknik yang lebih modern.

Keinginannya itu diwujudkan dua tahun kemudian ketika ia kembali ke Bali dan mendirikan perusahaan perhiasan atas namanya sendiri. Paduan antara kreatifitas, pengalaman di bidang materi dan teknik, serta biaya produksi yang rendah, membuat hasil karyanya meraih sukses besar sewaktu dipasarkan di Amerika.

Walau berdomisili di Bali, ternyata workshop Dalia berada di pulau Jawa. Bali menjadi tempat tinggalnya, sekaligus tempat mengatur kegiatan bisnis. "Di sini saya bisa bekerja dengan cara yang sama sekali berbeda dengan waktu masih di Amerika. Hubungan saya dengan para perajin sangatlah dekat. Saya mencoba membantu mereka membuat perhiasan dengan cara yang lebih
modern," ungkapnya.

Kemodernan ini semakin dimungkinkan sejak ia menggunakan CAD (Computer Aided Design) untuk membantunya berkarya. Dalam hal ini, suaminya sangat membantu dalam menginterpretasikan desain Dalia dengan komputer. Hasil komputer ini kemudian dikirimkan ke workshop, dan hasil akhirnya sangatlah tepat. Dengan bantuan komputer, beberapa langkah bisa dilewatkan, sehingga pembuatan perhiasan menjadi lebih cepat dan presisi.

Karya-karya Dalia menggunakan perak lokal, yang dipadukan berbagai batuan berharga atau semi-berharga impor. Ia menyukai garis-garis yang bersih pada desainnya, misalnya dengan menggunakan kandungan perak lebih tinggi agar hasilnya lebih bersih dan lebih putih. Dalia mengakui bahwa sebenarnya ia dididik untuk menjadi perajin emas, tapi saat datang ke Bali, ia memutuskan untuk berpaling ke perak. Semua ini didasarkan pada pemikiran bahwa harga perak lebih terjangkau daripada emas, sedangkan ia juga ingin melakukan pemasaran secara lebih luas.

Bukan berarti perhiasan Dalia adalah kelas dua. "Memang sudah anggapan umum bahwa perak berada di kelas yang lebih rendah daripada emas. Jadi kami mencoba membuat perhiasan perak yang berkualitas tinggi, tak kalah berkelas tapi dengan harga yang lebih terjangkau," jelas suami Dalia.

Sebelumnya karya-karya Dalia dipasarkan di Amerika secara masal melalui berbagai toko dan katalog dengan nama lain. Kini, ia mulai meluncurkan koleksi atas namanya sendiri dengan kualitas yang lebih tinggi dan desain yang lebih khusus. Dan setelah bersusah-payah memikirkan nama yang tepat, Dalia dan suaminya memutuskan bahwa nama Dalia-lah yang paling tepat.

Saat ini, Dalia dan suaminya tinggal di daerah Seminyak, Bali. Di Bali jugalah ia bertemu suaminya, seorang fotografer, membentuk keluarga, dan bahkan kini, ibunya pun telah memutuskan untuk berpindah ke Bali. Saat ditanya apakah ia sering pulang ke Amerika? Dalia menjawab, "Tidak, rumah kami di sini sekarang."

Tricia Kim: Spiritual dan Keindahan Alam Bali

Tricia Kim lahir dan tinggal di Seoul, Korea, hingga berusia 6 tahun. Kemudian keluarganya memutuskan untuk pindah ke New York, Amerika. Bisa dikatakan New York adalah kampung halamannya kini. Ketertarikannya pada seni bermula sejak awal, karena itu ia mengikuti
pendidikan di berbagai sekolah seni di New York dan Paris.

Awalnya, Tricia berkutat pada pembuatan patung multi media serta pembuatan produk furnitur. Tapi bidang perhiasan mulai menarik hatinya sekitar 12 tahun yang lalu saat ia mengadakan perjalanan keliling Eropa, Amerika Tengah, Asia Tenggara, serta India dan Srilanka. Hingga saat ini, sudah 29 negara yang dikunjunginya.

Saat berkunjung ke Bali lima tahun yang lalu, Tricia akhirnya memutuskan untuk tinggal dan memusatkan bisnis desain perhiasannya di tempat tinggalnya di Ubud. "Menurut saya, semua orang menyukai Bali karena pulau ini seperti surga. Semuanya begitu indah, orang-orangnya, pemandangannya. Saat berada di studio, saya memandang ke luar dan melihat pohon-pohon kelapa serta kupu-kupu beterbangan. Rasanya begitu sejuk bagi jiwa saya," ia menjelaskan kecintaannya pada Bali.

Dan tentunya dari segi bisnis, "... saya dapat menghasilkan cukup banyak di sini dalam bidang desain perhiasan karena ada begitu banyak perajin berbakat yang sangat mudah diajak bekerjasama."

Tricia menggunakan berbagai material untuk perhiasannya, dari perak, emas 22 karat, berbagai batuan berharga dan semi-berharga, hingga karet dan tali sutera. Saat diminta mendefinisikan kecenderungan desainnya, Tricia menjawab, "saya banyak menggunakan teknik tradisional, tapi hasil akhirnya saya buat sendiri. Jadi... anggap saja kecenderungan desain saya adalah 'traditionally cutting-edge'." Setelah itu ia tertawa karena istilah itu ternyata hanya karangannya sendiri.

Ia memang tak terlalu memusingkan ke arah mana kecenderungan desainnya, karena kebebasan berkreasi lebih utama buatnya. Begitu juga caranya menggali inspirasi. Ia tak memiliki cara khusus untuk menemukan ide, kadang inspirasi datang begitu saja dan ia bisa langsung membuat sketsa. Kadang ia merenung dan menggali ke dalam diri sendiri untuk mencari inspirasi.

Ketika melakukan perjalanan ke negara-negara Asia Tenggara, Tricia mendapatkan banyak inspirasi spiritual dari berbagai kuil Hindhu dan Buddha yang dikunjunginya. Dipadukan dengan keindahan alam Bali, kedua pengaruh itu banyak ditemui pada berbagai hasil karyanya.

Tricia memiliki berbagai sumber yang memasok berbagai kebutuhan bahannya. Misalnya, batu-batuan didapatkannya dari India, Bangkok, New York, Afrika, dan berbagai tempat lainnya. Sedangkan bahan perak diperolehnya secara lokal. Ia bekerjasama dengan para perajin yang bekerja penuh di workshop-nya serta beberapa perajin lepas yang juga bekerja untuk desainer lainnya.

Dengan begitu banyaknya desainer perhiasan yang berada di Bali, ia mengaku tak takut pada persaingan. "Saya tahu di sini banyak sekali desainer perhiasan, tapi hampir semuanya memasarkan produknya untuk ekspor ke berbagai bagian dunia. Persaingannya memang cukup ketat, tapi saya yakin tempatnya juga masih cukup luas."

Tricia sendiri memasarkan karyanya dengan nama Nagicia ke Amerika, terutama New York, serta ke Swiss. Ia juga sedang menjajaki pasar di Hong Kong, Singapura, Tokyo, dan Jakarta. Nama Nagicia merupakan gabungan antara nama panggilannya, Naga, karena ia lahir di tahun naga, dengan nama aslinya, Tricia.

Beberapa kali dalam setahun, Tricia kembali ke New York untuk melakukan berbagai hal yang tak bisa dilakukannya di Bali. Ia mengunjungi museum dan pertunjukan, serta bertemu keluarga serta kawan-kawan. Sesudah itu, ia pun kembali ke studionya yang sepi di luar desa Ubud. "It's a healing place."

B. Filippos

Sebenarnya pria kelahiran Yunani ini lebih dikenal sebagai pematung dengan media terutama marmer. Lahirnya pun di daerah penambangan marmer di Yunani Tengah. Ia mempelajari budaya Yunani kuno, serta melakukan berbagai eksperimen dengan berbagai media, dari kayu hingga marmer.

Saat berusia 27 tahun, Filippos mulai melakukan perjalanan ke Inggris, Spanyol, dan Bali. Seperti juga rekan-rekannya yang lain, ia pun akhirnya memutuskan untuk tinggal di Bali hingga saat ini telah lebih dari 10 tahun. "Saya jatuh cinta pada tempat ini. Saya merasa seperti di rumah, karena itu saya memutuskan untuk tinggal di sini."

Filippos memilih untuk tinggal di Ubud karena komunitasnya yang artistik, dengan begitu banyak seniman pelukis maupun pematung yang tinggal di sana. Ia membandingkan Ubud dengan Legian, yang untuk Filippos, terasa lebih berorientasi bisnis.

Di sela-sela kesibukannya sebagai pematung, Filippos masih sempat melakukan hobinya, yaitu melakukan perjalanan ke berbagai tempat yang eksotis. Ia telah mengunjungi Mesir, Mongolia, Kamboja, Meksiko, India, Cina, Srilanka dan berbagai negara lainnya. Di setiap tempat, ia selalu menyempatkan diri berkunjung ke daerah pertambangan untuk membeli berbagai batuan yang menarik hatinya. Untuk Filippos, cara ini terasa lebih misterius dan menarik dibandingkan membeli batuan dalam sebuah acara pameran, misalnya.

Kadang ia mendapatkan inspirasi dari batuan yang didapatnya, dari tekstur, bentuk, atau warnanya. Dari situlah, ia kemudian mengembangkan desain yang sesuai untuk batuan tersebut.

Filippos tak membedakan pekerjaannya sebagai pematung atau desainer perhiasan. Sewaktu mengerjakan keduanya, ia bisa menggunakan materi yang sama, emas dan batuan tak hanya untuk perhiasan, tapi juga untuk patung setinggi satu meter lebih. Walau, tentu saja ia tak menggunakan marmer sebagai bahan perhiasan. Filippos menjelaskan, "Kedua hal itu (patung dan perhiasan) bisa saling membaur, karena untuk saya, perhiasan adalah suatu bentuk patung mungil."

Filippos mendefinisikan kecenderungan karyanya sebagai sedikit tradisional. Ia selalu berusaha membuat karya yang memancarkan sesuatu yang kuno, seolah-olah telah diciptakan ratusan tahun yang lalu. Pengaruh berbagai kepercayaan spiritual serta simbolisme yang diperolehnya selama melakukan perjalanan juga terasa kuat pada patung maupun perhiasannya.

Inspirasi bukanlah hal yang sukar didapat, karena menurut Filippos, inspirasi ada di mana-mana. "Saya bisa menemukan inspirasi pada hidup itu sendiri, pada orang-orang lain, pada batuan, dari dalam diri saya, di mana-mana. Semuanya adalah soal keindahan."

Ia pun tak terlalu memikirkan pemasaran karyanya. Rupanya ia lebih suka bila karyanya tetap menjadi sesuatu yang eksklusif ketimbang komersil. Filippos mengakui bahwa pemasarannya membaik bila ia memfokuskan diri pada hal itu. Tapi ada saat-saat tertentu di mana ia merasa terlalu sayang pada hasil karyanya, dan memilih untuk menyimpannya saja.

Caranya memandang hidup memang begitu bebas lepas dan seperti tanpa beban. Seperti ketika ditanya soal sampai kapan ia berencana tinggal di Bali, Filippos menjawab, "Anda bicara soal masa depan? Well, masa depan saya di sini, sekarang, saat saya sedang bicara dengan Anda. Saya selalu mencoba berada di masa kini." Ia menambahkan, "Bila Anda selalu mencoba menikmati saat sekarang, maka saat sekarang ini bisa hidup selamanya. Dan itulah caranya merasakan hidup."

July 08, 2002

[Harper's Bazaar] PUBLISITAS KARPET MERAH

'I'm wearing Jean Paul Gaultier, Prada, Yves Saint Laurent and Donna Karan. Everybody.' (Sting, karpet merah malam Oscar 2002)

Inilah malam yang ditunggu dengan hati berdebar. Bukan hanya oleh para aktris dan aktor unggulan serta insan perfilman lainnya, tapi juga oleh para desainer busana dan perhiasan yang dikenakan para bintang. Buat mereka, bukan acara puncak yang paling penting, tapi sebelumnya, the red carpet. Malam ini, karya mereka akan melintasi karpet merah di Kodak Theatre, Hollywood, tempat perayaan Oscar ke-74 diselenggarakan.

Karpet merah ini bagaikan catwalk dengan para pengamat dan kritikus mode ketat mengawasi. Lampu dan kamera menyorot terang. Senyum dipasang. Langkah dijaga. Lambaikan tangan dan pasang telinga pada setiap teriakan pertanyaan, 'Who are you wearing?' Ini saat-saat yang paling kritis. Setiap kesalahan -walau sedikit- akan dikenang untuk jangka waktu yang cukup
lama. Dan bila kesalahannya fatal, sang artis akan dikenang selamanya.

'Sebenarnya para bintang sangat ngeri bila sampai membuat kesalahan, karena hal itu takkan dilupakan paling sedikit setahun kemudian,' ungkap Rachel Zoe Rosenzweig, stylist yang pernah bekerjasama dengan aktris Toni Collette. Karena itu, kebanyakan artis memilih busana yang indah tetapi aman. Itulah sebabnya, apa yang nampak di karpet merah biasanya
mudah ditebak. Spaghetti straps. Gaun dan payet. Berlian.

Tapi, tetap saja karpet merah menjadi incaran desainer yang ingin karyanya dikenakan para bintang. Carlos Souza, kepala bagian humas Valentino, memperkirakan rumah modenya mendapat publisitas cuma-cuma senilai 25 juta US dollar tahun lalu dari pemunculan di televisi
dan majalah. "Itulah keuntungannya mendandani para pemenang," ungkapnya. "Luar biasa besar."

Pendapat serupa diungkapkan oleh Anne Fahey dari rumah mode Chanel di New York. Nilai publisitas dari penampilan seorang bintang tak hanya bertahan semalam, tapi bisa bertahun-tahun lamanya. Foto-foto Marisa Tomei dalam gaun Chanel hitam-putih di tahun 1993 masih muncul di berbagai majalah. Tahun lalu, kliping dari media massa yang menunjukkan Jennifer Lopez dalam gaun chiffon Chanel abu-abu memenuhi empat ring-binder. Nilai publisitasnya? "Sekitar 7 juta US dollar," kata Fahey.

Tentu saja busana maupun siapa yang memakainya harus ditentukan dengan sangat hati-hati. Salah-salah, yang didapatkan justru nama buruk. Karena itu, begitu nominasi pemenang diumumkan, Carlos Souza dan Valentino langsung mengadakan rapat untuk menentukan aktris yang tepat menjadi 'target' untuk didandani. Surat undangan segera dikirimkan, ditandatangani oleh sang desainer secara pribadi. Banyak surat kembali yang meminta vintage dress -mengikuti jejak Julia Roberts tahun lalu-, terpaksa ditolak. "Museum sudah ditutup. Kini Valentino membuat couture modern," jawab Souza.

Kali ini, Souza dan Valentino berhasil mendapatkan tiga bintang, Reese Witherspoon, Kate Beckinsale, dan Sandra Bullock.

***
Malam Oscar tahun ini ditandai dengan warna-warna yang lebih lembut. Banyak pendapat menyatakan bahwa hal ini merupakan ungkapan keprihatinan atas serangan teroris pada bulan September. Kebanyakan artis memilih lagi-lagi- hitam, yang lainnya memilih warna-warna
pucat. Sayangnya, tak semuanya sukses mengenakan warna pucat. Paduan gaun Chanel couture pink pastel dan kulit putih Nicole Kidman memang pucat, tapi justru membuatnya nampak seanggun peri, tentu karena ditunjang wajah dan tubuhnya (dan tentu saja, gaun Chanel couture-nya).

Tapi Jenifer Connelly, aktris pembantu terbaik, yang mengenakan gaun chiffon Balenciaga dalam warna beige malah nampak kurang darah. Ini terutama karena scarf warna pucat yang melingkari lehernya, walau kreatifitasnya memadukan dress dan scarf patut mendapat pujian.

Paduan pucat juga ditampilkan Kirsten Dunst dengan gaun Dior-nya yang gemerlapan, Audrey Tatou -pemeran Amelie- dalam gaun Alberta Ferretti, Helen Mirren dan Jodie Foster dengan gaun Giorgio Armani, serta Jennifer Lopez yang kembali mengenakan Versace. Tahun ini, Lopez mendapat kritikan -bukan karena gaunnya- tapi karena tatanan rambutnya yang dianggap lebih cocok untuk ratu kecantikan Texas.

Warna hitam kembali membuktikan diri sebagai warna paling aman dan anggun. Reese Witherspoon mendapatkan banyak pujian atas gaun lace dengan cap sleeve Valentino-nya. Dipadukan dengan tatanan rambutnya dan lipstik merah, ia tampil bagaikan bintang Hollywood
tahun 50-an. Pilihan hitam juga mengantar Sandra Bullock sebagai kandidat busana terbaik. Seperti Witherspoon, ia juga mengenakan karya Valentino. Julia Roberts dengan gaun Giorgio Armani juga mendapatkan pujian karena berkesan sangat modern dan simple setelah penampilannya yang cukup 'berat' dalam vintage Valentino tahun lalu.

Sebagai warna yang paling aman, kebanyakan artis yang memilih hitam memang mendapat pujian karena nampak anggun, misalnya Renee Zellweger dan gaun Carolina Herrera, Marisa Tomei dan rancangan Jurgen Simonsen, Sharon Stone dalam Versace, Uma Thurman 'sexy mom' dalam Jean Paul Galtier, serta Helen Hunt yang nampak seksi dengan Gucci.

Pemakai hitam paling dikecam adalah Gwyneth Paltrow, yang ironisnya selalu dianggap sebagai seorang fashion icon. Perpaduan gaun Alexander McQueen dengan tatanan rambut kepang dan makeup bergaya gothic nampaknya lebih cocok di atas runway daripada di karpet merah yang terbiasa dengan kecenderungan klasik.

Tak semuanya memilih penampilan 'aman' hitam atau pucat. Kate Winslet dengan gaun merah Ben de Lisi tampil sebagaimana layaknya seorang bintang, seksi dan berani. Sedangkan Laura Elena Harring dengan gaun Versace mendapat sorotan justru karena aksesorinya yang luar biasa mahal.

Cameron Diaz tampil berbunga-bunga dalam gaun kimono dari Ungaro Couture, dipadukan scarf dan rantai di pinggang membuat penampilannya terlalu ramai, apalagi dengan rambut berkesan acak-acakan. Tapi nampaknya ia tak peduli, karena menurut Diaz, gayanya itu adalah
seratus persen menampilkan kepribadiannya.

Pemenang aktris terbaik tahun ini, Halle Bery, memilih karya perancang kelahiran Libanon Elie Saab yang menurut kritikus 'mengandung resiko tinggi'. Maksudnya? Gaun yang bagian atasnya dari tulle trasnparan dengan penempatan motif daun yang strategis itu sebetulnya cukup vulgar, tetapi karena yang mengenakannya secantik Halle Berry, maka masih termasuk seksi dan dapat 'dimaafkan.

Busana para bintang pria pun mendapat sorotan walau tak sebanyak yang wanita. Will Smith patut mendapat predikat busana terbaik dengan jaket Ozwald Boateng dan dasi emas yang sangat mengusir kebosanan tux-and-black tie. Giorgio Armani menjadi pilihan terbanyak para bintang pria. Misalnya Samuel L. Jackson dengan brocade evening coat yang nampak stylish, Russel Crowe dengan tuxedo hitam, serta pemenang aktor terbaik, Denzel Washington, yang
memilih tuxedo warna midnight blue.

Malam Oscar bisa saja berlalu, tetapi busana-busana yang melintasi karpet merah masih tetap dilihat dan dibicarakan. Kita masih saja kagum pada gaun Valentino tahun 1982 yang dikenakan Julia Roberts tahun lalu, gaun Versace dengan garis leher sampai ke pusar yang dikenakan Jennifer Lopez dua tahun lalu, juga keberanian Bjork mengenakan gaun 'angsa karya Marian
Pejoski yang dikritik habis-habisan.

Yang jelas, agar selalu diingat dalam jangka waktu yang lama, pilihannya adalah menjadi the best dressed atau the worst dressed. Pilihan busana yang aman memang pasti akan terhindar dari kritikan, tapi juga takkan diingat orang. Tak heran para bintang pun berlomba-lomba dengan penampilan, kalau bisa paling bagus, paling buruk pun mungkin tak apa.

Lagipula, bad publicity is a publicity after all.

June 08, 2002

[Harper's Bazaar] Maksimalis vs Minimalis?

Benarkah kecenderungan fashion di Indonesia hanya identik dengan mewah dan gemerlapan? Lalu bagamana dengan kesedehanaan dan kepraktisan? Ini tuntutan pasar atau keterbatasan kemampuan?

Anda baru saja membeli sebuah busana rancangan desainer Indonesia denga harga yang cukup mahal. Kira-kira seperti apa bentuknya? Kemungkinan besar busana Anda mengandung unsur payet dan gemerlap. Kemungkinan besar juga busana itu Anda beli untuk dipakai ke acara tertentu dan bukan untuk kegiatan sehari-hari. Kemungkinan besar demikian. Kalau salah, mohon dimaafkan.

Kenyataannya, kalau kita mendengar kata-kata 'rancangan desainer Indonesia', yang pertama terbayang adalah busana mewah dengan segala pernak-pernik dan detil cukup meriah. Jarang sekali kita menemukan rancangan desainer Indonesia yang bebas trimming dan detil, dan hanya mengandalkan kesempurnaan cutting dan kualitas material belaka. Terbersit pertanyaan, jangan-jangan kalau tidak dihiasi berbagai pernak-pernik, suatu busana tidak dianggap layak
mendapat predikat 'rancangan desainer' di Indonesia?

Mungkinkah masyarakat fashion Indonesia memang masih sementah itu? Jumlah nominal yang sudah dikeluarkan hanya dianggap impas bila hasilnya jelas-jelas mewah dan gemerlapan. Karena itu, rancangan bergaris minimalis dengan detil sederhana tak mendapatkan pasar di sini. Tapi, sepertinya terlalu dini bila kita mengambil kesimpulan semudah itu.

Mari kita lembali ke akar budaya, seperti kebanyakan negara Asia lainnya, Indonesia sangat kaya dengan ragam busana dan tekstil tradisional yang semuanya penuh motif dan warna. Detail yang rumit, payet dan manik, serta pekerjaan tangan yang teliti merupakan ciri yang tak asing. Dulu, status sosial seseorang bisa dilihat jelas dari 'kekayaan' yang dikenakannya.
Walau kini soal status tak bisa dinilai semudah itu, tapi kebiasaan tampil 'kaya' rupanya masih terbawa sampai sekarang, walau tak lagi berciri tradisional.

Soal status ini dibenarkan juga oleh Erick Roland, buyer Versace untuk Indonesia. Butik yang dikenal dengan garis maksimalis kental ini memiliki sejumlah pelanggan yang bisa dikatakan fanatik. "Customer kami senang berpenampilan meriah, mereka tidak memilih ke butik A (menyebut suatu nama) karena garisnya dianggap terlalu sederhana. Mereka memang senang kelihatan bermerek," ungkapnya.

Lalu sebagian besar expatriat yang berbelanja di butik Versace Indonesia umumnya berasal dari Afrika. Tapi konsumen tetapnya kebanyakan masih orang Inonesia sendiri, yang tak segan berdandan head-to-toe dalam motif Versace. Ada miripnya dengan kaitan fashion Indonesia dengan akar budayanya. Benua Afrika juga dikenal dengan kemeriahan warna dan detil, jadi
nampaknya kecenderungan tampil 'meriah' terbawa hingga sekarang. Lihat saja penampilan rapper dan penyanyi berdarah Afrika, yang berdandan sangat meriah dalam tumpukan merek dan aksesori. Mantel bulu, kalung-kalung dan aksesori emas serba besar, serta motif meriah.

Alasan budaya ini mungkin bisa membenarkan kecenderungan desainer pada rancangan yang maksimalis, yaitu untuk mengikuti tuntutan pasar. Tapi bukankah ada kecanggihan teknologi komunikasi yang memudahkan informasi fashion dunia mencapai konsumen di Indonesia? Ternyata tak smua konsumen fashion di sini masih berkutat dengan akar budaya.

"Saat pernikahan, tentunya saya ingin juga tampil glamour, karena itu saya memilih busana yang meriah," ungkap Vicky Supit, seorang konsumen fashion. Namun untuk sehari-hari, ia mengakui bahwa pilihannya justru jatuh pada produk-produk impor. Masalahnya bukan karena brand-minded pada merek-merek luar, tapi Vicky belum menemukan busana casual yang nyaman dipakai dari desainer Indonesia. Ia mengaku tak mempersoalkan merek ataupun harga, tapi untuk busana sehari-hari, yang penting adalah kenyamanan.

Ketika porsi pasar yang hanya menghargai kemewahan semakin kecil, porsi yang lebih sadar fashion pun semakin besar. Indonesia, Jepang, Hong Kong, termasuk negara-negara Asia dengan selera berbusana yang cukup baik, dalam arti mampu mengikuti mode dalam waktu
cepat. Kesederhanaan gaya busana telah semakin diterima sebagai sesuatu yang elegan, chic, atau klasik, tidak lagi menjadi tanda 'kemiskinan'.

Agar mudah memperoleh gambaran bahwa minimalis juga mengandung kemewahan, perhatikan model busana pengantin para selebriti Hollywood. Ingat gaun pengantin Jennifer Aniston, Jennifer Lopez, sampai Catherine Zeta-Jones. Kesan pure, cantik dan mahal tetap terpancar.. Kultur ini datang dari Amerika, khususnya gaya yang diusung oleh New York Fashion Week. Lalu bandingkan gaya wedding gown yang dipakai oleh konsumen Jakarta (perbandingan ini hanya berlaku untuk international look yang bebentuk gaun putih panjang dan tutup kepala).

Maka sulit menemukan karya desainer Indonesia dengan ciri minimalis yang kental. Para penyuka kesederhanaan pun akhirnya harus berpaling pada merek-merek impor yang jumlahnya juga semakin banyak di Indonesia.

Harapan akan munculnya desainer-desainer baru yang mengusung kesederhanaan memang semakin bersinar. Bukan kreativitas saja yang bisa mendukung, tapi juga ketelitian bekerja serta teknologi. Rupanya kesederhanaan bukanlah hal yang mudah. Saat membuat suatu karya yang minimalis, tak banyak ruang gerak untuk membuat suatu kesalahan. Garis yang begitu
sederhana harus didukung dengan bahan bermutu tinggi, kualitas jahitan nomor satu, serta cutting yang sempurna. Bia tidak, maka kesederhanaannya menjadi tak berarti lagi.

Padahal jika melihat patokan harga, busana minimalis bukan berarti lebih murah daripada busana yang lebih ramai. Justru, desain minimalis biasanya dibuat dari bahan kain terpilih dengan presisi eknik potong sangat rapi. Karena kain bermutu ini harus menunjang siluet atau pola busananya. Sangat masuk akal jika harganya menjadi tinggi.

Arulita Adityaswara, Merchandise Director PT Pasaraya Nusakarya, menceritakan pengalamannya berkunjung ke sebuah garment manufacturer yang cukup besar. "Untuk
mengerjakan produk yang cukup sederhana saja -a simple white shirt-, mereka menggunakan alat pemotong yang sangat canggih, luar biasa tajam sehingga operatornya harus menggunakan sarung tangan baja." Ia melanjutkan, "Untuk fashion di Indonesia, keterkaitan dengan teknologi semacam itu masih dalam porsi yang sangat kecil."

Bukan tiada garment manufacturer di Indonesia yang memiliki teknologi secanggih itu, tapi kerjasama dengan desainer tetap saja sulit. Kebanyakan desainer Indonesia menjalankan usahanya secara pribadi, mempekerjakan sejumlah penjahit atau pengrajin sendiri, dengan jumlah produksi berskala kecil. Untuk menyerahkan pada garment manufacturer, jumlah minimum produksi yang ditetapkan terlalu tinggi untuk dipenuhi. Soal dana menjadi kendala.

Akhirnya, memang lebih mudah membuat sesuatu yang maksimalis ketimbang minimalis. Bukan berarti bahwa garis maksimalis memberi lebih banyak ruang untuk kesalahan, hanya saja kaitannya dengan teknologi sangat bisa diminimalkan Perbedaan paling besar antara dua kutub ini -maksimalis dan minimalis- terletak pada proses pengerjaannya. Semakin banyak pekerjaan tangan dilibatkan, semakin rumit pemasangan beading-nya, maka semakin berharga sebuah gaun mewah yang penuh detail. Teknologi tinggi tak terlalu diperlukan, karena pekerjaan tangan yang lebih dilibatkan. Keterbatasan teknologi di satu sisi, sumber daya manusia yang berlimpah di sisi lain, membuat desainer Indonesia lebih mudah membuat karya 'wah' daripada sederhana.

Kita patut mensyukuri kemampuan membeli dan kesadaran fashion konsumen Indonesia yang cukup tinggi. Kini mereka tak segan tampil dalam balutan busana desainer lokal untuk tampil dalam kesempatan-kesempatan khusus. Pilihan yang ditawarkan juga beragam. Maksimalis sudah punya posisi kuat di sini, pasarnya ada, pengisinya banyak. Tapi di pihak lain, pilihan busana bergaris sesederhana masih banyak diisi oleh produk luar. Padahal busana-busana seperti ini daya pakaianya lebih tinggi, dan peminatnya semakin besar. Pasar ini masih
menanti hasil karya desainer Indonesia.

Akhirnya, masalahnya bukanlah maksimalis atau minimalis, keduanya adalah kutub yang berlawanan, jauh berbeda, tapi tetap harus ada demi keseimbangan. Toh dunia fashion sendiri selalu berputar, kadang kecenderungannya meriah, kadang sederhana. Jalan masih panjang dengan mata rantai yang sangat rumit. Sebuah produk yang sederhana misalnya, tetap harus didukung oleh tim yang tangguh. Sayang sekali bahwa di Indonesia, kutub yang satu terisi penuh, dan kutub yang lainya begitu sepi.

November 15, 2001

[dewi magazine] Sehalus Lilin, Selembut Coklat

Ternyata coklat tak hanya nyaman di lidah Anda, tapi juga nyaman di kulit tubuh. Digabungkan dengan perawatan dengan lilin, kulit Anda akan benar-benar dimanjakan.

Hampir semua wanita menyukai coklat, karena itu theobroma cacao atau coklat juga sering dikatakan sebagai sahabat wanita, tentunya setelah berlian. Nama theobroma sendiri berarti 'santapan dewa', menunjukkan kenikmatan coklat sebagai makanan. Namun sebagai
sahabat, coklat juga sering ditakuti wanita karena dianggap sebagai penyebab gangguan kulit serta kegemukan.

Sebenarnya, coklat murni mengandung berbagai bahan yang berguna bagi kesehatan tubuh. Misalnya flavinoids yang merupakan bahan antioksidan, juga mampu menurunkan tingkat kolesterol dan mengurangi resiko tekanan darah tinggi. Coklat juga mengandung theobromine dan caffeine yang memberikan energi bagi tubuh. Tetapi penambahan bahan-bahan pemanis dan penambah kaya rasa seperti gula, susu, dan mentega, memang bisa menyebabkan coklat memberikan efek kurang baik bila dikonsumsi berlebihan.

Soal coklat sebagai makanan seperti di atas, tentu Anda sudah sangat akrab. Pernah membayangkan coklat sebagai bagian perawatan kulit? Beberapa waktu lalu, pihak Tulip Chocolate melakukan kerjasama dengan rumah kecantikan Centre de Beaute untuk mengadakan acara mandi coklat sebagai perawatan kulit. Acara ini merupakan bagian dari sebuah pameran akbar bertema coklat.

Bayangkan, Anda berendam dalam bathtub berisi coklat murni sehangat 40 derajat celcius selama 15 sampai 20 menit, dan saat keluar, kulit tubuh terasa begitu halus dan lembut. Hasilnya pun tak semata-mata kelembutan kulit, tapi juga tubuh yang rileks serta rasa nyaman karena kemewahan coklat itu sendiri.

Sebenarnya khasiat coklat bagi kulit sudah lama dimanfaatkan dalam industri kosmetik. Coklat sering digunakan sebagai bahan baku berbagai produk kosmetik, terutama lipstik, berbagai krim, dan maskara. Biji-biji dari dalam buah coklat diproses menjadi cocoa butter, cocoa liquor, dan cocoa powder. Cocoa butter yang berwarna kuning inilah yang memiliki manfaat besar bagi kulit. Kemampuan menghaluskan dan melembapkan kulit memang dimiliki oleh berbagai minyak alami, tetapi kelebihan cocoa butter adalah pada kepekatannya yang ringan sehingga mudah diserap kulit. Kemudahan ini membuat khasiat coklat yang melembutkan lebih mudah terasa dan bertahan hasilnya.

"Mandi coklat bisa dilakukan oleh siapa saja, tanpa persyaratan khusus kecuali mandi bersih saja sebelumnya," jelas Elvira, business development manager dari Tulip Chocolate yang berlokasi di Bekasi. Tapi jangan terburu-buru mencari tempat yang menyediakan perawatan ini, karena di Indonesia memang belum ada. Hal ini dijelaskan oleh Elvira, "Walaupun
bermanfaat bagi kulit, mandi coklat membutuhkan biaya yang sangat besar."

Satu kali mandi coklat membutuhkan sekitar satu kwintal coklat dengan kandungan cocoa butter sebanyak 65% dan cocoa liquor 35%. Coklat yang digunakan benar-benar murni, Anda bisa saja menambahkan gula dan tepung bila berniat mengolahnya menjadi cake! Tentu saja coklat yang sudah digunakan untuk mandi tak bisa diolah seperti itu karena alasan kelayakan. Maka sayang sekali jika harus membuang satu kwintal coklat untuk kenikmatan selama 20 menit.

"Waktu itu, kami memang ingin membuat sesuatu yang spektakuler untuk menunjukkan kepada semua orang bahwa coklat itu merupakan sahabat wanita karena merupakan bahan baku kosmetik, jadi tidak perlu ditakuti," jelas Yani Bodhipala dari Centre de Beaute mengenai tujuan mengadakan acara mandi coklat ini. "Selain itu, kami juga ingin menunjukkan bahwa coklat produksi lokal tak kalah mutunya dengan yang bukan lokal."

Bila masih juga berniat untuk merasakan nikmatnya mandi coklat, Anda bisa berkunjung ke Hershey Hotel di Pennsylvania. Spa di hotel ini menyediakan berbagai perawatan dengan coklat sebagai menu utama. Perawatan yang bisa Anda lakukan misalnya Whipped Cocoa Bath ­atau mandi coklat susu, Chocolate Mud Hydrotherapy­ yang menggabungkan khasiat lumpur dan coklat, Chocolate Bean Polish dan Cocoa Butter Scrub untuk menghilangkan kulit mati, serta Chocolate Fondue Wrap yang membungkus tubuh dalam coklat. Semua perawatan ini menggunakan coklat produksi kota Hershey sendiri.

Tapi untuk sementara, tak perlu jauh-jauh berkunjung ke kota Hershey untuk merasakan manfaat coklat. Manfaat cocoa butter masih tetap bisa Anda rasakan dalam bentuk minyak yang digunakan untuk massage menjelang berbagai perawatan tubuh lainnya. Salah satu perawatan yang bisa Anda lakukan adalah gabungan antara massage dengan cocoa butter yang dilanjutkan dengan pembaluran lilin parafin yang juga sudah dikenal kemampuannya melembutkan dan melembapkan kulit.

Tertarik merasakan kemewahan coklat dan merasakan hasilnya pada kulit Anda? Untuk lebih jelas mengenai coklat dan mandi lilin, dewi melakukan awancara dengan Yani Bodhipala dari Centre de Beaute.

Mengapa mandi coklat tidak diadakan sendiri, tanpa digabungkan dengan perawatan lain?


Kami memang pernah membuat sesuatu yang spektakuler dengan mandi coklat murni. Tetapi untuk dilakukan sebagai perawatan teratur, biayanya akan terlalu tinggi dibandingkan hasilnya. Sekali mandi coklat yang hanya sekitar 15 hingga 20 menit menghabiskan satu kwintal coklat berharga puluhan juta. Saat dikombinasikan dengan mandi lilin, ternyata hasilnya tetap sama tetapi biayanya bisa jauh berbeda.

Mengapa coklat yang dipilih untuk melengkapi perawatan mandi lilin?

Perawatan ini menggunakan produk dari biji coklat berupa minyak yang disebut cocoa butter. Minyak ini merupakan bahan alami yang bersifat melembutkan dan melembapkan kulit, karena itu banyak dipakai sebagai bahan baku kosmetik. Dibandingkan dengan minyak alami lainnya, misaknya minyak zaitun, cocoa butter tidak begitu pekat serta lebih mudah diserap oleh kulit.

Bagaimana langkah-langkah pelaksanaannya?

Seperti melakukan perawatan tubuh biasa. Pertama-tama, dilakukan dulu scrub atau penggosokan tubuh, kemudian langsung dilakukan massage dengan minyak cocoa butter ini. Setelah itu, area yang hendak dirawat diolesi dengan lilin parafin khusus dan ditutup dengan plastik selama kurang lebih sepuluh menit.

Untuk kaki yang lelah, perawatan dimulai dengan foot spa menggunakan garam mandi yang mengandung aromatheraphy tertentu. Setelah kaki dikeringkan, dilanjutkan dengan refleksiologi menggunakan minyak cocoa butter, baru kaki dibalur dengan lilin parafin.

Mengapa harus ditutupi dengan plastik?

Pembuluh darah yang mekar karena panasnya parafin akan membuat pori-pori terbuka. Saat terbuka itulah, kandungan parafin yang melembutkan kulit diserap. Plastik berguna untuk menjaga agar penguapan yang terjadi tidak 'lolos' sehingga kulit tetap lembap.

Mungkinkah perawatan ini dilakukan setiap hari?

Mungkin saja, tetapi sebenarnya tidak perlu, seminggu sekali saja sudah cukup. Sedangkan bagi mereka yang sedang dalam persiapan pernikahan, bisa melakukannya tiga hari sekali.

Berapa lama setelah perawatan dilakukan, hasil nyata bisa dirasakan?

Kelebihan dari perawatan ini memang pada hasilnya yang langsung bisa dirasakan setelah perawatan, terutama bagi mereka yang memiliki kulit kering karena jenis maupun penuaan. Kulit terasa lebih lembut, lembap, dan halus, dan bertahan hingga dua minggu setelah
perawatan.

October 15, 2001

[dewi magazine] Minyak Cantik

Tak ada hubungannya dengan yang mistik-mistik, ini tentang essential oil yang selain harum, ternyata juga bermanfaat bagi kesehatan dan kecantikan.

Bila mendengar istilah aromaterapi, biasanya yang terbayang adalah oil burner di sudut ruangan dengan lilin menyala di bawahnya dan aroma alami lembut yang pelan-pelan memenuhi ruangan. Penggunaan aromaterapi dengan dihirup seperti ini memang lebih akrab dikenal dibandingkan dengan aplikasi essential oil langsung ke kulit.

Essential oil sendiri merupakan sari tetumbuhan yang diambil dari bagian bunga, batang, getah, daun, atau akar, tergantung jenis tetumbuhannya. Minyak ini benar-benar saripati tetumbuhan tersebut, sebagai contoh, 100 kg tumbuhan Ylang Ylang harus disuling untuk menghasilkan essential oil yang hanya sebanyak 2 kg. Karena konsentrasinya begitu pekat, bisa dikatakan essential oil merupakan elixir yang menyimpan manfaat tetumbuhan dalam kadar ratusan kali lipat.

"Essential oil bersifat kompleks, terdiri dari ratusan komponen dasar kehidupan seperti karbon, hidrogen, nitrogen, dan oksigen. Molekul-molekulnya juga mengandung ion negatif dan positif yang merupakan electrical charges. Karena itu essential oil bisa dibagi dalam empat kategori: menenangkan, menghangatkan, mendinginkan, memberikan stimulasi," jelas Jeanne Thong, Beauty Therapist & Aromatherapist.

Selanjutnya, aromatherapist keluaran Joanna Hoare Institute of Aromatherapy ini menambahkan, "Molekul-molekul essential oil yang teramat kecil membuatnya mudah sekali larut dalam berbagai bahan pelarut seperti alkohol, dan terutama minyak. Ini membuatnya mudah diserap oleh kulit karena tercampur ke dalam jaringan lemak. Ketika menguap, essential oil terhirup dan memasuki jutaan sel sensitif tubuh yang ada pada saluran pernapasan. Pada proses ini, tubuh mengirimkan pesan pada otak melalui sistem lymbic yang mengontrol fungsi-fungsi utama tubuh. Di sinilah essential oil mampu meningkatkan kondisi fisik maupun psikologis secara bersamaan."

Karena berasal dari tetumbuhan, essential oil tidak meninggalkan residu yang berbahaya dalam tubuh. Tapi tentu saja semua yang digunakan berlebihan tidak akan memberikan hasil baik, karena itu pilihlah essential oil yang paling sesuai untuk masalah Anda dan gunakan secukupnya.

Sebenarnya, tanpa sadar pun Anda sudah merasakan manfaat essential oil lewat berbagai produk kecantikan sehari-hari. Berbagai jenis essential oil telah dimanfaatkan untuk merawat kulit kering, normal, maupun berminyak, mengatasi jerawat dan noda hitam, sampai mengatasi berbagai masalah rambut seperti kering, berminyak, dan berketombe.

Sedangkan untuk penggunaan essential oil secara lebih terkonsentrasi, biasanya memang dengan dihirup atau aplikasi langsung. Tapi jangan terburu-buru membeli essential oil dan mengoleskannya begitu saja pada kulit, Anda bisa mengalami iritasi karena konsentrasi yang terlalu kuat. Pastikan esssential oil pilihan Anda sudah dilarutkan dalam carrier oil yang juga berasal dari bahan alami.

Seperti halnya semua bentuk perawatan, bila Anda sedang hamil atau menjalani perawatan medis khusus, sebaiknya berkonsultasi dulu dengan praktisi profesional sebelum menggunakan essential oil. Beberapa essential oil mungkin bisa merangsang fungsi-fungsi tubuh tertentu yang sedang peka karena keadaan medis Anda.

"Setiap minyak mempunyai komposisi kimia tersendiri yg menentukan bau, warna, penguapan, dan -tentu saja- bagaimana pengaruhnya terhadap sistem tubuh. Hal ini membuat setiap jenis minyak memiliki berbagai sifat-sifat yang unik dan menguntungkan," kata Jeanne lagi. Tetapi khasiat essential oil juga sangat bergantung pada mutu tetumbuhan yang digunakan, cara prosesnya, dan pelarutnya. "Karena itu, pilihlah essential oil yang murni dan alami karena yang campuran atau palsu tidak bekerja pada tubuh sebagaimana mestinya. Minyak yg berkualitas baik mungkin memang lebih mahal tetapi manfaatnya selalu sebanding dg harganya," tambahnya.

Untuk sehari-hari, Anda bisa mencoba beberapa essential oil yang paling sering digunakan berikut ini:
  • Lavender, untuk mengatasi luka ringan
  • tea leaves, sebagai antiseptik
  • peppermint, mengatasi peradangan dan migraine
  • chamomile, untuk sakit perut
  • eucalyptus, mendinginkan tubuh
  • geranium, menenangkan emosi yang berlebihan
  • rosemary, untuk membantu penyembuhan sakit flu
  • thyme, mengandung antibiotik
  • lemon, untuk gigitan serangga dan mengurangi selulit
  • clove, untuk sakit gigi

Bila dimanfaatkan secara tepat, essential oil mampu meningkatkan kualitas kesehatan maupun kehidupan. Manfaatnya sudah dirasakan sebagai cara penyembuhan tradisionil sejak sekitar 5000 tahun lalu. Dan walaupun belum bisa memilih essential oil mana yang paling tepat untuk masalah kesehatan Anda, paling tidak aromanya sudah membuat lingkungan hidup jadi lebih menyenangkan.

Salah satu produsen yang menggunakan essential oil untuk perawatan kecantikan adalah Decleor, yang berasal dari Prancis. Untuk mengetahui lebih jelas tentang hal ini, dewi melakukan wawancara dengan Susan Lamentik, Trainer untuk Decleor Indonesia.

Bagaimana Decleor memanfaatkan essential oil untuk perawatan kecantikan?

Dengan bantuan carrier oil alami seperti hazelnut atau wheatgerm yang mudah diserap tubuh, essential oil mampu mencapai lapisan kulit paling dalam atau hipodermis dan bekerja sebagai natural beauty booster, sehingga -tergantung jenisnya- mampu mengatur kadar minyak, mengatasi kekeringan kulit, merangsang pertumbuhan sel kulit baru, melindungi kulit dari berbagai faktor luar, serta menyeimbangkan mikroorganisme pada permukaan kulit.

Bagaimana bentuk produk perawatan dari essential oil ini, dan bagaimana pemakaiannya?

Produk ini terdiri dari Aromessence yang berbentuk minyak dan Aromatic Balm yang berbentuk krim. Cara pemakaiannya disebut duo concept, Liquid Day berupa tiga tetes aromessence sebelum aplikasi krim wajah, dan Solid Night, tiga tetes aromessence sebelum pemakaian Aromatic Balm.

Karena bentuknya berupa minyak, bisakah produk ini digunakan oleh pemilik kulit berminyak? Bagaimana dengan jenis kulit yang sensitif?

Produk Aromessence bermacam-macam sesuai dengan jenis dan kebutuhan kulit. Pemilik kulit berminyak sebaiknya menggunakan Aromessence Ylang Ylang atau bunga kenanga, yang membantu mengatur kadar minyak pada kulit. Sedangkan untuk kulit sensitif, Aromessence Rose d'Orient dari bunga mawar Damaskus akan membantu menenangkan jaringan kulit yang sensitif.

Adakah batasan umur untuk menggunakan produk essential oil ini?

Tidak ada batasan mutlak mengenai usia berapa yang bisa menggunakan produk ini. Setiap produk Decleor sendiri selalu diuji-cobakan pada sejumlah sukarelawati berusia 25-60 tahun selama 28 hari berturut-turut. Batasan usia tersebutlah yang biasanya membutuhkan perawatan kulit, tetapi hal tersebut juga dipengaruhi berbagai faktor luar seperti sinar matahari.

Adakah perawatan dengan essential oil yang bisa mengatasi masalah pigmentasi berlebihan pada kulit?

Aromessence Whitening, yang mengandung berbagai essence seperti acacia dan lemon untuk menyamarkan pigmentasi, parsley untuk mengatasi penuaan dini, chamomile untuk mengatasi peradangan kulit, serta mengandung plant oil hazelnut untuk mencegah dehidrasi, muscrat rose yang menenangkan kulit, serta wheatgerm oil yang memberikan nutrisi pada kulit.

Adakah produk dari essential oil yang bisa membantu pembentukan tubuh?

Aromessence Slendisium atau Body Contouring untuk pembentukan tubuh dan masalah selulit, dan Aromessence Tonilastil atau Body Firming untuk mencegah stretchmarks. Tingkat kecepatan hasilnya bergantung pada berat badan serta stadium selulit dan stretchmarks.

Apakah penggunaan produk essential oil harus dilakukan secara profesional?

Decleor mempunyai produk profesional untuk digunakan dalam kabin perawatan, serta berbagai produk retail yang bisa digunakan sehari-hari di rumah.

August 15, 2001

[a+ magazine] Pokoknya Globalisme, Titik

Sebelum bicara soal pentingnya globalisme, saya harus mengerti dulu apa maknanya.

Sebenarnya ini salah saya sendiri yang selalu datang terlambat ke kantor, akibatnya ketinggalan rapat yang membahas tema bulan ini, yaitu globalisme. Yang jadi masalah, saya sama sekali tidak mengerti makna kata itu. Selama ini globalism hanyalah sebuah BIG WORD, sesuatu yang sering terdengar tapi tak pernah saya pikirkan benar maknanya. Ini benar-benar pukulan besar buat ego saya yang kelewat besar itu. Astaga, ternyata saya tidak sepintar yang saya duga sebelumnya. Apa dong yang harus saya tulis?

Saya akan mencoba memikirkannya. Samar-samar terngiang kata-kata dosen interior saya sekitar empat tahun lalu, “Indonesia akan memasuki era globalisasi pada tahun 2003, bersiap-siaplah menghadapi persaingan ketat di pasar kerja bebas.” Waktu itu bukan bu dosen saja yang sibuk memperingatkan tentang kedatangan era globalisasi, media massa juga sibuk membicarakan hal sama. Maksudnya kira-kira begini, bila era globalisasi telah tiba, maka SDM Indonesia tak lagi dibedakan dengan SDM dari manca negara. Maka hanya mereka yang mau bersikap terbuka, berani menghadapi tantangan, dan selalu meningkatkan kualitas pribadinya yang bisa menang di persaingan seketat ini.

Hah? Bagaimana tadi? Sebelum saya sempat memikirkan lebih lanjut, whoosh...! Manusia Indonesia memang mudah berubah, mungkin karena super kreatif. Jangankan menunggu datangnya tahun 2003, hanya dalam setahun, topik globalisasi sudah berganti menjadi kekuatiran tentang lapisan ozon yang berlubang. Penyebabnya adalah polusi yang tak tertanggulangi, dengan berbagai dampak buruk, seperti punahnya spesies tertentu hingga meningkatnya jumlah penderita kanker kulit. Sibuklah dunia membicarakan masalah ini.

Lubang masih menganga ketika topik berikutnya datang: Y2K. Lalu banjirlah berbagai informasi mengenai millenium bug ini, dari tidak berfungsinya jam digital, lampu lalu-lintas mati, hingga kacaunya sistem perbankan. Seram, sih. Hanya sepertinya agak terlambat untuk panik atas sesuatu yang sudah di depan mata, sementara sistem dua digit itu sudah digunakan sejak komputer diciptakan.

Ternyata tidak ada yang rusak. Maka seperti balon kempes, menghilanglah sang kutu millenium ini. Selamat datang, naga emas! Tiba-tiba -mungkin bosan dengan hal-hal canggih- muncullah topik-topik peruntungan seperti shio, fengshui, ramalan Nostradamus, Ronggowarsito, dan kedatangan satria piningit. By the way, ternyata saya tidak sedang mendisain interior rumah seorang pejabat, tetapi sudah pindah ke sekolah mode, bekerja di bank, di majalah dewi, dan akhirnya di majalah yang Anda pegang ini. Mungkin saya memang manusia Indonesia sejati yang mudah berubah karena super kreatif tadi.

Tunggu sebentar, bagaimana dengan globalisme? Marilah kita menganggap topik ini sebagai sesuatu yang tak pernah usang, bukan hanya trend pembicaraan yang sudah ketinggalan jaman. Baiklah, jadi globalisme adalah: sebuah isme –aliran ilmu pengetahuan- yang berkenaan dengan menyatunya seluruh penduduk dunia dalam segi informasi yang diperoleh, cara berpikir, dan status sosial. Sebagaimana semua isme lainnya, maka semua ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas hidup umat manusia.

Bicara soal informasi, berarti ini masalah komunikasi. Dalam sebuah dunia global ideal, suatu kejadian di tempat berjarak ribuan kilometer bisa diketahui dalam beberapa menit seolah terjadinya di rumah tetangga sendiri. Telepon, ponsel, internet, satelit, radio, televisi menghubungkan manusia-manusia yang seratus tahun lalu tidak mungkin saling berjumpa hingga akhir hayat. Tanpa perlu pergi ke manapun, tanpa bertatap langsung dengan siapa pun, kita bisa tahu tentang hampir apa pun hanya lewat memencet tombol-tombol.

Sounds great, huh? Tapi, benarkah kita perlu semua informasi itu? Benarkah kita perlu tahu tentang segala hal yang terjadi? Kenyataannya manusia sering tidak bisa menyortir informasi yang dibutuhkannya. Maka kita sering mendengar tentang orang yang kecanduan telepon, internet, atau menjadi potato couch di depan televisi. Semua alat telekomunikasi itu hanya bisa menyampaikan informasi mengenai kehidupan secara garis besar saja. Melalui alat-alat itu, kita hanya bisa tahu, tetapi tidak merasakan. Dalam ‘Manusia Kamar’, Seno Gumira Adjidarma menggambarkan seseorang yang tinggal dalam kamar tertutup tanpa kontak sosial langsung sama sekali, tetapi tak pernah ketinggalan informasi dunia dengan bantuan berbagai alat komunikasi. Cerpennya bagus, mas. Bila tak hati-hati, segala kecanggihan itu bisa membuat kita menjadi orang yang serba tahu sekaligus tidak tahu apa-apa.

Kalau globalisme berarti manusia tak lagi dibedakan berdasarkan suku, agama, maupun rasnya, saya setuju saja. Manusia memang dilahirkan sama, setingkat dan sederajat. Tapi entah kenapa, manusia butuh untuk dibeda-bedakan. Saat masalah SARA tak lagi membeda-bedakan manusia, ada saja alasan lain untuk berkelompok. Ibu saya mengaku sebagai seorang tradisionalis, musik yang bisa dinikmati hanyalah dari jaman Frank Sinatra dan berhenti sampai pada Broery Pesulima. Jangankan Radiohead, lagu Krisdayanti saja dianggapnya tak memilki ‘irama’. Jangan bicara soal membuka pikiran kepadanya, pokoknya jaman dulu lebih enak, titik. Buktinya, BuDhe dan PakDhe juga berpendapat sama.

Itu baru ‘gang’ tradisionalis, or should I say, just plain old-fashioned? Saya pernah punya teman yang mengaku punker, mencampur lem ke rambutnya agar seperti jajaran tombak, memakai jeans ketat berpeniti, dan kaus ketat lengan panjang bermotif bendera Inggris. Melalui internet, ia berhubungan dengan para punker dari seluruh dunia, tanpa peduli ras dan bahasa, punk is so cool. Adik teman saya adalah ‘anak Indie’, dengan poni panjang hingga ke dagu dan hanya mendengarkan musik Blur, Oasis, dan sejenisnya. Sebagai ‘anak Indie’, maka ia sangat ‘cool’, tidak banyak bicara kecuali dengan kelompoknya dan bersikap seakan-akan tidak butuh perhatian dan pendidikan.

Bukan hanya jenis musik yang bisa dijadikan alasan berkelompok, hobi dan pekerjaan juga sering digunakan. "Seniman seperti kita ini, seringkali kurang bisa diterima masyarakat," ini menurut seorang teman kepada saya sambil mengemukakan berbagai ide kontroversialnya. Eh, situ aja yang seniman, saya mah bukan. Ada juga kelompok yuppies yang ditandai dengan pendidikan luar negri dan selalu berbicara dengan tambahan bahasa Inggris di sana-sini, atau generasi gen-X, suka clubbing tapi juga memperhatikan masalah sosial, dengan pikiran bergerak cepat seperti lintasan adegan-adegan film independen.

Baiklah, mungkin globalisme cuma berarti berlimpahnya kebebasan. Anda bebas mempunyai ide dan menyatakannya, bebas melakukan apa saja, bebas menjadi apa saja. Tetapi kebebasan ternyata jauh lebih berat daripada keterikatan. Bebas berarti Anda harus siap berpikir sendiri, mengambil keputusan sendiri, dan mempertahankannya bila ternyata diprotes orang lain. Kebebasan bisa jadi berujung pada kesendirian. Nah, apakah Anda merasa bebas, atau ternyata sudah memutuskan untuk tetap terikat?

Kesimpulannya, globalisme tidak memberi kontribusi positif pada kehidupan manusia. Tunggu dulu, benarkah begitu? Tidak, globalisme adalah konsep yang sangat ideal, masalahnya ada pada manusia yang tidak sanggup menerima konsekuensinya. Bila manusia tetap saja berkelit dari kebebasan yang ditawarkan globalisme serta hanya mau memanfaatkan kemudahannya saja, maka globalisme tinggal menjadi ide utopis belaka. Ini tidak semudah memasang foto wanita kulit hitam berdampingan dengan pria kulit putih -atau sebaliknya-. Saya tidak tahu apakah ini melambangkan globalisme atau justru malah menekankan perbedaannya.

Tapi sebelum membicarakan penyelewengan makna globalisme, mungkin seharusnya saya pikirkan dulu kenyataan yang ada. Nyatanya, saya masih sering mendengar pembicaraan orang yang bocor lewat telepon rumah, SMS yang saya kirim hari Senin baru sampai hari Kamis, dan televisi masih menayangkan sinetron yang cerita dan pemainnya hampir sama. Lalu baru saja melangkahkan kaki ke luar rumah, sudah ada umpatan berdasarkan suku, agama, atau, ras. Di daerah lain, malah sedang terjadi perang mengenai hal itu.

Sedangkan si punker tadi kini sudah memotong rambutnya, berdasi, dan menjual asuransi. Si ‘anak Indie’ sedang mengikuti kuliah manajemen dan sang seniman menikahi pacarnya karena takut hidup sendiri dan menyalahi norma sosial masyarakat. Talking about reality. Saya harus salut pada ibu saya yang tetap konsisten dengan ketradisionalannya.

Jadi, bagaimana? Topik globalisme tetap tidak menarik buat saya, mungkin cara berpikir saya yang terlalu dangkal. Bagaimana kalau saya menulis tentang tips-tips pemeliharaan anjing Shih-Tzu saja sebagai gantinya? Saya punya banyak sumber informasi mengenai hal ini, lho. Tidak boleh? Atau tentang cara memecahkan password sebuah email? Apa, ilegal? Yah, mungkin lain kali saya harus datang lebih pagi ke kantor. Tapi kali ini, saya benar-benar menemui jalan buntu.

Ada yang bisa membantu? Anyone? Anybody?

July 20, 2001

[a+ magazine] Jangan Bangun Pagi-Pagi!

Burung yang bangun paling pagi mendapat lebih banyak cacing. Tapi Anda bukan burung, dan Anda pasti tidak suka cacing.

Hobi saya? Hmm... tidur. Ini cukup memalukan, soalnya jawaban ini dianggap tidak biasa. Belum lagi bila ditambah dengan cap pemalas dan tidak aktif. Tapi ini bukan mengada-ada, pada akhir pekan saya selalu menghadapi dilema antara bersosialisasi dengan teman-teman atau tidur seharian. Tough choice.

Tapi coba pikirkan dulu. Bukankah jaman dahulu manusia memang menghabiskan banyak waktu untuk tidur? Dulu manusia tak punya pilihan selain tidur setelah matahari terbenam karena tak adanya lampu, radio, maupun televisi. Penemuan listrik memang membawa banyak kemudahan pada kehidupan, tetapi sekaligus membuat manusia jadi kekurangan waktu tidur. Pada awal tahun 1900-an, waktu tidur manusia rata-rata adalah 9 jam setiap harinya, dan kini telah berkurang hingga tinggal 7 jam atau malah kurang.

Jangan menganggap remeh soal berkurangnya waktu tidur ini. Kurang tidur dapat mempengaruhi stamina, mengurangi daya ingat, memperlambat proses mental dan menyebabkan sakit kepala. Seorang ahli bedah membuat kesalahan 20 persen lebih banyak akibat kurang tidur. Ini memang hanya hasil simulasi -untunglah- tapi jangan lupa bahwa simulasi memberikan hasil yang kurang lebih sama dengan kejadian sebenarnya.

Kurang tidur juga meningkatkan resiko diabetes dan serangan jantung karena meningkatnya kadar gula darah. Bukan hanya itu, kurang tidur ternyata mempengaruhi hormon tubuh, metabolisme, dan jaringan syaraf dengan efek yang serupa dengan penuaan. Jadi, semakin kurang waktu tidur Anda, semakin cepat Anda tua. Mungkin ini yang namanya beauty sleep.

Early risers, watch out! Sebuah riset dari University of Westminster bahkan menunjukkan bahwa mereka yang bangun sebelum matahari terbit cenderung lebih tegang dan mudah marah dibandingkan mereka yang bangun pada saat matahari sudah cukup tinggi. Selain itu, para early riser ini juga lebih sulit berkonsentrasi seharian, lebih mudah terkena pilek, sakit kepala, dan kejang otot.

'Tapi saya merasa baik-baik saja, padahal cuma tidur lima jam sehari.' Mungkin Anda berkata demikian. Jangan yakin dulu, mungkin Anda belum sadar bahwa kemampuan yang Anda tunjukkan sehari-hari ternyata tidak maksimal. Anda memang bisa menjadi terbiasa dengan sedikitnya waktu tidur, tetapi Anda tak mungkin mengurangi kebutuhan tidur tersebut.

Kalau begitu, sebenarnya berapa tepatnya waktu yang dibutuhkan untuk tidur? Delapan jam adalah minimal, beberapa pakar bahkan menyarankan sembilan hingga sepuluh jam. Tapi tuntutan ini ternyata sangat sukar dipenuhi. Berbagai alasan, mulai sibuk bekerja hingga sekedar tak mau melewatkan acara larut malam di televisi menjadi penyebabnya. Untuk bangun pada jam enam pagi, Anda harus sudah di tempat tidur pada pukul sepuluh malam. Berarti harus melewatkan aksi Pamela Anderson di serial VIP, sanggupkah Anda melakukan hal itu?

Remaja sering memenuhi kekurangan waktu tidur ini dengan tidur seharian pada akhir pekan, semacam bayar utang. Tetapi semakin dewasa manusia, tidur menjadi semakin ringan dan mudah terganggu, tidur seharian hampir tak mungkin dilakukan tanpa akibat sakit kepala.

Setelah sadar akan pentingnya jumlah tidur, memaksakan diri untuk tidur lebih banyak ternyata telanjur tak mudah. Penyebabnya adalah tubuh yang telah terbiasa dengan jam tidur -walaupun kurang- itu. Dilema ini tidak bisa diatasi hanya dengan sekedar menelan sejumlah pil tidur. Masalahnya, pil tidur hanya menghasilkan tidur ringan tanpa mimpi, bukan jenis tidur yang 'bermutu'. Jadi, jalan satu-satunya adalah membiasakan tubuh kembali pada jadwal tidur yang tepat.

Ini bisa dimulai dengan membuat jam tidur yang teratur dan berusaha menepatinya. Beberapa hari pertama mungkin sulit dilakukan, tapi jangan menyerah. Berbagai teknik relaksasi bisa Anda lakukan untuk membantu tidur, misalnya minum secangkir teh chamomile hangat atau segelas susu hangat, melakukan meditasi atau yoga, mandi air hangat atau berolahraga ringan
sebelum tidur.

Tidur yang bermutu juga sangat ditunjang oleh keadaan kamar tidur serta ranjang Anda. Pastikan bahwa cukup tersedia udara di kamar tidur. Sebaiknya hawa kamar tidur terjaga agar cukup sejuk, tetapi tidak terlalu dingin, hangat, apalagi panas. Jangan meremehkan kenyamanan tempat tidur Anda, ingatlah bahwa Anda akan menghabiskan kira-kira 100 hari dalam setahun di tempat tidur. Ranjang yang kokoh, kasur yang tidak terlalu empuk atau terlalu keras, sprei yang bersih dan terbuat dari bahan yang menyerap keringat. Saat bangun di pagi hari, mungkin Anda tak akan ingat bila tidur Anda terganggu, tetapi akibatnya akan sama saja dengan bila Anda tak tidur.

Keadaan gelap sangat membantu mudahnya Anda tertidur. Rata-rata manusia tertidur 15 menit setelah lampu dimatikan. Tetapi sedikit musik tenang boleh juga menjadi pilihan pengantar tidur. Jangan salah pilih musik, walaupun Bonnie and Clyde-nya Eminem memiliki irama yang cukup tenang, apalagi ditambah suara bayi yang lucu, tetapi liriknya bisa dipastikan
akan mengganggu tidur Anda, apalagi setelah bunyi ceburan di air itu. Karena itu -tak bisa disangkal lagi- musik klasik tetap menjadi pilihan utama, selain iramanya yang menenangkan, juga tak ada suara penyanyi yang bisa menarik perhatian.

Saya tahu Anda tak mudah percaya kata-kata saya. Tapi coba buktikan dengan tidur satu jam lebih awal setiap hari selama seminggu, dan rasakan peningkatan kemampuan Anda. Bila ternyata tak terjadi apa-apa, baiklah, lupakan saja bahwa Anda pernah membaca tulisan ini. Percayalah, ini sama sekali bukan alasan untuk membenarkan hobi tidur saya sendiri. Einstein
saja tidur 11 jam setiap hari, dan lihat apa hasilnya: e=mc2. Can you beat that?


Boks:

Tidur: Ini Soal Fakta

  • Rata-rata manusia menghabiskan sepertiga hidupnya untuk tidur. Mulailah menganggap tidur sebagai bagian penting dari kehidupan Anda.
  • Kalori yang terbakar pada saat Anda tidur lebih banyak dibandingkan saat menonton televisi.
  • Lima tahapan tidur adalah 1) tidur 'ayam' 2) tidur ringan 3) peralihan dari tidur ringan ke tidur nyenyak 4) tidur nyenyak 5) REM (Rapid Eye Movement), tidur dengan mimpi
  • Tahapan REM memperbaiki kondisi mental, sedangkan non-REM memperbaiki kondisi tubuh.
  • Anak berumur empat tahun rata-rata bermimpi 3-4 jam, yang semakin berkurang seiring bertambahnya usia hingga menjadi 100-120 menit setiap malamnya.
  • Semua orang bermimpi pada saat tidur, ada yang bisa mengingat mimpinya, ada yang tidak.
  • Mendengkur saat tidur sama sekali bukan tanda tidur nyenyak. Ini menandakan adanya gangguan pada saluran pernapasan, dan bahkan menandakan tidur yang kurang 'bermutu.
  • Bila tubuh terasa letih saat bangun pagi, ini menandakan kualitas tidur yang tidak baik. Mungkin ada sesuatu yang membuat tidur Anda tak nyaman.
  • Kopi, rokok, dan alkohol dapat menimbulkan gangguan tidur dan menyebabkan Anda mudah terbangun.
  • Rasa aman sangatlah penting sebagai jaminan tidur bermutu. Rasa kurang aman di rumah sendiri akan memaksa Anda untuk tidur dengan 'satu mata terbuka, dus bukan tidur yang nyenyak.

June 20, 2001

[a+ magazine] How Do I Look?

Saya menerima wajah saya apa adanya. Masa? Yang penting hatinya baik. Masa? Saya tidak peduli pada fisik. Ah, masa?

Acara saya malam itu adalah menonton Miss Universe 2001 di televisi bersama dua orang teman. Begitulah, sederetan wanita cantik memperkenalkan diri satu-persatu, sedangkan saya dan teman-teman memberikan komentar seperti 'Nah, yang itu cantik!' dan 'Ah, lewat, lewat...' atau 'Yaah... boleh, boleh.' Lalu sang pembawa acara, Naomi Campbel, mengajukan pertanyaan 'What is the biggest misconception about beauty?' Sambil tersenyum standar ratu kecantikan,
Miss Venezuela menjawab, 'Seringkali kecantikan itu hanya dinilai dari luarnya saja, padahal cantik yang sebenarnya berasal dari dalam hati, inner beauty.'

Saya jadi ingin tertawa. Ha, ha, ha. Bayangkan saja, yang bertanya adalah supermodel (pekerjaan dengan kategori fisik tertentu), yang menjawab Miss Venezuela (terpilih karena kategori fisik tertentu), konteksnya Miss Universe 2001 (kriterianya adalah kategori fisik tertentu), dan kesimpulan akhirnya adalah inner beauty lebih berarti daripada outer beauty! Bukan, bukan pernyataan itu yang saya tertawakan, tetapi keseluruhan peristiwa itu, yang tak ubahnya sandiwara di mana semua orang bersandiwara dan tahu bahwa orang lain juga bersandiwara.

Inner beauty itu apa? Seorang rekan kerja saya yang tercinta pernah mendiskusikan inner beauty secara berapi-api. Kalau saya tak salah tangkap, buat dia, inner beauty adalah bohong belaka. Seseorang hanya bisa disebut cantik kalau secara fisik dia tampak menarik. Biarpun hatinya baik, tapi kalau secara fisik tak menarik, ya berarti tidak cantik. Setuju! Lho, bukannya arogan atau apa, kita kan bicara soal cantik, bukan hati yang baik. Cantik ya cantik, baik ya baik.
Kedua hal itu sama sekali berbeda. Jadi inner beauty itu sebenarnya hanyalah pengungkapan eufemisme untuk membesarkan hati mereka yang secara fisik tidak cantik tetapi tetap ingin disebut cantik juga.

Rupanya di sinilah letak inti permasalahan kita, keinginan untuk disebut cantik sesuai konsep yang diterima saat ini. Hal ini semakin sulit dipenuhi karena konsep kecantikan yang disebar-luaskan melalui media massa nampaknya semakin tidak membumi. Sosok cantik dan tampan berserakan di halaman majalah, televisi, billboard, dan iklan. Ke mana pun mata memandang, nampaklah sosok yang sebegitu indah fisiknya itu. Padahal -tentu saja- mereka bukan orang
yang biasa ditemui di jalanan. Mereka sudah dipilih dari sekian banyak calon model yang semuanya indah secara fisik. Mereka berolahraga secara teratur, penampilan akhir mereka adalah rekaan penata rias dan rambut profesional. Hasil akhirnya masih bisa di-retouch dengan kecanggihan komputer.

Tetapi di layar kaca atau halaman majalah, mereka muncul sebagai ibu rumah tangga biasa atau karyawan biasa, sehingga menimbulkan perasaan bahwa mereka sama saja seperti orang biasa. Dan semua itu membuat seseorang bisa menganggap mereka sebagai saingan tak ubahnya tetangga sendiri. Konsep kecantikan rekaan seperti ini sebenarnya hanyalah taktik bisnis paling
berhasil dalam sejarah perindustrian.

Untuk nampak lebih cantik dan menarik, kita dianjurkan untuk menggunakan conditioner tertentu atau menggunakan merek make-up tertentu. Dengan lihainya, produsen memanfaatkan keinginan dasar manusia untuk dibutuhkan dan menawarkan solusinya. Kaum feminis menyalahkan pria dan masyarakat yang patriarkal atas hal ini. Kaum sosialis menyalahkan kapitalisme dan industri periklanan. Apa sebenarnya yang terjadi? Mengapa pria dan wanita saat ini menjadi lebih terobsesi pada keinginan untuk tampil menarik? Mengapa
mereka percaya bahwa dengan menjadi cantik dan menjadi menarik adalah jawaban semua masalah?

Karena hal itu memang benar, paling tidak pada jaman dahulu kala. Ketika manusia masih hidup di jaman batu, kulit yang nampak bersinar, rambut mengkilat, dan tubuh indah merupakan penanda bahwa pemiliknya sehat, dan ini berarti kemampuannya bertahan hidup lebih besar. Pada masa itu, semakin besar kemampuan bertahan hidup seseorang, semakin besar eluangnya mendapatkan pasangan. Kebutuhan dasar manusia -dan semua makhluk hidup lainnya- adalah bereproduksi, dan saat itu semua manusia dengan jujur mengakui memiliki kebutuhan itu. Manusia modern mungkin dengan pintarnya sudah membuat berbagai excuse untuk mengingkari hal itu.

Inilah alasan utama -atau awal- wanita untuk tampak cantik, dan pria untuk tampak kuat dan tampan. Kecemasan berlebihan untuk tampak menarik sebenarnya berakar pada keinginan untuk melanjutkan keturunan. Bila tak menarik, berarti tak dibutuhkan. Bila tak dibutuhkan, berarti tak punya pasangan untuk bereproduksi. Reproduksi. As simple as that.

Jadi sebenarnya, penampilan fisik hanyalah sebuah tolok ukur untuk menilai besarnya kemampuan bertahan hidup seseorang. Lalu datanglah peradaban. Kemajuan teknologi membuat kemampuan bertahan hidup semua orang meningkat, yang tidak sehat bisa disehatkan oleh kemajuan ilmu kesehatan. Dan kecantikan jadi kehilangan alasan, sedangkan kebiasaan manusia untuk ingin tampil cantik masih tetap ada.

Dulu manusia mencari pembanding dengan melihat sekelilingnya. Batasan biasa-biasa mudah ditemui dengan melihat para penghuni lain dalam habitat hidupnya. Tetapi sekarang, batasan biasa-biasa ini sulit sekali dicari, terutama setelah melihat televisi atau majalah yang mengetengahkan orang-orang biasa yang sebenarnya tidak biasa itu.

Di film, Alicia Silverstone adalah murid SMU biasa, George Clooney adalah dokter di rumah sakit umum, dan Bella Saphira adalah seorang ibu dengan anak remaja. Tidak heran, banyak orang yang sebenarnya tak punya masalah dengan fisiknya, mengaku-aku jelek dan tidak menarik, lalu mulai mencari jalan untuk memperbaiki fisik. Bedah plastik lalu menjadi pilihan.

Padahal sebenarnya bedah plastik dikembangkan untuk membantu mereka yang benar-benar memiliki kekurangan -bahkan kelainan- fisik. Bila usia sudah empatpuluhan, maka Anda melakukan facelift untuk menarik keriput di muka. Pernahkah terpikir bahwa keriput yang seperti itu memang sudah sewajarnya ada di usia empatpuluhan?

Yang paling hebat adalah breast implant. Menurut saya, ini adalah jenis bedah plastik yang sama sekali tidak ada gunanya, kecuali bagi mereka yang menjalani pengangkatan payudara. Tetapi ternyata breast implant termasuk jenis bedah plastik yang paling banyak dibicarakan, diangkat sebagai polemik, dan tiap beberapa waktu, muncullah komentar ahli yang membahas jenis implan baru dan menjelaskan bahayanya implan lama (yang tentunya sudah terpasang di dada ribuan wanita).

Tak kalah populernya adalah rhinoplasty atau pembentukan hidung. Anda pasti sudah sering melihat buktinya berupa hidung Eropa yang mancung di wajah para wanita Indonesia yang bulat. Pembentukan hidung termasuk bedah plastik yang hasilnya nampak jelas, jadi saya kadang-kadang heran bila ada wanita yang menampik keras dugaan bahwa hidungnya hasil bedah plastik sambil menambahkan bahwa hidungnya yang nampak berubah itu hanya karena ia berganti penata rias. Ini dualisme yang hampir selalu muncul, mau menjalani bedah plastik, tetapi nampaknya malu untuk mengakuinya. Mungkin takut dianggap terlahir kurang menarik?
Tetapi yang paling menyedihkan, adalah bila mereka yang tak berkantong cukup tebal juga memaksakan diri untuk mengikuti kemajuan teknologi ini. Tidak ada bedah plastik yang murah, bila ada, lebih baik tidak dipercaya. Saya tidak akan menceritakan mengenai betapa buruknya hasil bedah plastik sembarangan ini, contohnya sudah cukup banyak. Sayangnya, -mungkin- belum cukup banyak.

Bila dipikir lagi, kalau cuma karena keinginan bereproduksi, kok dagu Anda sampai harus disuntik silikon agar nampak lebih panjang? Percaya sajalah bahwa Anda ini menarik, kalau pun tidak cantik atau tampan, yang penting tubuh Anda sehat, dan paling tidak hati Anda baik. Kalau jaman dulu manusia hanya dinilai dari kemampuannya bereproduksi, mungkin jaman sekarang inner beauty bisa dipertimbangkan, bukan?

So, honey, how do I look? (Say beautiful or else)

June 18, 2001

[a+ magazine] It's A Louis Vuitton Party

Dua hari di Malaysia, diakhiri dengan malam pesta di gedung sekolah. Wanna party? Ask these people.

"Kamu menginap di mana?"

"Ritz-Carlton Hotel," jawab saya.

"Wah, mana cukuplah uang kamu!" sergah sang petugas imigrasi KLIA (Kuala Lumpur International Airport) yang bertubuh tinggi besar dan berkumis melintang itu.

Oooh... rupanya inilah duduk permasalahannya hingga mereka menyuruh saya pergi ke kantor imigrasi dan melakukan perbincangan di atas dengan petugas imigrasi setelah disuruh menunggu hampir satu jam lamanya tanpa alasan yang jelas. Pada awalnya adalah petugas
imigrasi di counter yang -entah karena keisengan apa- menanyakan tentang berapa uang tunai yang saya bawa. Sebagai seseorang yang jujur, tentu saja saya jawab dengan jujur.

Menghadapi sergahannya, dengan gesitnya saya segera membuka tas untuk mengeluarkan undangan dari Louis Vuitton sekaligus mengeluarkan kartu-kartu kredit dan debet dari dalam dompet.

"Saya wartawan, datang ke sini atas undangan dari Louis Vuitton, ini undangannya. Selain itu saya juga memiliki sejumlah kartu kredit serta kartu debet yang diterbitkan oleh bank terkemuka dan berlaku secara internasional (hua ha ha...)."

Sambil menghirup udara kebebasan -mungkin hampir seperti inilah perasaan napi pada hari pertama kebebasan, oh maaf, berlebihan ya?- saya melangkah keluar. Kemunculan saya disambut dengan gerakan melambai yang bersemangat oleh Vissia Milana dari majalah Female Indonesia, disusul oleh Cicilia King dari Louis Vuitton dan Nanda dari majalah Dewi. Seperti biasa, dengan lagak marah-marah, saya menceritakan kejadian tersebut kepada rekan-rekan yang sudah kebingungan itu. Ridiculous. Tidak mungkin dong saya berkunjung ke luar negri hanya membawa sejumlah tunai tanpa jaminan apa pun.

Akhirnya sampai juga saya di Malaysia. Negara yang sudah lama ingin saya kunjungi, justru karena begitu miripnya dengan negri sendiri. Insiden di atas justru semakin mempererat hubungan kemiripan tersebut. Menunggu dipanggil saat di kantor imigrasi tersebut hampir sama rasanya seperti menunggu dipanggil di kantor kelurahan waktu membuat KTP, saya jadi tidak sempat merasa homesick.

Di pintu bandara, kami berpisah dengan Cicilia yang menginap terpisah di Hotel Regent. Setelah memastikan janji-janji untuk bertemu nanti sore, maka berangkatlah saya, Vissia, dan Nanda ke Ritz-Carlton Hotel. Perjalanan dari bandara ke hotel ternyata memakan waktu lebih lama dari penerbangan Jakarta-Kuala Lumpur. Saya terlelap sesaat, diiringi lagu Sephia dari Sheila on 7 (berjayalah Yogyakarta).

Anyway, kedatangan saya adalah untuk menghadiri pembukaan Louis Vuitton Starhill New-Concept Store di Starhill Shopping Centre yang disusul dengan pesta di Bukit Bintang Girls' School. A Louis Vuitton party? Berdasarkan beberapa pengalaman sebelumnya, saya yakin bahwa pesta ini akan berlangsung seru. I knew these LV people.

Malam pertama di Kuala lumpur diisi dengan dinner di sebuah restoran Thailand, Rama V, bersama para jurnalis lain dari Singapura. Tigabelas orang duduk lesehan di seputar meja persegi, makanan lezat, dan entah kenapa hanya memiliki tiga subyek pembicaraan yang diulang-ulang: bedah plastik, go-go boys, dan cerita hantu. Subyek yang terakhir ini ditentang keras oleh Cicilia King dengan menyumbat telinga rapat-rapat sepanjang pembicaraan bertema hantu.

Esoknya, setelah makan siang di Sentidos Tapas, restoran Mexico tak jauh dari butik, kami menghadiri press conference di Louis Vuitton Store di Starhill. Menapakkan kaki di parquette floor butik berlantai dua itu, saya jadi agak-agak iri. Bukan karena ingin rumah seperti itu, tapi karena di Indonesia -Plaza Senayan-, butik Louis Vuitton hanya satu lantai dan tidak menyediakan koleksi busana rancangan Marc Jacobs seperti di Kuala Lumpur. Butik ini merupakan yang ke-delapan di Asia Pasifik, setelah tiga di Hong Kong, dan masing-masing di Taiwan, Sidney, Singapura, dan Korea. Please, please let Jakarta be the next... hey, I need to shoot some fashion pages.

Tiga pasang model muncul membawakan koleksi ready-to-wear, sepatu, dan aksesori. Pasang mata baik-baik pada grafitti line-nya, the hottest items in town. Menurut Mr. Hugues Witvoet, President dari LVMH Fashion Group Asia Pasifik, ini merupakan gebrakan cerdas Marc Jacobs atas keklasikan Louis Vuitton untuk menarik pelanggan baru dari golongan usia lebih muda sekaligus mempertahankan pelanggan lama.

Malam akhirnya menjelang. Time to party. Sebelumnya, makan malam dulu di restoran Pickled Ginger. Saya bertemu lagi dengan ibu Inka Utan, General Manager Louis Vuitton Indonesia, yang baru tiba sore itu dari Jakarta. Pertemuan sebelumnya terjadi sewaktu saya masih bekerja untuk majalah Dewi.

Dinner ended abruptly. Karena sudah jam sembilan, kami melewatkan dessert dan segera melangkahkan kaki cepat-cepat ke Louis Vuitton Store. Starhill Shopping Centre sudah penuh manusia. Di lantai bawah, ada makhluk besar berbentuk kupu-kupu dengan Monogram logo di sayapnya (sebenarnya the Butterfly Man dari Australia ini adalah manusia yang berdiri di atas
egrang sambil membentangkan sayap kain yang besar sekali). Kami menukarkan undangan dengan gelang Louis Vuitton yang harus dikenakan sebagai tanda undangan.

Tiba-tiba terjadi desakan massa, rupanya seorang selebriti baru saja datang dan para wartawan foto menyeruak ke depan bersamaan. Tanpa bisa melihat wajahnya, saya diberi tahu bahwa yang baru tiba adalah Tony Leung, aktor Hong Kong terkenal. Saya mulai kehabisan nafas, dan memilih untuk bersandar ke dinding. Sheila Madjid melintas cepat di depan mata, bersama make-up artist-nya dan beberapa orang lagi. Rambutnya bermodel bob sekarang. Lalu pemandangan saya tertutup oleh serombongan pria berbusana ketat dan transparan.

That's it. I'm leaving. Kami berempat -kembali ke formasi awal di bandara- memutuskan untuk pergi ke tempat pesta daripada berdesakan tanpa berbuat dan melihat apa-apa. Tempat yang digunakan untuk pesta berada di seberang Starhill, yaitu sebuah sekolah yang baru saja ditutup karena dipindahkan. Picture this: rombongan manusia dalam dandanan pesta, menyeberang jalan pada jam sepuluh malam dari sebuah pusat perbelanjaan ke sebuah sekolah, dibantu oleh petugas lalu-lintas yang memegang stopper dengan stop sign di satu sisi dan Monogram logo di baliknya, serta tiga ekor anjing German Shepherd. It's surreal.

Bukit Bintang Girls' School benar-benar berbentuk sekolah tempo dulu dengan kelas-kelasnya. Ruangan pertama yang saya masuki berdinding gelap, dengan lampu ultraviolet di sana-sini. Tiga buah kotak acrylic raksasa berisikan para model Louis Vuitton, sedangkan di bagian tengah ruangan, seorang contortionist dari New York beraksi meliuk-liukkan tubuh secara tidak masuk akal di atas panggung. Monogram logo tercetak samar di tubuh dan kepalanya yang tak berambut. Gelas-gelas champagne dan wine tak berhenti ditawarkan.

Kegerahan, saya keluar dari ruang gelap itu dan berjalan di lorong sekolahan yang ditutupi kain
berwarna oranye. Lorong itu penuh dengan para tamu yang sedang makan Chinese food dalam kotak karton dengan sumpit. Detik berikutnya, saya sudah berada di sebuah ruangan dengan cermin menutupi dinding. Di dalamnya ada sofa-sofa, dan orang-orang yang duduk sambil makan, ngobrol, atau bengong sama sekali, serta musik berdentam-dentam. Cahaya yang cuma sedikit membuat saya tak bisa mengira-ngira seluas apa ruangan itu, dan apakah manusia di dalamnya memang sebanyak kesan yang saya tangkap atau hanya pantulan yang dipantulkan lagi oleh dinding cermin.

Kembali ke dark blue room, seorang penyanyi wanita berkulit hitam naik ke atas panggung dan menyuarakan lagu-lagu jazz. Setelah nyanyian dengan suara bertenaga itu, musik kembali diambil alih oleh DJ dengan dance music. Para tamu kembali berdansa dengan bersemangat, tak peduli pada panasnya ruangan. Champagne kembali beredar, tak kurang dari 1000 botol
Moet & Chandon dibuka malam itu.

Lewat tengah malam, kami memutuskan untuk keluar ruangan. Saya menghirup udara segar di halaman sekolah, lalu makan dua mangkuk kecil sorbet yang diedarkan untuk mendinginkan suasana pesta. Beberapa buah corong di atap sekolah menghembuskan uap air setiap beberapa puluh detik. Saya, Vissia, dan Nanda berjalan kaki ke hotel, pesta masih berlangsung meriah
di belakang kami, dan di sepanjang jalan ada beberapa orang yang sedang tidur atau bengong kebanyakan minum. Karena esoknya harus pulang dengan penerbangan pagi, kami tak bisa terus tinggal untuk pesta yang kabarnya baru usai pukul setengah lima pagi itu.

These Louis Vuitton people. They really know how to party.