Shampoo dan conditioner two-in-one, lipstick dan blush-on two-in-one, handphone dan PDA two-in-one. Aksesori pun bisa two-in-one.
Hidup di jaman serba cepat, apalagi di tengah kesibukan kota, semuanya memang harus serba praktis dan cepat. Kalau bisa, semua benda harus difungsikan untuk beberapa hal sekaligus, dari shampoo dan berbagai peralatan make-up yang two-in-one, peralatan rumahtangga seperti sofabed yang dwifungsi, perlengkapan teknologi seperti handphone dengan berbagai fungsi terintegrasi, sampai ke kereta bayi yang bisa difungsikan menjadi ayunan bayi. Bila perlu, manusia-manusianya pun harus serba multi talenta.
Kecenderungan ini ditanggapi dengan cepat oleh Frank & co. Jewellery, yang awal tahun ini memperkenalkan inovasi barunya dalam desain perhiasan berlian. Bentuknya cukup simpel, outline berbentuk hati dari emas putih dan hati yang lebih kecil berwarna keemasan di dalamnya. Keseluruhannya dihiasi dengan taburan berlian. Tetapi bentuk yang minimalis itu justru membuatnya tepat untuk pemakaian sehari-hari. Dikenakan bersama busana bergaya formal untuk ke kantor atau busana kasual sehari-hari, aksesori ini pun takkan nampak berlebihan.
Yang unik adalah kemampuannya untuk berubah fungsi. Mungkin kita akan bingung mengkategorikan perhiasan baru ini, diletakkan di tempat cincin atau leontin? Desain baru ini memang two-in-one, cincin sekaligus leontin. Proses perubahannya dari cincin ke liontin tak rumit, hanya tinggal menyelipkan seuntai rantai emas pada tempat yang tersedia. Bila sudah bosan dengan kalung ini, simpan rantainya, lalu selipkan di jari, maka jadilah cincin berbentuk hati.
Desain unik ini memang tepat dalam menyiasati masalah sempitnya waktu dan kecepatan hidup para wanita di kota besar. Tanpa perlu membawa beberapa jenis aksesori, penampilan berbeda bisa diperoleh hanya dengan menambahkan atau mengurangi rantai emas. Siapa tahu, hal ini bisa menjadi ide untuk menciptakan berbagai aksesori multi fungsi lainnya. Cincin yang bisa menjadi bros? Leontin yang mampu berubah menjadi anting-anting? Atau jepit rambut yang bisa difungsikan menjadi charm bracelet?
Bagi para pria yang senang menyenangkan pasangannya dengan kejutan-kejutan manis, desain unik ini menjadi alternatif menarik. Kecil mungil, indah, dan dwifungsi, lengkapi dengan ucapan ‘Any other way you wear this, I love you still’. Cukup melelehkan perasaan, bukan?
May 19, 2005
[dewi magazine] Pernikahan Tenang di Grand Hyatt (advertorial)
Mengadakan pesta pernikahan memang bisa diadakan di mana saja, tetapi alangkah senangnya jika bisa mengadakan pesta tanpa pusing kepala.
Karena –biasanya- hanya terjadi sekali seumur hidup, sebuah pernikahan selalu diharapkan akan menjadi perayaan paling berkesan. Tetapi banyaknya detail yang harus dipersiapkan seringkali membuat calon pengantin bingung. Dari tempat yang harus dipersiapkan, dekorasi dan bunga, menu pesta, mobil pengantin, kue pengantin, buket, dan masih banyak lagi.
Untungnya, kini telah begitu banyak pilihan paket pernikahan yang bisa disesuaikan dengan keinginan maupun budget yang tersedia. Salah satu penyedia paket ini adalah Grand Hyatt Jakarta. Letak hotelnya sendiri sudah merupakan suatu kelebihan, di pusat kota Jakarta, menyambung dengan pusat perbelanjaan Plaza Indonesia. “Kalau mau mencari apapun, mau melakukan touch-up, semua mudah dilakukan karena dekat dengan Plaza Indonesia, “ jelas Ita R. Sutidjan, Associate Director of Catering Sales Grand Hyatt.
Selain lokasi yang strategis, Grand Hyatt juga menyediakan dua ruangan, Ballrooom dan Krakatau Room, tergantung jumlah tamu yang akan diundang. Masing-masing ruang ini pun memiliki paket pernikahan sendiri-sendiri –dari menu, kamar pengantin, hingga ice carvings- yang mudah disesuaikan dengan keinginan dan kondisi calon pengantin.
Untuk jumlah tamu 200 hingga 600 orang, Krakatau Room lebih tepat karena ukurannya yang lebih kecil dan akrab. Sedangkan untuk jumlah tamu di atas 600 orang, Ballroom merupakan pilihan yang lebih tepat. Dan bila jumlah tamu melebihi 1200 orang, ballroom ini pun bisa dibuka hingga ke Krakatau Room.
“Salah satu kelebihan wedding package di Grand Hyatt adalah sifatnya yang fleksibel dan all-in, semuanya tersedia. Di sini ada in-house florist yang membatu pengadaan bunga dan dekorasi, in-house pastry untuk kue pengantin, juga ada mobil pengantin dan peliputan acara,” lanjut Ita.
Auliana Dion, Floral Designer Grand Hyatt menjelaskan bahwa dekorasi dan bunga tentu disiapkan sesuai dengan keinginan calon pengantin. Bahkan bila calon pengantin ingin mengganti jenis dan warna bunga dengan yang lain, Grand Hyatt akan membantu mencarikan dengan harga khusus.
Tak berhenti sampai di pesta pernikahan saja, Grand Hyatt bisa membantu rencana berbulan madu. Dewi Damayanti, Assistant Public Relations Manager, menjelaskan, “Dengan jaringan di seluruh dunia, hotel maupun resort, Hyatt bisa memberikan harga maupun paket khusus untuk berbulan madu.
Bila segala kerumitan dan pernak-pernik pesta sudah terurus, tentu pikiran pun menjadi lebih tenang. Dan mudah-mudahan pernikahannya pun akan setenang pestanya.
Karena –biasanya- hanya terjadi sekali seumur hidup, sebuah pernikahan selalu diharapkan akan menjadi perayaan paling berkesan. Tetapi banyaknya detail yang harus dipersiapkan seringkali membuat calon pengantin bingung. Dari tempat yang harus dipersiapkan, dekorasi dan bunga, menu pesta, mobil pengantin, kue pengantin, buket, dan masih banyak lagi.
Untungnya, kini telah begitu banyak pilihan paket pernikahan yang bisa disesuaikan dengan keinginan maupun budget yang tersedia. Salah satu penyedia paket ini adalah Grand Hyatt Jakarta. Letak hotelnya sendiri sudah merupakan suatu kelebihan, di pusat kota Jakarta, menyambung dengan pusat perbelanjaan Plaza Indonesia. “Kalau mau mencari apapun, mau melakukan touch-up, semua mudah dilakukan karena dekat dengan Plaza Indonesia, “ jelas Ita R. Sutidjan, Associate Director of Catering Sales Grand Hyatt.
Selain lokasi yang strategis, Grand Hyatt juga menyediakan dua ruangan, Ballrooom dan Krakatau Room, tergantung jumlah tamu yang akan diundang. Masing-masing ruang ini pun memiliki paket pernikahan sendiri-sendiri –dari menu, kamar pengantin, hingga ice carvings- yang mudah disesuaikan dengan keinginan dan kondisi calon pengantin.
Untuk jumlah tamu 200 hingga 600 orang, Krakatau Room lebih tepat karena ukurannya yang lebih kecil dan akrab. Sedangkan untuk jumlah tamu di atas 600 orang, Ballroom merupakan pilihan yang lebih tepat. Dan bila jumlah tamu melebihi 1200 orang, ballroom ini pun bisa dibuka hingga ke Krakatau Room.
“Salah satu kelebihan wedding package di Grand Hyatt adalah sifatnya yang fleksibel dan all-in, semuanya tersedia. Di sini ada in-house florist yang membatu pengadaan bunga dan dekorasi, in-house pastry untuk kue pengantin, juga ada mobil pengantin dan peliputan acara,” lanjut Ita.
Auliana Dion, Floral Designer Grand Hyatt menjelaskan bahwa dekorasi dan bunga tentu disiapkan sesuai dengan keinginan calon pengantin. Bahkan bila calon pengantin ingin mengganti jenis dan warna bunga dengan yang lain, Grand Hyatt akan membantu mencarikan dengan harga khusus.
Tak berhenti sampai di pesta pernikahan saja, Grand Hyatt bisa membantu rencana berbulan madu. Dewi Damayanti, Assistant Public Relations Manager, menjelaskan, “Dengan jaringan di seluruh dunia, hotel maupun resort, Hyatt bisa memberikan harga maupun paket khusus untuk berbulan madu.
Bila segala kerumitan dan pernak-pernik pesta sudah terurus, tentu pikiran pun menjadi lebih tenang. Dan mudah-mudahan pernikahannya pun akan setenang pestanya.
[dewi magazine] Pengantin Fashionable di Bridal Image (advertorial)
Sama-sama putih, sama-sama gaun pengantin. Tetapi ada yang berbeda di Bridal Image.
Sebagai pusat perhatian semua orang di hari pernikahan, penampilan seorang pengantin merupakan salah satu hal terpenting. Karena itu, pemilihan gaun pengantin yang tepat menjadi faktor utama yang perlu diperhatikan. Berbagai faktor, seperti bentuk tubuh, tema pesta pernikahan, keinginan pribadi, bahkan trend fashion, menjadi pertimbangan dalam memilih gaun pengantin yang tepat.
Rumitnya pemilihan gaun pengantin ini rupanya disadari oleh Bridal Image, penyedia gaun pengantin yang merupakan bagian dari King Foto Group. “Semua wanita tentu punya impian yang ingin diwujudkan di hari pernikahan,” ungkap Tresia, Bridal Designer dari Bridal Image. “Bridal Image hanya membantu mewujudkan impian itu dengan memberikan konsultasi gaun pengantin yang sesuai dengan individunya maupun tema pestanya.”
Gaun-gaun pengantin yang disediakan pun tak melulu putih atau mengembang di bawah seperti yang selama ini dikenal. Mira Y. Leonardi, Director Bridal Image menjelaskan, “Kami ingin memberikan alternatif pilihan yang lebih fashionabIe.” Tresia melanjutkan bahwa Bridal Image ingin memperkenalkan gaun-gaun pengantin yang lebih modis dan tidak membosankan. Gaun putih pengantin bisa saja disandingkan dengan aksesori yang bersifat etnik. Gaun pengantin juga bisa saja tidak putih atau tidak panjang. Karena kecenderungannya yang kuat pada trend, Bridal Image senantiasa melakukan update agar gaun-gaun pengantinnya tak pernah ketinggalan mode.
Selain memproduksi sendiri berbagai gaun pengantin yang bersifat individual –yang bisa disewa maupun dibeli-, Bridal Image juga bekerjasama dengan Cymbeline dari Paris untuk gaun-gaun yang bersiluet lebih simpel. Semua pilihan itu masih bisa dimodifikasi bentuknya, maupun diberi berbagai tambahan kristal dan sulaman sesuai dengan keinginan pengantin. Agar sejalan, gaun-gaun dengan tema sama juga bisa disediakan untuk pengiring pengantin, ibu sang pengantin, hingga ke para penerima tamu.
Unsur fashion bukanlah satu-satunya kelebihan dalam memesan gaun pengantin di Bridal Image. Karena merupakan anak perusahaan dari King Foto Group, memesan gaun pengantin di sini juga bisa dibarengi dengan pemesanan pre-wedding dan wedding photo, peliputan, bahkan mobil pengantin, kartu undangan, restoran dan lain-lain. Mira menjelaskan bahwa King Foto juga bisa bertindak sebagai wedding organizer dengan berbagai pilihan paket sesuai keinginan, kondisi, maupun budget. Dengan begitu banyaknya layanan yang tersedia, Bridal Image cukup layak dinamai one stop wedding gallery.
Sebagai pusat perhatian semua orang di hari pernikahan, penampilan seorang pengantin merupakan salah satu hal terpenting. Karena itu, pemilihan gaun pengantin yang tepat menjadi faktor utama yang perlu diperhatikan. Berbagai faktor, seperti bentuk tubuh, tema pesta pernikahan, keinginan pribadi, bahkan trend fashion, menjadi pertimbangan dalam memilih gaun pengantin yang tepat.
Rumitnya pemilihan gaun pengantin ini rupanya disadari oleh Bridal Image, penyedia gaun pengantin yang merupakan bagian dari King Foto Group. “Semua wanita tentu punya impian yang ingin diwujudkan di hari pernikahan,” ungkap Tresia, Bridal Designer dari Bridal Image. “Bridal Image hanya membantu mewujudkan impian itu dengan memberikan konsultasi gaun pengantin yang sesuai dengan individunya maupun tema pestanya.”
Gaun-gaun pengantin yang disediakan pun tak melulu putih atau mengembang di bawah seperti yang selama ini dikenal. Mira Y. Leonardi, Director Bridal Image menjelaskan, “Kami ingin memberikan alternatif pilihan yang lebih fashionabIe.” Tresia melanjutkan bahwa Bridal Image ingin memperkenalkan gaun-gaun pengantin yang lebih modis dan tidak membosankan. Gaun putih pengantin bisa saja disandingkan dengan aksesori yang bersifat etnik. Gaun pengantin juga bisa saja tidak putih atau tidak panjang. Karena kecenderungannya yang kuat pada trend, Bridal Image senantiasa melakukan update agar gaun-gaun pengantinnya tak pernah ketinggalan mode.
Selain memproduksi sendiri berbagai gaun pengantin yang bersifat individual –yang bisa disewa maupun dibeli-, Bridal Image juga bekerjasama dengan Cymbeline dari Paris untuk gaun-gaun yang bersiluet lebih simpel. Semua pilihan itu masih bisa dimodifikasi bentuknya, maupun diberi berbagai tambahan kristal dan sulaman sesuai dengan keinginan pengantin. Agar sejalan, gaun-gaun dengan tema sama juga bisa disediakan untuk pengiring pengantin, ibu sang pengantin, hingga ke para penerima tamu.
Unsur fashion bukanlah satu-satunya kelebihan dalam memesan gaun pengantin di Bridal Image. Karena merupakan anak perusahaan dari King Foto Group, memesan gaun pengantin di sini juga bisa dibarengi dengan pemesanan pre-wedding dan wedding photo, peliputan, bahkan mobil pengantin, kartu undangan, restoran dan lain-lain. Mira menjelaskan bahwa King Foto juga bisa bertindak sebagai wedding organizer dengan berbagai pilihan paket sesuai keinginan, kondisi, maupun budget. Dengan begitu banyaknya layanan yang tersedia, Bridal Image cukup layak dinamai one stop wedding gallery.
May 15, 2005
[dewi magazine] ‘Keberuntungan’ Musim Semi
Anda percaya pada keberuntungan? Ada kepik dan semanggi berdaun empat, pertanda keberuntungan yang akan mengikuti Anda ke manapun juga.
Musim semi telah tiba! Berbagai informasi trend musim semi 2005 pun berdatangan dari pusat-pusat mode dunia, Paris, Milan, London, Tokyo. Untungnya Indonesia selalu dianugerahi sinar matahari yang berlimpah sepanjang masa, karena itu para pecinta mode bisa tetap mengenakan unsur-unsur trend musim semi sepanjang tahun.
Berinspirasikan keberuntungan alam, koleksi musim semi Coccinelle didominasi berbagai warna daun dan turunannya –berbagai hijau daun, orange dan cokelat kekuningan-, serta motif-motif bunga dan daun.
Seperti halnya semua koleksi Coccinelle yang senantiasa klasik, koleksi musim semi memang tak ditujukan untuk mereka yang ingin menghabiskan malam untuk berpesta, tetapi dirancang untuk dipakai sehari-hari. Unsur kenyamanan dan ketahanan merupakan hal yang sangat penting, karena itu bahan kulit yang digunakan telah diolah sedemikian rupa sehingga selalu lembut namun bertahan pada bentuknya. Koleksi tas ini mampu mewadahi keperluan sehari-sehari seorang wanita, dari dompet make-up hingga buku bacaan, tanpa kehilangan bentuknya.
Masih tetap dengan semangat klasik, kini bukan zamannya lagi jika apa yang Anda pakai seolah ‘meneriakkan’ baru dan cemerlang. Kesan nyaman ditampilkan dengan finishing khusus yang membuat permukaan bahan kulit nampak ‘tidak sempurna’, seolah telah dipakai selama bertahun-tahun. Pendekatan ini dilakukan secara pribadi, dilakukan dengan tangan satu persatu pada produk yang telah selesai.
Keberuntungan alam dan musim semi ditampilkan Coccinelle dengan bahan kain bermotif ‘Lucky’, yang menampilkan kepik dan semanggi berdaun empat sebagai pertanda keberuntungan. Pilihan tas, topi, sepatu, maupun scarf menampilkan motif keberuntungan ini dalam warna-warna cerah yang memberikan kesan energik dan dinamis.
Bagi mereka yang lebih menyukai nuansa pastel, Coccinelle menampilkan pilihan warna pastel yang lebih dinamis, dengan tetap menampilkan unsur-unsur alam sebagai inspirasi dasar. Misalnya topi pet bermotif Lucky dalam warna pastel, juga tas “Happy Bag’ bernuansa hijau pastel yang cerah.
Motif kepik dan semanggi keberuntungan ini pun dilanjutkan menjadi detail-detail kecil seperti penarik retsleting, detail sepatu, gantungan kunci, maupun pin-pin penahan bentuk.
Percaya pada semanggi berdaun empat demi keberuntungan memang bukanlah hal yang disarankan, apalagi mencarinya -yang tentu sulit setengah mati-. Tetapi memakainya demi penampilan yang cerah dan menarik, tentu akan menarik keberuntungan dalam hidup sehari-hari. (NE)
Musim semi telah tiba! Berbagai informasi trend musim semi 2005 pun berdatangan dari pusat-pusat mode dunia, Paris, Milan, London, Tokyo. Untungnya Indonesia selalu dianugerahi sinar matahari yang berlimpah sepanjang masa, karena itu para pecinta mode bisa tetap mengenakan unsur-unsur trend musim semi sepanjang tahun.
Berinspirasikan keberuntungan alam, koleksi musim semi Coccinelle didominasi berbagai warna daun dan turunannya –berbagai hijau daun, orange dan cokelat kekuningan-, serta motif-motif bunga dan daun.
Seperti halnya semua koleksi Coccinelle yang senantiasa klasik, koleksi musim semi memang tak ditujukan untuk mereka yang ingin menghabiskan malam untuk berpesta, tetapi dirancang untuk dipakai sehari-hari. Unsur kenyamanan dan ketahanan merupakan hal yang sangat penting, karena itu bahan kulit yang digunakan telah diolah sedemikian rupa sehingga selalu lembut namun bertahan pada bentuknya. Koleksi tas ini mampu mewadahi keperluan sehari-sehari seorang wanita, dari dompet make-up hingga buku bacaan, tanpa kehilangan bentuknya.
Masih tetap dengan semangat klasik, kini bukan zamannya lagi jika apa yang Anda pakai seolah ‘meneriakkan’ baru dan cemerlang. Kesan nyaman ditampilkan dengan finishing khusus yang membuat permukaan bahan kulit nampak ‘tidak sempurna’, seolah telah dipakai selama bertahun-tahun. Pendekatan ini dilakukan secara pribadi, dilakukan dengan tangan satu persatu pada produk yang telah selesai.
Keberuntungan alam dan musim semi ditampilkan Coccinelle dengan bahan kain bermotif ‘Lucky’, yang menampilkan kepik dan semanggi berdaun empat sebagai pertanda keberuntungan. Pilihan tas, topi, sepatu, maupun scarf menampilkan motif keberuntungan ini dalam warna-warna cerah yang memberikan kesan energik dan dinamis.
Bagi mereka yang lebih menyukai nuansa pastel, Coccinelle menampilkan pilihan warna pastel yang lebih dinamis, dengan tetap menampilkan unsur-unsur alam sebagai inspirasi dasar. Misalnya topi pet bermotif Lucky dalam warna pastel, juga tas “Happy Bag’ bernuansa hijau pastel yang cerah.
Motif kepik dan semanggi keberuntungan ini pun dilanjutkan menjadi detail-detail kecil seperti penarik retsleting, detail sepatu, gantungan kunci, maupun pin-pin penahan bentuk.
Percaya pada semanggi berdaun empat demi keberuntungan memang bukanlah hal yang disarankan, apalagi mencarinya -yang tentu sulit setengah mati-. Tetapi memakainya demi penampilan yang cerah dan menarik, tentu akan menarik keberuntungan dalam hidup sehari-hari. (NE)
April 15, 2005
[dewi magazine] Benda dalam Tas Tangan
Apakah isi tas tangan Anda sebuah handphone atau sebuah kamera digital? Ataukah keduanya?
Dengan ukuran tas tangan tak lebih dari sepotong roti baguette sesuai trend, Anda bersiap-siap menghadiri sebuah fashion show di sebuah hotel terkenal. Keluhan klasik para wanita muda kota modern adalah menentukan benda apa kiranya yang paling penting dibawa untuk acara seperti ini. Dompet? Tentu harus ada. Handphone? Tidak bisa tidak. Kamera? Ini benda penting juga. PDA? Notebook? Tunggu dulu, sebenarnya Anda mau ke mana?
Baiklah, kita mulai lagi. Dengan tas sekecil itu, yang biasanya dilakukan para wanita adalah menggumpalkan beberapa lembar ratusan ribu, menyelipkan kartu kredit dan KTP, serta menggenggam handphone dengan tangan karena sudah tidak muat lagi dalam tas. Lalu, bagaimana dengan kamera, PDA, notebook, dan lain-lain? Sebagian ditinggal di rumah, dan sebagian berada dalam saku jas pasangan. Apa boleh buat, penampilan stylish memang membutuhkan pengorbanan.
Padahal bukan hanya mode saja yang semakin berkembang pesat, teknologi pun demikian. Dalam fashion show berikutnya, bisa saja Anda tampil dengan tas tangan yang lebih kecil dan tetap membawa semua benda yang Anda butuhkan. Kunci dari permasalahan ini tentulah dengan memilih piranti teknologi yang mampu mencakup semuanya itu.
Misalnya handphone S700 Sony Ericsson ini. Ukurannya memang tak jauh berbeda dari handphone-handphone lainnya, sehingga Anda tetap bisa menyimpannya dengan rapi dalam tas mungil.
Pada pandangan pertama, S700 tampak sebagai sebentuk perangkat ergonomis (masihkah bisa disebut handphone belaka?) bersudut bulat dengan layar lebar dan sejumlah tombol navigasi di bawahnya. Cocktail party sebelum fashion show terasa membosankan? Daripada berdiri di sudut dan menunggu, Anda bisa menggunakan S700 ini untuk melakukan dan menerima panggilan tanpa harus membukanya, mendengarkan berbagai lagu MP3, meluangkan waktu untuk beberapa game atau menjadi DJ musik, membaca sms yang masuk, browsing ke berbagai situs WAP, serta mengatur file-file yang tersimpan dalam File Manager.
Saat fashion show dimulai, inilah saatnya S700 Anda membalikkan tubuh dan berganti penampilan menjadi sebuah kamera digital dengan kemampuan di atas rata-rata. Handphone yang dilengkapi kamera memang barang biasa saat ini, tetapi S700 bisa juga dianggap kamera yang bisa digunakan untuk menelepon. Dengan kemampuan kamera digital 1,3 mega pixel, S700 juga dilengkapi 8x digital zoom, jauh lebih unggul daripada handphone ber-kamera yang biasanya hanya 4x digital zoom atau kurang. Jadi Anda tak pelu takut melewatkan detil renda di sudut gaun sang peragawati, tentu yang diperlukan kini adalah kesigapan dalam memotret.
Anda juga tak perlu memicingkan mata untuk melihat apa yang sebetulnya sedang Anda foto, layar display S700 jauh lebih besar daripada rata-rata handphone lainnya. Bila dibandingkan dengan seri Sony Ericsson terdahulu, layar S700 dua kali lipat lebih besar daripada layar display seri T610. Dan bila ada beberapa bagian fashion show yang berkesan, Anda bisa membuat beberapa video clip sepanjang 15 hingga 20 detik dengan kemampuan video recording sebasar hingga 100 kb.
Dengan komitmen 50% handphone dan 50% kamera, S700 memberikan gambar dengan resolusi tinggi yang bisa digunakan untuk berbagai keperluan. Anda bisa mengirimkannya melalui email atau MMS, menontonnya di televisi, mendownload-nya ke dalam komputer, dan mencetaknya dari ukuran pasfoto hingga sehalaman penuh.
Yang lebih praktis adalah sistem penyimpanan memory-nya yang berbentuk eksternal. Artinya, Anda bisa merekam lebih banyak gambar bila Anda memiliki beberapa memory stick. Pemakaian memory stick juga membuatnya sangat praktis untuk ditukar-pakai bersama berbagai perangkat lain seperti notebook, kamera digital, printer, komputer, dan lain-lain.
Nanti seusai fashion show, masih banyak hal yang bisa Anda lakukan dengan S700 ini. Setelah meng-install CD kit yang disertakan saat pembelian, Anda bisa mengedit sendiri mengedit sendiri dan mengatur foto-foto yang telah diambil, juga hasil rekaman video fashion show tadi. Hasilnya bisa disertakan dalam MMS kreasi sendiri dengan sentuhan pribadi Anda, membuat berbagai theme untuk S700 ini, dan tentu mengirimkan foto-foto tadi maupun mencetaknya.
Dengan segala kemampuan canggih ini, bisa-bisa Anda terkejut mendengarnya tiba-tiba melantunkan dering, S700 tetap sebuah handphone dengan segala kemampuannya. Dengan sekali sentuhan tombol, S700 pun terbuka ke samping semudah geretan rokok. Anda bisa melakukan apa saja di sini, menelepon, mengirim pesan, sambil memotret, sambil browsing ke situs-situs WAP, apapun terserah Anda. Tapi bila fashion show belum selesai, lebih baik Anda reject saja panggilan telepon yang mengganggu itu agar konsentrasi tak perlu terganggu. Jangan sampai lupa menyerahkan buket yang sudah disiapkan di akhir fashion show hanya karena sibuk mengobrol di S700 Anda.
Dengan ukuran tas tangan tak lebih dari sepotong roti baguette sesuai trend, Anda bersiap-siap menghadiri sebuah fashion show di sebuah hotel terkenal. Keluhan klasik para wanita muda kota modern adalah menentukan benda apa kiranya yang paling penting dibawa untuk acara seperti ini. Dompet? Tentu harus ada. Handphone? Tidak bisa tidak. Kamera? Ini benda penting juga. PDA? Notebook? Tunggu dulu, sebenarnya Anda mau ke mana?
Baiklah, kita mulai lagi. Dengan tas sekecil itu, yang biasanya dilakukan para wanita adalah menggumpalkan beberapa lembar ratusan ribu, menyelipkan kartu kredit dan KTP, serta menggenggam handphone dengan tangan karena sudah tidak muat lagi dalam tas. Lalu, bagaimana dengan kamera, PDA, notebook, dan lain-lain? Sebagian ditinggal di rumah, dan sebagian berada dalam saku jas pasangan. Apa boleh buat, penampilan stylish memang membutuhkan pengorbanan.
Padahal bukan hanya mode saja yang semakin berkembang pesat, teknologi pun demikian. Dalam fashion show berikutnya, bisa saja Anda tampil dengan tas tangan yang lebih kecil dan tetap membawa semua benda yang Anda butuhkan. Kunci dari permasalahan ini tentulah dengan memilih piranti teknologi yang mampu mencakup semuanya itu.
Misalnya handphone S700 Sony Ericsson ini. Ukurannya memang tak jauh berbeda dari handphone-handphone lainnya, sehingga Anda tetap bisa menyimpannya dengan rapi dalam tas mungil.
Pada pandangan pertama, S700 tampak sebagai sebentuk perangkat ergonomis (masihkah bisa disebut handphone belaka?) bersudut bulat dengan layar lebar dan sejumlah tombol navigasi di bawahnya. Cocktail party sebelum fashion show terasa membosankan? Daripada berdiri di sudut dan menunggu, Anda bisa menggunakan S700 ini untuk melakukan dan menerima panggilan tanpa harus membukanya, mendengarkan berbagai lagu MP3, meluangkan waktu untuk beberapa game atau menjadi DJ musik, membaca sms yang masuk, browsing ke berbagai situs WAP, serta mengatur file-file yang tersimpan dalam File Manager.
Saat fashion show dimulai, inilah saatnya S700 Anda membalikkan tubuh dan berganti penampilan menjadi sebuah kamera digital dengan kemampuan di atas rata-rata. Handphone yang dilengkapi kamera memang barang biasa saat ini, tetapi S700 bisa juga dianggap kamera yang bisa digunakan untuk menelepon. Dengan kemampuan kamera digital 1,3 mega pixel, S700 juga dilengkapi 8x digital zoom, jauh lebih unggul daripada handphone ber-kamera yang biasanya hanya 4x digital zoom atau kurang. Jadi Anda tak pelu takut melewatkan detil renda di sudut gaun sang peragawati, tentu yang diperlukan kini adalah kesigapan dalam memotret.
Anda juga tak perlu memicingkan mata untuk melihat apa yang sebetulnya sedang Anda foto, layar display S700 jauh lebih besar daripada rata-rata handphone lainnya. Bila dibandingkan dengan seri Sony Ericsson terdahulu, layar S700 dua kali lipat lebih besar daripada layar display seri T610. Dan bila ada beberapa bagian fashion show yang berkesan, Anda bisa membuat beberapa video clip sepanjang 15 hingga 20 detik dengan kemampuan video recording sebasar hingga 100 kb.
Dengan komitmen 50% handphone dan 50% kamera, S700 memberikan gambar dengan resolusi tinggi yang bisa digunakan untuk berbagai keperluan. Anda bisa mengirimkannya melalui email atau MMS, menontonnya di televisi, mendownload-nya ke dalam komputer, dan mencetaknya dari ukuran pasfoto hingga sehalaman penuh.
Yang lebih praktis adalah sistem penyimpanan memory-nya yang berbentuk eksternal. Artinya, Anda bisa merekam lebih banyak gambar bila Anda memiliki beberapa memory stick. Pemakaian memory stick juga membuatnya sangat praktis untuk ditukar-pakai bersama berbagai perangkat lain seperti notebook, kamera digital, printer, komputer, dan lain-lain.
Nanti seusai fashion show, masih banyak hal yang bisa Anda lakukan dengan S700 ini. Setelah meng-install CD kit yang disertakan saat pembelian, Anda bisa mengedit sendiri mengedit sendiri dan mengatur foto-foto yang telah diambil, juga hasil rekaman video fashion show tadi. Hasilnya bisa disertakan dalam MMS kreasi sendiri dengan sentuhan pribadi Anda, membuat berbagai theme untuk S700 ini, dan tentu mengirimkan foto-foto tadi maupun mencetaknya.
Dengan segala kemampuan canggih ini, bisa-bisa Anda terkejut mendengarnya tiba-tiba melantunkan dering, S700 tetap sebuah handphone dengan segala kemampuannya. Dengan sekali sentuhan tombol, S700 pun terbuka ke samping semudah geretan rokok. Anda bisa melakukan apa saja di sini, menelepon, mengirim pesan, sambil memotret, sambil browsing ke situs-situs WAP, apapun terserah Anda. Tapi bila fashion show belum selesai, lebih baik Anda reject saja panggilan telepon yang mengganggu itu agar konsentrasi tak perlu terganggu. Jangan sampai lupa menyerahkan buket yang sudah disiapkan di akhir fashion show hanya karena sibuk mengobrol di S700 Anda.
March 20, 2005
[Box magazine] Ferry Salim: National Ambassador for UNICEF
What are Ferry Salim, Pierce Brosnan, and Robbie Williams have in common? You can select one of these answers: (a) they are famous movie stars, or (b) they are gorgeous famous movie stars, or (c) they are gorgeous famous movie stars who care for children, or (d) all of the above are true.
You are right, the answer is d. Every Indonesian (especially women) knows Ferry Salim, who is a famous figure that has starred in more than 20 sinetrons (Indonesian version of telenovelas) and an adaptation movie from Remy Silado’s novel, Ca Bau Kan. Beyond his good looks, Ferry Salim is also known for his great concern for children. He’s also a proud father of two and a good husband for years.
All of those qualifies him as a ambassador for UNICEF (United Nation’s Children Fund), a title that he shares with many celebrity figures like Brosnan and Williams, and also Nicole Kidman and Sarah Jessica Parker since October 2004. Indonesia now has two national UNICEF ambassador, Ferry Salim and Christine Hakim, a senior movie star.
“I’m very proud and interested when (UNICEF) offered to join them as an ambassador. I’ve always been wanting to do something for Indonesian mothers, and when I told them about this, they said that it matches their mission to help Indonesian mothers and children,” Said Ferry Salim when met in Jakarta Convention Centre for a charity occasion, Celebrities for Kids & National Mothers Day on Indonesian Mother’s Day, December 2004.
As a UNICEF ambassador, Ferry Salim had been actively using his network to connect UNICEF to more people. That night, he wished to raise some fund up to 1 trillion rupiahs that would be audited by Price-Waterhouse before distributed to UNICEF.
His other duty is to develop people’s awareness to the issues of mothers and children’s health, and also the increasing problem of HIV/AIDS. The death rate for mothers and childrens under five years old in Indonesia, especially in rural area and East Indonesia, is one of the worst in Asia. Not to mention that more people are being exposed to the possibility of HIV/AIDS infection. It is predicted that more than one million Indonesians will be notified HIV positive in short time to come. With his celebrity figure, Ferry Salim is hoped to deliver the right message to society, develop people’s awareness to these health issues.
Juggling between all his activities –a movie star, an MC, and a family head-, Ferry Salim admitted that he had to be wiser in organizing his daily agenda. “But as long as we have the good intention, a little time loss is not a big problem,” he said casually.
With that, Ferry Salim ended the conversation with a sympathetic nod because he had to walk down the red carpet, a glamorous way with a greater intention beyond, as a national UNICEF ambassador.
You are right, the answer is d. Every Indonesian (especially women) knows Ferry Salim, who is a famous figure that has starred in more than 20 sinetrons (Indonesian version of telenovelas) and an adaptation movie from Remy Silado’s novel, Ca Bau Kan. Beyond his good looks, Ferry Salim is also known for his great concern for children. He’s also a proud father of two and a good husband for years.
All of those qualifies him as a ambassador for UNICEF (United Nation’s Children Fund), a title that he shares with many celebrity figures like Brosnan and Williams, and also Nicole Kidman and Sarah Jessica Parker since October 2004. Indonesia now has two national UNICEF ambassador, Ferry Salim and Christine Hakim, a senior movie star.
“I’m very proud and interested when (UNICEF) offered to join them as an ambassador. I’ve always been wanting to do something for Indonesian mothers, and when I told them about this, they said that it matches their mission to help Indonesian mothers and children,” Said Ferry Salim when met in Jakarta Convention Centre for a charity occasion, Celebrities for Kids & National Mothers Day on Indonesian Mother’s Day, December 2004.
As a UNICEF ambassador, Ferry Salim had been actively using his network to connect UNICEF to more people. That night, he wished to raise some fund up to 1 trillion rupiahs that would be audited by Price-Waterhouse before distributed to UNICEF.
His other duty is to develop people’s awareness to the issues of mothers and children’s health, and also the increasing problem of HIV/AIDS. The death rate for mothers and childrens under five years old in Indonesia, especially in rural area and East Indonesia, is one of the worst in Asia. Not to mention that more people are being exposed to the possibility of HIV/AIDS infection. It is predicted that more than one million Indonesians will be notified HIV positive in short time to come. With his celebrity figure, Ferry Salim is hoped to deliver the right message to society, develop people’s awareness to these health issues.
Juggling between all his activities –a movie star, an MC, and a family head-, Ferry Salim admitted that he had to be wiser in organizing his daily agenda. “But as long as we have the good intention, a little time loss is not a big problem,” he said casually.
With that, Ferry Salim ended the conversation with a sympathetic nod because he had to walk down the red carpet, a glamorous way with a greater intention beyond, as a national UNICEF ambassador.
January 15, 2004
[dewi magazine] Mesin Langsing
Tentu tak semudah di film-film science fiction, tapi dengan teknologi canggih ini, tubuh langsing sempurna memang bisa diupayakan.
Tubuh sempurna memang jadi idaman setiap orang -terutama wanita-, padahal kategori sempurna itu begitu beragam. Berat badan ideal saja belumlah cukup bila tubuh belum terbentuk baik atau kulit tubuh tak merata karena selulit. Tak sedikit wanita yang sudah mati-matian melakukan diet dan olahraga, tetapi tetap saja penampilan ideal belum tercapai. Sepertinya tubuh sempurna adalah sesuatu yang begitu sulit dicapai.
Sebenarnya banyak faktor yang mempengaruhi kecantikan penampilan. Walau berat tubuh sudah ideal, kesehatan dan keelastisisan jaringan kulit pun perlu diperhatikan. Bila tidak, tubuh pun tak terbentuk indah dengan selulit menggumpal di bawah kulit. Apalagi dengan bertambahnya usia, jaringan kulit semakin tak elastis, hingga tumpukan lemak di bawahnya makin mengeras dan makin sulit dihilangkan. Karena itu diet ketat dan olahraga seringkali tak mampu membentuk tubuh dengan hasil maksimal.
Dengan memfokuskan pada masalah elastisitas kulit, sebuah perusahaan Prancis bernama Louis Paul Guitay atau LPG mengembangkan metode perawatan terbaru. Perawatan yang lebih dikenal dengan nama Endermologie ini menggunakan mesin khusus untuk menghancurkan jaringan lemak yang keras dengan cara melancarkan peredaran darah di daerah tersebut.
Mesin ini menggunakan sistem vacuum dan roller untuk memberikan hisapan dan pijatan pada permukaan kulit. Sensasi yang serupa dengan massage ini berguna untuk melancarkan sistem sirkulasi di bawah kulit, dan terutama mengaktifkan sistem limfatik. Lancarnya sistem limfatik akan memudahkan pembuangan sisa metabolisme lemak yang tidak dibutuhkan tubuh. Hasilnya adalah bentuk tubuh yang lebih ramping, dengan kulit yang lebih halus dan elastis.
Berbeda dengan massage yang lebih mengandalkan keahlian ahli pijat-nya, perawatan endermologie dapat disesuaikan dengan keperluan pemakainya secara akurat, tergantung dari banyaknya lemak, keelastisan kulit, serta daerah mana saja yang bermasalah. Perawatan pun dilakukan dengan menggunakan LPG bodywear yang berbentuk bodysuit, hingga tak ada kontak langsung dengan kulit. Dengan demikian, higienitas selama perawatan pun selalu terjaga.
Tentu saja perawatan apapun harus dilakukan secara teratur demi hasil yang diharapkan. Karena itu, endermologie harus dilakukan sedikitnya tiga kali seminggu, sebanyak minimal 20 kali, masing-masing selama 35 menit, sebelum hasilnya mulai bisa dirasakan. Untuk hasil yang lebih maksimal, perawatan harus dilanjutkan secara teratur sesuai dengan masalah yang dihadapi.
Keuntungan perawatan ini adalah pemakainya tak perlu lagi menghabiskan waktu untuk macam-macam perawatan lain karena endermologie sudah cukup sebagai terapi tunggal. Sedangkan untuk kasus yang tergolong berat, endermologie harus dikombinasikan dengan diet yang tepat serta beberapa jenis perawatan lain seperti body wrapping.
Walau praktis, mesin endermologie tidak boleh dioperasikan oleh tangan yang tak ahli. Pemakaian yang berlebihan malahan bisa menyebabnya kendurnya jaringan kulit dan sensitifitas pembuluh-pembuluh halus yang berlebihan. Endermologie juga tak boleh dilakukan pada kondisi-kondisi tubuh tertentu, misalnya adanya varises, tumor, infeksi kulit, penyakit jantung, dan kehamilan. Karena itu, untuk menentukan tepat atau tidaknya perawatan endermologie bagi seseorang, peranan seorang ahli sangat dibutuhkan.
Dari segi usia, endermologie boleh dilakukan oleh siapa saja, dari usia remaja hingga yang di atas 50 tahun sekalipun. Nah, tubuh langsing, terbentuk indah, dengan kulit halus dan kenyal, siapa yang tak mau?
Tubuh sempurna memang jadi idaman setiap orang -terutama wanita-, padahal kategori sempurna itu begitu beragam. Berat badan ideal saja belumlah cukup bila tubuh belum terbentuk baik atau kulit tubuh tak merata karena selulit. Tak sedikit wanita yang sudah mati-matian melakukan diet dan olahraga, tetapi tetap saja penampilan ideal belum tercapai. Sepertinya tubuh sempurna adalah sesuatu yang begitu sulit dicapai.
Sebenarnya banyak faktor yang mempengaruhi kecantikan penampilan. Walau berat tubuh sudah ideal, kesehatan dan keelastisisan jaringan kulit pun perlu diperhatikan. Bila tidak, tubuh pun tak terbentuk indah dengan selulit menggumpal di bawah kulit. Apalagi dengan bertambahnya usia, jaringan kulit semakin tak elastis, hingga tumpukan lemak di bawahnya makin mengeras dan makin sulit dihilangkan. Karena itu diet ketat dan olahraga seringkali tak mampu membentuk tubuh dengan hasil maksimal.
Dengan memfokuskan pada masalah elastisitas kulit, sebuah perusahaan Prancis bernama Louis Paul Guitay atau LPG mengembangkan metode perawatan terbaru. Perawatan yang lebih dikenal dengan nama Endermologie ini menggunakan mesin khusus untuk menghancurkan jaringan lemak yang keras dengan cara melancarkan peredaran darah di daerah tersebut.
Mesin ini menggunakan sistem vacuum dan roller untuk memberikan hisapan dan pijatan pada permukaan kulit. Sensasi yang serupa dengan massage ini berguna untuk melancarkan sistem sirkulasi di bawah kulit, dan terutama mengaktifkan sistem limfatik. Lancarnya sistem limfatik akan memudahkan pembuangan sisa metabolisme lemak yang tidak dibutuhkan tubuh. Hasilnya adalah bentuk tubuh yang lebih ramping, dengan kulit yang lebih halus dan elastis.
Berbeda dengan massage yang lebih mengandalkan keahlian ahli pijat-nya, perawatan endermologie dapat disesuaikan dengan keperluan pemakainya secara akurat, tergantung dari banyaknya lemak, keelastisan kulit, serta daerah mana saja yang bermasalah. Perawatan pun dilakukan dengan menggunakan LPG bodywear yang berbentuk bodysuit, hingga tak ada kontak langsung dengan kulit. Dengan demikian, higienitas selama perawatan pun selalu terjaga.
Tentu saja perawatan apapun harus dilakukan secara teratur demi hasil yang diharapkan. Karena itu, endermologie harus dilakukan sedikitnya tiga kali seminggu, sebanyak minimal 20 kali, masing-masing selama 35 menit, sebelum hasilnya mulai bisa dirasakan. Untuk hasil yang lebih maksimal, perawatan harus dilanjutkan secara teratur sesuai dengan masalah yang dihadapi.
Keuntungan perawatan ini adalah pemakainya tak perlu lagi menghabiskan waktu untuk macam-macam perawatan lain karena endermologie sudah cukup sebagai terapi tunggal. Sedangkan untuk kasus yang tergolong berat, endermologie harus dikombinasikan dengan diet yang tepat serta beberapa jenis perawatan lain seperti body wrapping.
Walau praktis, mesin endermologie tidak boleh dioperasikan oleh tangan yang tak ahli. Pemakaian yang berlebihan malahan bisa menyebabnya kendurnya jaringan kulit dan sensitifitas pembuluh-pembuluh halus yang berlebihan. Endermologie juga tak boleh dilakukan pada kondisi-kondisi tubuh tertentu, misalnya adanya varises, tumor, infeksi kulit, penyakit jantung, dan kehamilan. Karena itu, untuk menentukan tepat atau tidaknya perawatan endermologie bagi seseorang, peranan seorang ahli sangat dibutuhkan.
Dari segi usia, endermologie boleh dilakukan oleh siapa saja, dari usia remaja hingga yang di atas 50 tahun sekalipun. Nah, tubuh langsing, terbentuk indah, dengan kulit halus dan kenyal, siapa yang tak mau?
[dewi magazine] Itang Yunasz: The Family Man (Now)
Berkarya, berkeluarga, beribadah, dan berbahagia. Kabar terbarunya saat ini.
Bisa dibilang, tak ada yang tak kenal nama Itang Yunasz di Indonesia. Tak hanya akrab dikenal oleh kalangan mode, wajah dan suaranya pun pernah menghiasi dunia film, musik, serta iklan. Sejak menjadi runner-up dalam Lomba Perancang Mode (LPM) yang diadakan Femina Group pada tahun 1981, kehadirannya di dunia mode semakin kuat dan eksis.
"Sejak kecil saya sudah senang menggambar dan tertarik pada mode," cerita Itang saat ditemui di butiknya di daerah Kebayoran Lama. Bakat seni rupanya diturunkan oleh kedua orangtuanya, ibunya gemar menjahit, sedangkan ayahnya yang tentara, senang melukis dan membuat patung. Kedua orangtuanya pun tak menghalangi saat ia memilih dunia mode sebagai tempatnya mencari nafkah.
Waktu itu, Itang sudah sering membuatkan desain untuk dipakai teman-temannya ke berbagai acara. Salah satunya adalah artis Jeny Rachman yang memesan busana rancangannya untuk dikenakan ke festival film. Karena belum memiliki tukang jahit sendiri, biasanya Itang membawa rancangannya ke tukang jahit langganan.
Sebenarnya Itang sudah pernah mengikuti LPM pada tahun 1979, tetapi hanya sampai tingkat semifinalis. Setelah itu, ia berkenalan dengan Renato Balestra, seorang desainer Italia yang kebetulan sedang mengadakan pergelaran di Jakarta. Dari perkenalan itu, Itang mendapat kesempatan untuk magang di rumah mode Balestra di Roma.
Selama setahun magang, Itang mendapat banyak pengalaman walaupun selalu merasa rindu pada kampung halaman. Selain selalu homesick, ia juga merasa kurang cocok dengan kehidupan jetset yang penuh pesta dari hari ke hari. Itang mengenang saat-saat ia berpuasa di musim panas yang harinya lebih panjang dibandingkan di Indonesia. Terlahir dalam keluarga besar -ia anak ke-6 dari 8 bersaudara- yang kuat dengan didikan Islami, ia merasa kehilangan banyak ritual yang biasa diikutinya di bulan Ramadhan bersama keluarga.
"Karena tidak tahan, akhirnya saya menghubungi ibu saya agar menulis surat ke tempat kerja yang isinya meminta saya pulang karena ada hal penting," cerita Itang mengenang keinginannya yang kuat untuk berhari raya bersama keluarga.
Setelah pulang ke Indonesia, Itang kembali mengikuti LPM pada tahun 1981. Kali ini ia berhasil meraih tempat kedua dengan rancangan bertema Angin Timur Angin Barat, yang memadukan sentuhan etnik Asia dan cutting yang siap pakai. Yang menarik, semua karyanya dalam lomba itu diborong seorang berkebangsaan Amerika yang kebetulan menginap di hotel Borobudur, tempat final lomba diadakan. Rupanya ia sangat tertarik dengan rancangan Itang yang menurutnya sangat eksotik.
"Dari uang kemenangan ditambah hasil penjualan baju, saya mendirikan Galeri Busana bersama Enny Soekamto dan Dhanny Dhahlan," kenang Itang. Sayangnya kesibukan Dhanny di dunia film, juga kesibukan Enny yang saat itu adalah peragawati nomor satu membuat usaha mereka menjadi kurang terkontrol. Akhirnya, pada awal tahun 1986, Itang memutuskan untuk mendirikan rumah mode dengan namanya sendiri, sedangkan Galeri Busana tetap dipegang oleh Enny Soekamto.
Sosoknya di dunia mode pun semakin kuat, garis-garis rancangannya selalu memadukan sisi feminin dan maskulin, serta berdaya pakai tinggi. Walau saat ini ia tak lagi sesering dulu mengadakan pergelaran, bukan berarti usahanya menyurut. Kini ia lebih memusatkan perhatian pada busana made-to-oder dari para pelanggan setianya, membuat seragam untuk berbagai perusahaan, bersiap membuka divisi baru khusus busana muslim siap pakai -yang rencananya akan diberi label Marakesh-, serta membuat kostum untuk sebuah film kolosal.
Sebenarnya ia pernah membuat divisi khusus baju pria yang dipasarkannya melalui kerjasama dengan Matahari, tetapi hanya bertahan 3 tahun karena harga-harganya terlalu tinggi untuk segmen pasar tersebut.
Itang mengakui bahwa kini busana dengan label namanya justru sukar ditemui. "Tahun 1997, saat keadaan ekonomi mulai morat-marit, saya memutuskan untuk tidak lagi mengirim baju ke berbagai department store seperti Metro, Sogo, dan Pasaraya. Toh kalau pun orang enginginkan rancangan saya, mereka sudah tahu tempat saya di sini."
Selain menangani berbagai pesanan di dalam negri, sejak tahun 1990 Itang juga mengekspor rancangannya ke Jeddah berupa busana-busana pesta. Walau kuantitasnya tak banyak, tetapi nilainya cukup tinggi. Para pembelinya di Arab mengenakan rancangan Itang untuk pergi ke pesta-pesta yang khusus dihadiri para wanita saja, sehingga mereka tak segan mengenakan busana serba terbuka.
"Tetapi yang menjadi penyangga dari semua divisi saya adalah divisi uniform," tutur Itang. Awalnya, sekitar tahun 90-an, ia memenangkan tender untuk membuat seragam bagi Grand Hyatt Hotel. Rancangannya ternyata begitu disukai hingga akhirnya ia dipercaya untuk menangani seragam semua Hotel Grand Hyatt di Indonesia hingga saat ini. Salah satu keunikan rancangannya adalah seragam untuk Grand Hyatt Nusa Dua yang menampilkan pelajaran menari Legong dalam bentuk motif pada seragam. Para turis yang berkunjung pun sering membeli seragam ini untuk oleh-oleh.
Saat berkarya, inspirasi bisa datang dari mana saja, tetapi -buat Itang-mengalir dengan deras justru di kamar mandi. Tak heran, di dalam kamar mandinya selalu tersedia pensil, spidol, dan kertas. "Saya bisa lama di kamar mandi karena sambil menggambar dan menulis berbagai keterangan cara memotong bahan serta pernik-perniknya," cerita Itang.
Kini irama hidup Itang sudah lebih tenang dibandingkan saat ia masih lebih muda dan menggebu-gebu. Apalagi setelah ia memiliki dua anak, Daffa dan Najla yang masih balita, buah pernikahan dengan istrinya, Yenny.
"Dari dulu saya memang sangat ingin berumahtangga, ternyata keinginan itu terkabul walau pada usia yang cukup berumur -40 tahun-. Sekarang saya merasa sudah cukup dengan apa yang saya miliki, dan saat inilah waktunya untuk mendidik dan memperhatikan anak-anak, " ujar Itang.
Keinginan untuk go internasional pun telah lama ditepiskannya, bukan karena merasa tak mampu, tetapi karena tak ingin lagi menggebu-gebu dalam masalah duniawi. Itang bersyukur karena merasa dirinya selalu diingatkan untuk berusaha menjadi semakin baik seiring pertambahan usia.
"Keinginan untuk bersikap lebih spiritual itu datangnya begitu tiba-tiba, dan -hebatnya- bisa saya terima dengan baik," ujar Itang. Saat ditemui dewi, sebenarnya ia baru kehilangan seorang kakak perempuannya yang meninggal karena sakit. Hal ini pun diterimanya sebagai suatu teguran atau peringatan.
"Kakak saya ini adalah contoh yang baik, khususnya bagi keluarga kami. Ia tak pernah meninggalkan ibadah sejak berumur 11 tahun sampai meninggalnya pada umur 55 tahun. Nah, bagaimana dengan kita-kita yang baru mulai umur 30 tahunan ini? Kalau tidak benar-benar berusaha menjadi lebih baik, tiba-tiba kesempatannya sudah hilang begitu saja."
Demikianlah Itang sekarang, sangat mensyukuri hidup dan segala yang telah diraihnya. Ia termasuk sedikit di antara orang-orang yang bisa dengan tegas menyatakan, "Saya sangat bahagia."
Bisa dibilang, tak ada yang tak kenal nama Itang Yunasz di Indonesia. Tak hanya akrab dikenal oleh kalangan mode, wajah dan suaranya pun pernah menghiasi dunia film, musik, serta iklan. Sejak menjadi runner-up dalam Lomba Perancang Mode (LPM) yang diadakan Femina Group pada tahun 1981, kehadirannya di dunia mode semakin kuat dan eksis.
"Sejak kecil saya sudah senang menggambar dan tertarik pada mode," cerita Itang saat ditemui di butiknya di daerah Kebayoran Lama. Bakat seni rupanya diturunkan oleh kedua orangtuanya, ibunya gemar menjahit, sedangkan ayahnya yang tentara, senang melukis dan membuat patung. Kedua orangtuanya pun tak menghalangi saat ia memilih dunia mode sebagai tempatnya mencari nafkah.
Waktu itu, Itang sudah sering membuatkan desain untuk dipakai teman-temannya ke berbagai acara. Salah satunya adalah artis Jeny Rachman yang memesan busana rancangannya untuk dikenakan ke festival film. Karena belum memiliki tukang jahit sendiri, biasanya Itang membawa rancangannya ke tukang jahit langganan.
Sebenarnya Itang sudah pernah mengikuti LPM pada tahun 1979, tetapi hanya sampai tingkat semifinalis. Setelah itu, ia berkenalan dengan Renato Balestra, seorang desainer Italia yang kebetulan sedang mengadakan pergelaran di Jakarta. Dari perkenalan itu, Itang mendapat kesempatan untuk magang di rumah mode Balestra di Roma.
Selama setahun magang, Itang mendapat banyak pengalaman walaupun selalu merasa rindu pada kampung halaman. Selain selalu homesick, ia juga merasa kurang cocok dengan kehidupan jetset yang penuh pesta dari hari ke hari. Itang mengenang saat-saat ia berpuasa di musim panas yang harinya lebih panjang dibandingkan di Indonesia. Terlahir dalam keluarga besar -ia anak ke-6 dari 8 bersaudara- yang kuat dengan didikan Islami, ia merasa kehilangan banyak ritual yang biasa diikutinya di bulan Ramadhan bersama keluarga.
"Karena tidak tahan, akhirnya saya menghubungi ibu saya agar menulis surat ke tempat kerja yang isinya meminta saya pulang karena ada hal penting," cerita Itang mengenang keinginannya yang kuat untuk berhari raya bersama keluarga.
Setelah pulang ke Indonesia, Itang kembali mengikuti LPM pada tahun 1981. Kali ini ia berhasil meraih tempat kedua dengan rancangan bertema Angin Timur Angin Barat, yang memadukan sentuhan etnik Asia dan cutting yang siap pakai. Yang menarik, semua karyanya dalam lomba itu diborong seorang berkebangsaan Amerika yang kebetulan menginap di hotel Borobudur, tempat final lomba diadakan. Rupanya ia sangat tertarik dengan rancangan Itang yang menurutnya sangat eksotik.
"Dari uang kemenangan ditambah hasil penjualan baju, saya mendirikan Galeri Busana bersama Enny Soekamto dan Dhanny Dhahlan," kenang Itang. Sayangnya kesibukan Dhanny di dunia film, juga kesibukan Enny yang saat itu adalah peragawati nomor satu membuat usaha mereka menjadi kurang terkontrol. Akhirnya, pada awal tahun 1986, Itang memutuskan untuk mendirikan rumah mode dengan namanya sendiri, sedangkan Galeri Busana tetap dipegang oleh Enny Soekamto.
Sosoknya di dunia mode pun semakin kuat, garis-garis rancangannya selalu memadukan sisi feminin dan maskulin, serta berdaya pakai tinggi. Walau saat ini ia tak lagi sesering dulu mengadakan pergelaran, bukan berarti usahanya menyurut. Kini ia lebih memusatkan perhatian pada busana made-to-oder dari para pelanggan setianya, membuat seragam untuk berbagai perusahaan, bersiap membuka divisi baru khusus busana muslim siap pakai -yang rencananya akan diberi label Marakesh-, serta membuat kostum untuk sebuah film kolosal.
Sebenarnya ia pernah membuat divisi khusus baju pria yang dipasarkannya melalui kerjasama dengan Matahari, tetapi hanya bertahan 3 tahun karena harga-harganya terlalu tinggi untuk segmen pasar tersebut.
Itang mengakui bahwa kini busana dengan label namanya justru sukar ditemui. "Tahun 1997, saat keadaan ekonomi mulai morat-marit, saya memutuskan untuk tidak lagi mengirim baju ke berbagai department store seperti Metro, Sogo, dan Pasaraya. Toh kalau pun orang enginginkan rancangan saya, mereka sudah tahu tempat saya di sini."
Selain menangani berbagai pesanan di dalam negri, sejak tahun 1990 Itang juga mengekspor rancangannya ke Jeddah berupa busana-busana pesta. Walau kuantitasnya tak banyak, tetapi nilainya cukup tinggi. Para pembelinya di Arab mengenakan rancangan Itang untuk pergi ke pesta-pesta yang khusus dihadiri para wanita saja, sehingga mereka tak segan mengenakan busana serba terbuka.
"Tetapi yang menjadi penyangga dari semua divisi saya adalah divisi uniform," tutur Itang. Awalnya, sekitar tahun 90-an, ia memenangkan tender untuk membuat seragam bagi Grand Hyatt Hotel. Rancangannya ternyata begitu disukai hingga akhirnya ia dipercaya untuk menangani seragam semua Hotel Grand Hyatt di Indonesia hingga saat ini. Salah satu keunikan rancangannya adalah seragam untuk Grand Hyatt Nusa Dua yang menampilkan pelajaran menari Legong dalam bentuk motif pada seragam. Para turis yang berkunjung pun sering membeli seragam ini untuk oleh-oleh.
Saat berkarya, inspirasi bisa datang dari mana saja, tetapi -buat Itang-mengalir dengan deras justru di kamar mandi. Tak heran, di dalam kamar mandinya selalu tersedia pensil, spidol, dan kertas. "Saya bisa lama di kamar mandi karena sambil menggambar dan menulis berbagai keterangan cara memotong bahan serta pernik-perniknya," cerita Itang.
Kini irama hidup Itang sudah lebih tenang dibandingkan saat ia masih lebih muda dan menggebu-gebu. Apalagi setelah ia memiliki dua anak, Daffa dan Najla yang masih balita, buah pernikahan dengan istrinya, Yenny.
"Dari dulu saya memang sangat ingin berumahtangga, ternyata keinginan itu terkabul walau pada usia yang cukup berumur -40 tahun-. Sekarang saya merasa sudah cukup dengan apa yang saya miliki, dan saat inilah waktunya untuk mendidik dan memperhatikan anak-anak, " ujar Itang.
Keinginan untuk go internasional pun telah lama ditepiskannya, bukan karena merasa tak mampu, tetapi karena tak ingin lagi menggebu-gebu dalam masalah duniawi. Itang bersyukur karena merasa dirinya selalu diingatkan untuk berusaha menjadi semakin baik seiring pertambahan usia.
"Keinginan untuk bersikap lebih spiritual itu datangnya begitu tiba-tiba, dan -hebatnya- bisa saya terima dengan baik," ujar Itang. Saat ditemui dewi, sebenarnya ia baru kehilangan seorang kakak perempuannya yang meninggal karena sakit. Hal ini pun diterimanya sebagai suatu teguran atau peringatan.
"Kakak saya ini adalah contoh yang baik, khususnya bagi keluarga kami. Ia tak pernah meninggalkan ibadah sejak berumur 11 tahun sampai meninggalnya pada umur 55 tahun. Nah, bagaimana dengan kita-kita yang baru mulai umur 30 tahunan ini? Kalau tidak benar-benar berusaha menjadi lebih baik, tiba-tiba kesempatannya sudah hilang begitu saja."
Demikianlah Itang sekarang, sangat mensyukuri hidup dan segala yang telah diraihnya. Ia termasuk sedikit di antara orang-orang yang bisa dengan tegas menyatakan, "Saya sangat bahagia."
November 18, 2003
[a+ magazine] Everything is Back
Sejarah saja berulang, apalagi mode.
Waktu saya kecil, ada sebuah peti besar berwarna biru di gudang rumah saya di Surabaya. Di situlah, ibu saya menyimpan berbagai perangkat masa lalunya untuk dibuka sewaktu-waktu. Tas tangan kulit buaya (asli tentunya), berbagai tas kulit bertekstur unik, boots merah maroon
setinggi lutut, leather gloves, syal bulu selembut kucing angora (memang dari kucing angora?), tweed coat hijau botol, dan berbagai aksesori yang dulu saya anggap begitu tak masuk akal.
Tetapi kini, betapa irinya saya pada masa muda sang ibunda. Apalagi menyimak semangat vintage dan retro yang terus-menerus datang dan kembali ke dunia mode. Nampaknya sekarang ini sangatlah beresiko untuk membuang sesuatu hanya karena sudah tidak in lagi. Perputaran mode makin lama makin cepat dan bolak-balik terus, dari back to sixties sampai back to eighties, back to sixties lagi, black is back, mod is back, punk is back, everything is back, dan seterusnya.
Apa kira-kira yang akan terjadi kalau semuanya sudah dibolak-balik sampai bosan? Mungkin majalah ini dan semua media yang mengusung mode akan segera bangkrut karena semua orang mengenakan jumpsuit seragam dari bahan metalik seperti dalam film-film science fiction. Tamatlah riwayat rumah mode dan para desainer menjadi pengangguran. Mungkin para wanita hanya mengenakan busana ala perban seperti Milla Jovovich dalam film Fifth Element. By the way, busana itu hasil rancangan Jean Paul Gaultier, jadi masih ada harapan untuk para desainer.
OK, stop the rambling thoughts. Marilah berharap mode masih hidup paling tidak sampai manusia mulai memakai transporter untuk berpindah tempat. Dan sebelum itu terjadi, kita masih bisa menikmati perputaran mode yang bolak-balik itu. Coba lihat, vintage apa lagi yang kembali digemari sekarang? (Oh peti biru itu!) Tas kulit eksotis (bukan dari hewan aslinya, mau di-demo oleh PETA?), tas-tas kulit bertekstur unik, boots semata kaki sampai selutut, leather gloves, dan berbagai perangkat masa lalu itu kini bisa kita sambut kembali.
Andaikan peti besar biru itu kini ada di rumah saya, terbayanglah sudah begitu banyak padu-padan super trendy yang bisa saya ciptakan. Sayangnya, sang peti berikut isinya sudah dimusnahkan kakak ipar saya yang kini menempati rumah itu. Sampai kini, nampaknya ia masih bertanya-tanya mengapa tiap kali bertemu, saya meremas tangannya erat-erat sambil menatap matanya dengan pandangan menghunjam.
Waktu saya kecil, ada sebuah peti besar berwarna biru di gudang rumah saya di Surabaya. Di situlah, ibu saya menyimpan berbagai perangkat masa lalunya untuk dibuka sewaktu-waktu. Tas tangan kulit buaya (asli tentunya), berbagai tas kulit bertekstur unik, boots merah maroon
setinggi lutut, leather gloves, syal bulu selembut kucing angora (memang dari kucing angora?), tweed coat hijau botol, dan berbagai aksesori yang dulu saya anggap begitu tak masuk akal.
Tetapi kini, betapa irinya saya pada masa muda sang ibunda. Apalagi menyimak semangat vintage dan retro yang terus-menerus datang dan kembali ke dunia mode. Nampaknya sekarang ini sangatlah beresiko untuk membuang sesuatu hanya karena sudah tidak in lagi. Perputaran mode makin lama makin cepat dan bolak-balik terus, dari back to sixties sampai back to eighties, back to sixties lagi, black is back, mod is back, punk is back, everything is back, dan seterusnya.
Apa kira-kira yang akan terjadi kalau semuanya sudah dibolak-balik sampai bosan? Mungkin majalah ini dan semua media yang mengusung mode akan segera bangkrut karena semua orang mengenakan jumpsuit seragam dari bahan metalik seperti dalam film-film science fiction. Tamatlah riwayat rumah mode dan para desainer menjadi pengangguran. Mungkin para wanita hanya mengenakan busana ala perban seperti Milla Jovovich dalam film Fifth Element. By the way, busana itu hasil rancangan Jean Paul Gaultier, jadi masih ada harapan untuk para desainer.
OK, stop the rambling thoughts. Marilah berharap mode masih hidup paling tidak sampai manusia mulai memakai transporter untuk berpindah tempat. Dan sebelum itu terjadi, kita masih bisa menikmati perputaran mode yang bolak-balik itu. Coba lihat, vintage apa lagi yang kembali digemari sekarang? (Oh peti biru itu!) Tas kulit eksotis (bukan dari hewan aslinya, mau di-demo oleh PETA?), tas-tas kulit bertekstur unik, boots semata kaki sampai selutut, leather gloves, dan berbagai perangkat masa lalu itu kini bisa kita sambut kembali.
Andaikan peti besar biru itu kini ada di rumah saya, terbayanglah sudah begitu banyak padu-padan super trendy yang bisa saya ciptakan. Sayangnya, sang peti berikut isinya sudah dimusnahkan kakak ipar saya yang kini menempati rumah itu. Sampai kini, nampaknya ia masih bertanya-tanya mengapa tiap kali bertemu, saya meremas tangannya erat-erat sambil menatap matanya dengan pandangan menghunjam.
November 15, 2003
[BMW Magazine] Lima Menit Bersama Seorang Ratu
Cantik, ramah, hangat, bersuara bagus, dan tentu saja pintar. Amelia Vega memang pantas menjadi Miss Universe.
Mobil BMW 735 Li abu-abu berhenti di depan lobby Hotel Le Meridien, Jakarta. Saat pintu terbuka, keluarlah sosok cantik setinggi 183 cm. Ia berdiri sejenak sambil tersenyum manis di samping mobil saat juru kamera mengambil gambarnya. Semua itu, ditambah dengan kesibukan para pengawal di sekitarnya mengingatkan pada suasana kehadiran seorang superstar di acara
Oscar.
Tak heran, yang datang ini memang layak disebut superstar baru karena ialah Miss Universe 2003, Amelia Vega dari Republik Dominika. Gelar itu disandangnya sejak Juni lalu di kota Panama, setelah menyingkirkan sekitar 70 gadis cantik dari berbagai negara. Gadis berusia 18 tahun ini membuat negaranya sangat bangga, karena inilah pertama kalinya gelar Miss Universe jatuh ke tangan warga Republik Dominika.
Sejak menjabat gelar Miss Universe 2003, Amelia tinggal di New York untuk bekerjasama dengan beberapa organisasi HIV/AIDS internasional sebagai juru bicara. Ia berkeliling dunia untuk berkampanye meningkatkan kesadaran akan AIDS, serta pencegahannya terutama di kalangan remaja. Selain itu, ia juga mengkampanyekan kesadaran akan hak-hak perempuan serta kepedulian pada kesehatan reproduksi.
Kunjungannya ke Indonesia di bulan Juli merupakan bagian dari serangkaian jadwal padat yang dijalaninya sebagai duta kecantikan. Ditemui setelah sebuah sesi pemotretan di sejuah majalah wanita, Amelia masih sempat memberikan kesempatan wawancara walau ia harus segera bersiap-siap untuk menghadiri acara pergelaran Putri Indonesia malam harinya.
Kesan lelah sama sekali tak nampak pada wajahnya. Yang terpancar justru sikap ramah, hangat, dan kepercayaan dirinya yang kuat. Di usia yang tergolong sangat muda, gadis kelahiran 7 November 1985 ini mampu menampilkan kematangan dan kehangatan layaknya seorang wanita dewasa.
Bagaimana hidup Anda berubah setelah menyandang gelar Miss Universe?
Semuanya sangat berbeda. Sebelumnya saya hanyalah Miss Dominika, mewakili negara saya sendiri. Kini saya sangat bahagia menyandang gelar ini karena sekarang saya tak hanya mewakili Dominika, tetapi juga seluruh dunia, termasuk Indonesia, negara Anda yang indah.
Kontribusi apa yang akan Anda berikan pada dunia melalui peran baru ini?
Sebagai Miss Universe, saya berkeliling dunia untuk mengkampanyekan kesadaran akan AIDS. Beberapa minggu yang lalu, saya mengunjungi para gay yang menderita AIDS, menghabiskan waktu untuk berkumpul dan berbincang dengan mereka. Itulah salah satu cara untuk
meningkatkan kesadaran dan pengetahuan masyarakat pada penyakit ini.
Saya dengar Ibu Anda, Patricia Polanco, juga seorang ratu kecantikan?
Ya, benar. Ia mewakili Republik Dominika untuk pemilihan Miss World pada tahun 1980 dan memenangkan gelar Miss Tourism.
Nampaknya gelar tersebut sudah merupakan keturunan dalam keluarga Anda?
Mungkin saja (Amelia tersenyum). Tapi Ibu saya tak pernah mengharuskan saya melakukan sesuatu yang tak saya inginkan. Ia hanya memberikan semua cintanya serta pendidikan yang baik. Ia mengatakan pada saya bahwa saya bisa menjadi apa saja yang suka. Ibu saya
merupakan salah satu panutan dalam hidup saya. Ia adalah bagian dari apa yang ada pada diri saya sekarang.
Adakah mimpi yang ingin Anda raih dalam hidup ini?
Kini gelar Miss Universe telah di tangan, mimpi saya yang lain adalah menjadi seorang penyanyi terkenal bila Tuhan mengijinkan. Tapi saat ini, saya ingin berkonsentrasi dulu pada tugas-tugas saya sebagai Miss Universe.
Apakah konsep wanita modern menurut Anda?
Wanita modern kini memiliki kebebasan untuk memilih apapun yang ia mau. Ia juga memiliki kemampuan untuk menangani keluarga sekaligus bekerja. Dan tentu saja saya sangat bangga menjadi bagian dari generasi yang modern ini.
Apakah gelar Miss Universe akan membantu Anda merefleksikan konsep wanita modern ini?
Tentu saja, saya adalah salah satu wanita modern tersebut. Dan sebagai wanita yang hidup di millenium ini, saya telah bekerjasama dengan beberapa organisasi sosial, saya merasa nyaman dengan semua ini, juga sangat percaya diri. Saya bangga bisa mewakili citra wanita muda saat ini.
Bagaimana mobil-mobil BMW menurut Anda, terutama seri 7?
Nyaman sekali. Saya sangat senang berada di dalamnya, bermain-main dengan semua tombolnya. Saya sangat berterimakasih pada BMW yang telah memberikan kesempatan pada saya untuk menggunakan salah satu mobilnya selama kunjungan ini.
Sayang, lima menit segera berlalu, dengan sopan Amelia meminta maaf karena harus menyudahi wawancara. Dedikasinya pada tugas membuatnya selalu berusaha menepati jadwal sebagai Miss Universe. Sambil tersenyum ramah, ia bersalaman, lalu segera berlalu untuk menyiapkan diri.
Kita boleh berharap untuk segera melihatnya lagi. Siapa tahu, mungkin tahun depan Amelia akan kembali mengunjungi Indonesia, kali ini sebagai penyanyi kelas dunia.
Mobil BMW 735 Li abu-abu berhenti di depan lobby Hotel Le Meridien, Jakarta. Saat pintu terbuka, keluarlah sosok cantik setinggi 183 cm. Ia berdiri sejenak sambil tersenyum manis di samping mobil saat juru kamera mengambil gambarnya. Semua itu, ditambah dengan kesibukan para pengawal di sekitarnya mengingatkan pada suasana kehadiran seorang superstar di acara
Oscar.
Tak heran, yang datang ini memang layak disebut superstar baru karena ialah Miss Universe 2003, Amelia Vega dari Republik Dominika. Gelar itu disandangnya sejak Juni lalu di kota Panama, setelah menyingkirkan sekitar 70 gadis cantik dari berbagai negara. Gadis berusia 18 tahun ini membuat negaranya sangat bangga, karena inilah pertama kalinya gelar Miss Universe jatuh ke tangan warga Republik Dominika.
Sejak menjabat gelar Miss Universe 2003, Amelia tinggal di New York untuk bekerjasama dengan beberapa organisasi HIV/AIDS internasional sebagai juru bicara. Ia berkeliling dunia untuk berkampanye meningkatkan kesadaran akan AIDS, serta pencegahannya terutama di kalangan remaja. Selain itu, ia juga mengkampanyekan kesadaran akan hak-hak perempuan serta kepedulian pada kesehatan reproduksi.
Kunjungannya ke Indonesia di bulan Juli merupakan bagian dari serangkaian jadwal padat yang dijalaninya sebagai duta kecantikan. Ditemui setelah sebuah sesi pemotretan di sejuah majalah wanita, Amelia masih sempat memberikan kesempatan wawancara walau ia harus segera bersiap-siap untuk menghadiri acara pergelaran Putri Indonesia malam harinya.
Kesan lelah sama sekali tak nampak pada wajahnya. Yang terpancar justru sikap ramah, hangat, dan kepercayaan dirinya yang kuat. Di usia yang tergolong sangat muda, gadis kelahiran 7 November 1985 ini mampu menampilkan kematangan dan kehangatan layaknya seorang wanita dewasa.
Bagaimana hidup Anda berubah setelah menyandang gelar Miss Universe?
Semuanya sangat berbeda. Sebelumnya saya hanyalah Miss Dominika, mewakili negara saya sendiri. Kini saya sangat bahagia menyandang gelar ini karena sekarang saya tak hanya mewakili Dominika, tetapi juga seluruh dunia, termasuk Indonesia, negara Anda yang indah.
Kontribusi apa yang akan Anda berikan pada dunia melalui peran baru ini?
Sebagai Miss Universe, saya berkeliling dunia untuk mengkampanyekan kesadaran akan AIDS. Beberapa minggu yang lalu, saya mengunjungi para gay yang menderita AIDS, menghabiskan waktu untuk berkumpul dan berbincang dengan mereka. Itulah salah satu cara untuk
meningkatkan kesadaran dan pengetahuan masyarakat pada penyakit ini.
Saya dengar Ibu Anda, Patricia Polanco, juga seorang ratu kecantikan?
Ya, benar. Ia mewakili Republik Dominika untuk pemilihan Miss World pada tahun 1980 dan memenangkan gelar Miss Tourism.
Nampaknya gelar tersebut sudah merupakan keturunan dalam keluarga Anda?
Mungkin saja (Amelia tersenyum). Tapi Ibu saya tak pernah mengharuskan saya melakukan sesuatu yang tak saya inginkan. Ia hanya memberikan semua cintanya serta pendidikan yang baik. Ia mengatakan pada saya bahwa saya bisa menjadi apa saja yang suka. Ibu saya
merupakan salah satu panutan dalam hidup saya. Ia adalah bagian dari apa yang ada pada diri saya sekarang.
Adakah mimpi yang ingin Anda raih dalam hidup ini?
Kini gelar Miss Universe telah di tangan, mimpi saya yang lain adalah menjadi seorang penyanyi terkenal bila Tuhan mengijinkan. Tapi saat ini, saya ingin berkonsentrasi dulu pada tugas-tugas saya sebagai Miss Universe.
Apakah konsep wanita modern menurut Anda?
Wanita modern kini memiliki kebebasan untuk memilih apapun yang ia mau. Ia juga memiliki kemampuan untuk menangani keluarga sekaligus bekerja. Dan tentu saja saya sangat bangga menjadi bagian dari generasi yang modern ini.
Apakah gelar Miss Universe akan membantu Anda merefleksikan konsep wanita modern ini?
Tentu saja, saya adalah salah satu wanita modern tersebut. Dan sebagai wanita yang hidup di millenium ini, saya telah bekerjasama dengan beberapa organisasi sosial, saya merasa nyaman dengan semua ini, juga sangat percaya diri. Saya bangga bisa mewakili citra wanita muda saat ini.
Bagaimana mobil-mobil BMW menurut Anda, terutama seri 7?
Nyaman sekali. Saya sangat senang berada di dalamnya, bermain-main dengan semua tombolnya. Saya sangat berterimakasih pada BMW yang telah memberikan kesempatan pada saya untuk menggunakan salah satu mobilnya selama kunjungan ini.
Sayang, lima menit segera berlalu, dengan sopan Amelia meminta maaf karena harus menyudahi wawancara. Dedikasinya pada tugas membuatnya selalu berusaha menepati jadwal sebagai Miss Universe. Sambil tersenyum ramah, ia bersalaman, lalu segera berlalu untuk menyiapkan diri.
Kita boleh berharap untuk segera melihatnya lagi. Siapa tahu, mungkin tahun depan Amelia akan kembali mengunjungi Indonesia, kali ini sebagai penyanyi kelas dunia.
Subscribe to:
Posts (Atom)