May 18, 2001

[a+ magazine] Am I A Social Climber or A Follower?

Apa yang dibutuhkan dari seorang teman? Pertanyaan salah.

Apakah arti teman buat Anda? A friend in need is a friend indeed. Yeah, yeah, yeah... kita sudah sering mendengar hal itu. Tapi, sebenarnya apa maksud pernyataan itu, kalau memang pernyataan itu benar?

Apakah berarti teman-teman Anda adalah mereka yang mampu memenuhi kebutuhan Anda saat ini? Lalu, bagaimana bila mereka tidak lagi Anda butuhkan, bukankah berarti tugas mereka sebagai teman telah tuntas, dan Anda siap mencari teman baru yang bisa memenuhi kebutuhan Anda? Bisa jadi demikian.

Kalau begitu, berarti jenis kebutuhan menentukan jenis teman yang Anda miliki. Mungkin bukan hanya jenisnya, tapi juga menentukan lamanya hubungan pertemanan Anda. Apa kebutuhan Anda? Apa yang menurut Anda merupakan suatu kebutuhan?

Seorang kenalan saya, sesama anggota Plaza Senayan Society, menceritakan sebuah kejadian yang disaksikannya suatu sore di mal besar itu. Sepasang artis pria dan wanita, cukup kondang, dan mempunyai hubungan khusus -semua orang tahu itu- sedang berbelanja di sebuah butik. Saking banyaknya belanjaan, mereka merasa perlu menyertakan seorang pria kurus yang nampak sangat gembira membawakan segala barang belanjaan itu. Walau cuma membawakan,
tanpa dibelikan apa pun, toh sang pria kurus nampak sangat bahagia menerima tugas tersebut. "Itu sih bukan teman, tapi memperbudak," mungkin Anda berpikir demikian.

Mari kita telusuri kebenaran pemikiran ini. Sang pria kurus merasa senang melakukan hal tersebut, mungkin karena kebutuhannya untuk diakui sebagai golongan artis dianggapnya terpenuhi. Pasangan artis itu pun merasa senang, karena kebutuhannya untuk diakui sebagai manusia berkuasa yang memiliki pengikut, nampaknya juga terpenuhi. So everyone's happy, and you're the only one complaining.

Kalau benar 'a friend in need is a friend indeed', maka mereka adalah teman-teman sejati yang saling memenuhi kebutuhan masing-masing. Tuluskah hubungan pertemanan mereka? Justru lebih tulus daripada dugaan Anda. Menyedihkan? Tergantung bagaimana Anda melihatnya.

Bagaimana cara Anda mendapatkan teman menunjukkan kebutuhan Anda. Saya pernah mengenal seseorang yang setiap hari sibuk 'gaul' dan berteman demi memperluas networking-nya. C'mon, you're calling someone you've just met last night in some product launching party and say 'hello and let's get together sometime' tanpa pretensi apapun. That's not real. Jangan dikira bahwa ini semata-mata adalah usaha memperluas jaringan relasi untuk kelancaran kerja, alasan sebenarnya mungkin adalah keinginan untuk menguatkan status sebagai 'anggota' suatu kelompok sosial tertentu. Ironisnya, saat si social climber ini mulai mencoba berteman dengan saya, ini merupakan pengakuan tak langsung bahwa saya pun termasuk dalam suatu kelompok tertentu, suatu golongan 'elite' yang diidamkan. Atas pengakuan ini, saya boleh senang atau biasa saja, tergantung kebutuhan dasar saya pada awalnya.

Siapakah 'Anda'? Identitas diri memang sesuatu yang dirindukan dan diributkan setiap manusia. Coba saja berjalan-jalan ke -lagi-lagi- Plaza Senayan, dan temukan berbagai kelompok identitas di sana. Sekelompok wanita berusia tigapuluhan, dengan busana cukup seronok bernuansa cerah, rambut panjang yang menggulung di bagian bawah -pasti di-highlight-, duduk dalam cafe, pasti merokok, shopping bag terserak. Inilah kelompok ibu rumah tangga berkecukupan yang punya banyak waktu luang untuk dihamburkan. Baiklah, ini pandangan yang cukup sinis, tapi pasti ini yang terlintas dalam pikiran saat melihat kelompok tersebut. They all look alike. They need to look alike.

Sekelompok remaja, 13-15 tahun. Celana ketat, jaket sport dan T-shirt ketat warna-warni atau bermotif komik, sepatu olahraga terbaru yang didisain memisahkan jempol. Rambut gondrong di depan, pendek di belakang, yang wanita memakai jepit rambut di kiri dan kanan. Berjalan berombongan di sekitar bioskop atau toko kaset, tangan di saku atau memegang ponsel kecil warna-warni. 'Ah, kelompok brondong,' terlintas di pikiran. They all look alike. They need to look alike. Spooky.

Mengapa mereka butuh untuk nampak sama? Karena itulah persyaratan paling primitif untuk diterima menjadi anggota suatu kelompok. Itulah sebabnya mengapa bayi simpanse yang lahir albino ditinggalkan di hutan oleh kelompoknya. Dan itulah sebabnya saat berada dalam sebuah party, sering dijumpai pemandangan serupa yang berulang-ulang seperti sudah menjadi skenario hapalan semua anggota kelompok. 'Chris! Chris! (bisa diganti nama lain) Aduh, ke mana aja sih... (cium pipi kiri dan kanan)? Tambah cakep aja..., gimana salon/kantor/kerjaan/anak? Wah, keren banget cardigan-nya, beli di mana?' Lalu, bila ada orang lain yang belum dikenal, tapi dianggap layak, maka 'Eh, udah kenal sama... (memperkenalkan). Dia ini adalah... (jabatan) dari... (perusahaan), lho!' Setelah berbasa-basi sejenak, pergi sambil berucap, 'Gue jalan dulu ya, jangan lupa telepon-telepon... (cium pipi
lagi).' Ah, bahkan kata-kata yang digunakan pun kurang-lebih sama!

Ayolah, mana orisinalitas Anda? Paling tidak, gunakan vocabulary yang berbeda.... Atau Anda takut melanggar 'aturan' yang berlaku? Takut teman-teman Anda akan terkejut dan kemudian menganggap Anda berbeda, tak lagi pantas masuk kelompok tersebut? Dan sebenarnya, inti dari semua itu adalah, Anda takut tak punya identitas, Anda takut sendirian, Anda takut kesepian. Karena itu Anda berdandan sebagaimana gaya berdandan kelompok yang ingin Anda masuki, dan berbicara sesuai gaya bicara kelompok yang ingin Anda ikuti. Apakah Anda selalu menggunakan bo atau nek, menggunakan istilah insecure dan elitis? Apakah Anda yakin bahwa Anda memang ingin membicarakan boots dengan hak bermotif tulang ikan Bottega Venetta, kosmetik keluaran Prada, kebijaksanaan Gus Dur, atau novel Supernova?

Perhatikan teman-teman Anda. Yakinkah Anda bahwa Anda memang ingin bersama mereka, ingin seperti mereka? Are you sure that you're my friend?

Pada suatu malam, saya naik taksi dari sebuah mal -tebak namanya- menuju rumah saya, jauh di Pondok Labu. Hujan deras dan rasa lelah membuat saya membiarkan sang sopir taksi yang kesepian tiba-tiba menceritakan masalah keluarganya. Istrinya yang cantik, mertua yang menganggapnya tak pantas untuk anak mereka, perjuangan mereka hingga akhirnya menikah dan beranak dua. Ketak-sanggupannya mencari pekerjaan yang menghasilkan lebih banyak uang, paksaan mertua untuk bercerai. Saya hanya memberikan komentar dan gumam singkat, sekedar menunjukkan bahwa saya mendengarkan.

"Tapi saya mencintainya, mBak!" katanya, tiba-tiba emosi sambil menoleh ke belakang. Wah, pernyataan cinta, keluar dari mulut seorang laki-laki Indonesia, sopir taksi, kepada istrinya sendiri pula, ini bukan main-main. Maka saya pun menegakkan tubuh dan mulai mencurahkan perhatian. Bagi kami berdua saat itu, tak ada masalah yang lebih besar daripada mencari cara memenangkan hati mertuanya. Dunia hanyalah seluas taksi, isi dunialah hanya kami berdua dan masalah itu. Sewaktu turun, saya membayar sambil mengucapkan 'selamat berjuang' atau semacamnya. Ia memandang saya dan berkata, "Terimakasih." Saya tahu, terimakasihnya
lebih dalam daripada sekedar rupiah di tangannya. Maka sesuai dengan azas di atas, 'a friend in need is a friend indeed', maka saya dan sopir taksi tadi telah berteman, selama kurang lebih dua jam.

Akhirnya, ada juga alasan lain untuk berteman.

April 18, 2001

[a+ magazine] Manipulating My Mind, Musically

Trivia question: What music is in which the harmony is confused, charged with modulations and dissonances, the melody is harsh and little natural, the intonation difficult?

Suatu restoran di taman sebuah hotel berbintang, kami berdua duduk di sebuah spot di tepi kolam berhiaskan air mancur kecil. Malam hari, cahaya remang lilin, jarak antar meja memudarkan suara-suara hingga tinggal serupa bisikan. Para pelayan bergerak cepat bagaikan
sosok-sosok misterius yang siap sedia menyiapkan menu demi menu. Sayup-sayup masih terdengar suara kendaraan, tetapi begitu terpendam, seolah berasal dari dunia lain. Sesaat terasa segalanya mundur ke latar belakang yang samar, dan hanya keberadaan kami berdua yang terasa. Ah, ini pasti bukan Jakarta.

Di pojok sana, serombongan pemain musik dalam setelan hitam mulai menyiapkan alat-alatnya. Kiranya musik apakah gerangan yang tepat untuk suasana seperti ini? Saya mulai menyenandungkan One Fine Day-nya Natalie Merchant yang ngelangut itu. Dan detik berikutnya saya merasa seperti disiram seember air dingin begitu mendengar Copacabana yang bersemangat, lengkap dengan perkusi dan -ini dia- goyang pinggul sang penyanyi wanita. Dan anehnya, justru ditingkahi musik meriah itu, suara kendaraan jadi terdengar lebih keras dan saya mulai bisa mendengar gosip dari meja sebelah. Dan kenyataan hidup dengan segala hiruk-pikuk dan permasalahan kembali ke permukaan. Man, this is Jakarta.

Baiklah, katakan saja saya orang yang terlalu romantis sehingga merasa malam indah itu tercemar hanya karena lagunya tidak sesuai bayangan semula. Pasalnya saya memang selalu menggunakan musik sebagai alat bantu untuk melarikan diri dari -atau melarutkan diri pada-
suatu kenyataan.

Saya berani bertaruh, pasti semua orang pernah memutar lagu cengeng sambil menitikkan air mata pelan-pelan ke atas bantal, menikmati kesedihan itu sendiri, biasanya sih akibat masalah klise macam patah hati. Salah satu pilihan saya adalah You-nya Basille Valdez, liriknya
saja sangat cengeng: 'It's your smile, your face, your lips that I'll miss, those sweet little eyes...'. Tentunya sambil membayangkan siapa pun itu yang dianggap mematahkan hati ini. Pilihan yang lebih kuno dan begitu cengengnya hingga lama-lama membuat saya tertawa adalah dari tante Titiek Puspa dengan Cinta: 'Kejam oh kejam, pedih oh pedih, cinta ooooh cinta....' Saya pernah menyanyikannya di sebuah taksi bersama seorang teman, dengan suara melengking tak
sampai dan sopir taksi berulangkali melirik lewat kaca spion untuk mengecek apakah kami mabuk atau gila. Sometimes I really need being pathetic.

Tentu saja lirik memegang peranan penting dalam lagu, terutama dalam suasana cengeng seperti itu. Tapi irama musik itu sendiri berpengaruh sangat besar pada suasana hati dan pikiran. Ketika dikejar deadline persis seperti saat sedang mengetik tulisan ini -yang tertunda karena basically, I'm a lazy person-, suara-suara digitalized seperti One More Time dari Daft Punk itu mampu menumpulkan indra-indra perasa yang lain hingga yang tinggal hanya komputer dan pikiran saya sendiri. Mungkin karena bunyi digital itu begitu tidak alaminya sampai-sampai membuat saya jauh dari keberadaan fisik saya sendiri, some kind of virtual situation, I guess. Terlalu berlebihan, Anda bilang? Ya sudah kalau nggak percaya.

Yang ini bukan karangan saya dan Anda pasti sudah pernah membaca bahwa musik klasik yang diperdengarkan kepada ibu hamil membuat bayi yang dikandungnya tumbuh lebih pesat, lebih sehat, dan lebih pintar, seperti iklan susu bayi. Bagaimana kalau sang ibu lebih memilih Stan dari Eminem featuring Dido? Mungkin sang bayi akan mengalami depresi dini karena diekspos pada musik berupa rentetan kata tak putus yang menggambarkan obsesi tak sehat. Tapi alasan utamanya adalah, irama musik klasik ternyata paling sesuai dengan denyut jantung manusia. Karena itu, pikiran menjadi lebih tenang karena jantung tidak dipaksa berdenyut berlainan dengan seharusnya. Nah, rupanya itu menjelaskan kemunculan ladang bunga tulip warna-warni dalam pikiran tiap kali saya terekspos pada Suite No. 1- Forlane dari tuan J.S. Bach.

Mungkin musik klasiknya orang Jawa adalah tembang, karena ketenangan serupa juga selalu saya dapatkan bila mendengar ibu saya menembang 'halauma linta-lintu, ora rambut ora untu, ngiyup selaning nggaru, ...' (walaupun saya sama sekali tidak tahu artinya). Entah mengapa, tembang Jawa yang selalu banyak menggunakan nada-nada minor itu membuat suasana menjadi begitu bening dan bersih, kegelisahan terangkat dan perasaan saya begitu ringan. Tak salah bila tembang ini dulu sering dinyanyikan saat Maghrib di tempat pengungsian Eyang Kakung saya untuk menenangkan hati para pengungsi perang.

Selain memunculkan ladang bunga tulip dan membuat saya melayang dalam kehampaan, rupanya musik juga bisa memanipulasi pikiran dan perasaan sehingga saya merasa sedang jatuh cinta. Bukan salah saya dong, berduaan pada suatu malam di tepi pantai, lalu dengan penuh
perasaan Stevie Wonder melantunkan 'You are the sunshine of my life, that's why I'll always be around. You are the apple of my eye, forever you'll stay in my heart' dengan ketukan perkusi sangat nikmat hingga mata saya jadi berbinar-binar penuh cinta (padahal bukan). Well, thank you very much, Mr. Wonder.

Bila lagu-lagu romantis itu mendorong timbulnya perasaan cinta -sungguhan maupun bohongan-, musik bising justru lebih menimbulkan gairah seks. Yang bener? Rupa-rupanya bunyi yang berdentum-dentum itu mengacaukan irama jantung hingga aliran darah ke otak terganggu dan menimbulkan rasa gelisah. Lagipula suara musik yang begitu kerasnya itu tak memberi kesempatan pada akal sehat untuk berbicara. Bisakah Anda mendengar pikiran sendiri pada suatu Jumat malam di Retro? Sebuah riset menunjukkan bahwa lebih banyak pasangan yang melakukan hubungan seks usai menonton konser musik keras daripada resital piano Ananda Soekarlan, misalnya. Penonton resital piano mungkin lebih memilih untuk tidur dengan perasaan tenang, nikmat, dan damai, sedangkan pikiran gelisah para penonton musik keras masih mencari-cari penyaluran.... Mungkin Anda bisa memanfaatkan pengetahuan ini bila sewaktu-waktu diperlukan.

Beruntunglah saya karena memiliki berbagai pilihan musik untuk merangsang pikiran kreatif, mengiringi kecengengan, menimbulkan harapan, maupun meredakan kemarahan. Saya pikir lebih baik saya tidak menyatakan diri sebagai penggemar satu jenis musik saja agar tidak kehilangan berbagai perasaan berbeda itu. Biarlah saya jadi orang yang plin-plan dan bisa berubah mood dalam sekejap hanya karena mendengar musik tertentu, paling tidak itulah salah satu cara mengontrol pikiran ke arah yang saya inginkan. Dan karena saat ini saya sedang ingin menggoyangkan kaki sambil membayangkan suasana retro akhir 70-an (oh betapa spesifiknya), maka saya putarlah sebuah disko klasik tahun 1976 dari Osibisa, Dance The Body Music. 'Hear the music play, feel your body sway, hear the DJ say, oh, what a big smash, big smash... dance the body music....'

Trivia answer: Salah besar bila Anda mengira jawabannya adalah grunge music. Sebenarnya ini adalah penggambaran musik baroque -seperti karya Vivaldi atau Handel- dalam Dictionary of Music yang ditulis oleh Rousseau pada tahun 1768.

March 18, 2001

[a+ magazine] Don't Hate Me Because I'm Thin

Tak perlu bertubuh langsing untuk menjadi bahagia. Benar atau salah?

Benar. Itu jawaban saya selama ini. Hingga suatu kali saya pergi makan siang bersama seorang rekan dan tercengang melihat ia rela menyantap sepiring salad belaka sebagai makan siang dengan alasan ingin menurunkan berat badan. Sementara itu, saya menyantap hot dog ukuran jumbo dengan santai saja. Dan tiba-tiba saya tersadar, mungkin saya beruntung karena selama
ini tak pernah tahu bagaimana rasanya kelebihan berat badan -walau sekilo jua.

Kemudian rekan saya itu bertanya -sesuatu yang tak pernah bisa saya jawab-, "Bagaimana sih caranya agar tetap kurus?" Anda tak mungkin menanyakan rahasia bertubuh kurus pada orang yang tidak tahu bagaimana rasanya tidak kurus. Saya tidak tahu apa rahasianya. Saya penggemar cokelat, hot dog, kopi instan, dan teh botol. Saya jarang makan sayur dan buah-buahan. Satu-satunya makanan sehat yang saya gemari adalah sushi. Sekali lagi, saya tidak tahu.

Jadi saya juga tidak tahu bagaimana beratnya perjuangan para wanita yang ingin menurunkan berat tubuh hingga ke batas ideal. Karena itu, mudah saja bagi saya untuk setuju bila ada yang mengatakan 'tak perlu bertubuh langsing untuk menjadi bahagia'. Dengan ringannya saya menyatakan slogan itu kepadanya, maksudnya untuk meringankan perasaan karena saya tak
bisa memberikan resep ampuh bertubuh kurus. Anda tahu apa jawabannya? "Memangnya salah kalau gue senang karena timbangan turun dua kilo? Badan ini, badan gue sendiri kan?" Uhuk, rasanya ulu hati saya ditonjok mendengar jawaban itu.

Sekarang memang tak jarang terdengar slogan-slogan yang menganjurkan wanita berhenti memikirkan soal penampilan. Para feminis - yang ketinggalan jaman - menyalahkan masyarakat yang membuat wanita lebih mementingkan kecantikan ketimbang otak. Menurut
mereka, kecantikan adalah sebuah mitos yang dibuat-buat, sebuah plot ciptaan masyarakat patriarkal untuk mengontrol wanita secara moral dan seksual. Lebih jauh lagi, plot ini bahkan menjadikan wanita sebagai obyek penarik keuntungan materi lewat dunia kosmetik, mode, dan makanan diet.

Saya jadi curiga, jangan-jangan pernyataan-pernyataan ini dibuat oleh mereka yang merasa tak mampu mencapai standar kecantikan yang mereka inginkan sendiri. Mengapa seakan-akan keinginan akan tubuh ideal menjadi suatu dosa? Memang benar -tentu saja- bahwa budaya
dan era berbeda memang mempunyai standar tubuh ideal yang berbeda pula. Memang benar bahwa anorexia dan bulimia adalah dampak sebuah obsesi yang berlebihan akan tubuh ideal. Tapi memang benar juga bahwa tubuh ideal itu adalah sebuah kenyataan, bahkan sebuah anugerah Tuhan yang akan tetap ada untuk selamanya. Karena itu, keindahan tubuh ideal seharusnya dihargai, bukannya dipaksakan untuk dianggap tak berharga.

Sejenak kita berpaling pada sejarah manusia sendiri. Bila pria bersaing satu sama lain melalui otot dan keberanian, wanita bersaing melalui tanda-tanda kesuburan yang sehat seperti kulit berbinar, rambut berkilau, bentuk tubuh yang melekuk sempurna. Hal ini terus berlangsung hingga kini, dan tak bisa disangkal lagi bahwa semua ini adalah tanda-tanda kecantikan umum yang diidamkan wanita tanpa peduli asal budaya maupun jamannya.

Rekan saya tadi sangat setuju mengenai hal ini, ia tak akan sudi tampil di depan umum dengan rambut acak-acakan dan lemak di seputaran perutnya. Selain tak percaya diri, ia juga merasa harus menghargai orang-orang di sekelilingnya. Anda tak bisa menyangkal kenyataan bahwa mata kita terasa lebih nyaman saat menatap wanita berpenampilan cantik dan rapi daripada
penampilan asal dan tubuh tak terawat.

Jadi, seharusnya keinginan akan tubuh ideal dipandang sebagai sebuah dorongan biologis yang normal, bukannya keinginan semu pemuas masyarakat patriarkal. Ini adalah sebuah dilema khas wanita, mereka bisa saja mengacuhkan segala kebiasaan feminin, seperti mengenakan make-up dan memperhatikan berat badan, dus mengorbankan penampilan demi mengikuti sebuah ideal yang entah benar entah salah. Atau tetap memperhatikan bentuk tubuh dan penampilan, lalu dicerca sebagai korban idealisme buatan kaum chauvinist. Kedua pilihan itu sama-sama memiliki akibat yang tak menyenangkan.

Kalau begitu, mengapa harus peduli? Kalau memang sudah yakin, tak perlu lagi mempedulikan pendapat yang berlawanan. Di jaman reformasi yang penuh kebebasan ini (lagi-lagi pernyataan klise!), seorang wanita boleh saja tetap berjuang mencapai berat badan ideal dan sekaligus merasa bahagia dalam perjuangannya. Boleh saja bila ia ingin mengenakan bustier ketat, sepatu hak tinggi, atau sekalian melakukan operasi plastik dan menganggap itu semua adalah kebebasannya sendiri dalam menentukan pilihan hidup, sama bebasnya dengan mereka yang mengaku tidak peduli soal penampilan.

Bila dipikir lebih lanjut, segala hal yang dipromosikan untuk mencapai tubuh ideal -olahraga dan
makanan bergizi- sebenarnya menjamin tubuh yang sehat juga. Bukan kebetulan bila seorang wanita yang memperhatikan penampilannya cenderung merasa sehat fisik maupun mental. (Sampai di sini, berarti selama ini saya telah menjalani pola hidup tak sehat dan tak menyadarinya karena tak merasakan akibat berupa kelebihan berat badan. Nah, jadi saya beruntung atau tidak beruntung?)

Mungkin sebaiknya kita tidak usah memusingkan soal keinginan bertubuh langsing, itu kan pilihan bebas setiap individu. Yang lebih penting adalah kemampuan untuk mengakui bahwa tubuh ideal adalah suatu kenyataan, bukan idealisme yang dibuat-buat. Kita harus mampu bersebelahan dengan seorang wanita bertubuh ideal tanpa merasakan menciutnya rasa percaya
diri, lalu menutupinya dengan pura-pura kasihan karena menganggapnya sebagai seorang korban.

Benar juga bila dikatakan bahwa kita tak perlu bertubuh langsing untuk merasa bahagia. Tapi tak ada yang bisa menyalahkan Anda bila merasa bahagia karena bertubuh langsing.

December 20, 2000

[a+ magazine] Anda Bosan ke Salon?

Orange is Back! Golden Girls! Drop Dead Red! Pale is Now! Colours, Colours, Colours! Tolong! Jangan bingung, trend make-up hanyalah hasil keberanian dan
kreatifitas pribadi.


Seraya mengoleskan cat kuku bernuansa golden pink pada kuku-kuku jemarinya yang lentik, Bella mengeluh tentang koleksi eye shadow dan lipstik bernuansa shimmery pale-nya yang tak bisa lagi digunakan. 'Lho, kok bisa terjadi begitu, mBak? Salah pilih warna, ya?' tanya saya. Bukan begitu, ternyata ia merasa harus mengganti peralatan kosmetiknya dengan yang bernuansa keemasan demi mengikuti trend 80-an yang (katanya) sedang melanda dunia mode.

Masa sih? Padahal saya sedang jatuh cinta pada gaya Winona Ryder yang baru-baru ini muncul dengan smoky eyes dan nude lips. Dengan penuh percaya diri, saya mengutarakan keinginan untuk mengikuti gaya tersebut, jangan-jangan wajah saya mirip Winona? Cercaan rekan-rekan sejawat segera membuat saya mengurungkan niat tersebut.

Semua orang tahu, dalam dunia make-up juga ada trend seperti dalam dunia mode. Tapi entah kenapa, definisinya tak lagi semudah dulu. Andaikan saya hidup di tahun 40-an, saya takkan ragu mencukur alis hingga habis dan menggambarnya lagi jauh tinggi berbentuk garis tipis. Sedangkan bibir saya pasti semerah darah dengan bentuk menguncup di tengah. Pasalnya, inilah petunjuk pelaksanaan yang dianjurkan kepada semua wanita, dimulai dengan Rita Hayworth. Tetapi sekarang aturannya tak lagi sejelas dulu. Jadi bagaimana, yang mana, dan benarkah?

Jangan bimbang dan jangan ragu, sebenarnya panggung mode dunia masih merupakan sumber panduan untuk menemukan garis besar trend make-up, walau tak berarti gaya yang persis sama bisa diterapkan mentah-mentah dalam kenyataan sehari-hari. Sama seperti para perancang dengan ciri khas masing-masing, make-up pun kini lebih merupakan ekspresi diri si pemakainya. Sudah bukan masanya wanita harus tampil hampir kembar dengan goresan eyeliner ala mata kucing yang persis sama. Gaya apa saja sah untuk diterapkan, warna apa pun, yang penting membuat Anda merasa nyaman.

Karena itu, jangan heran -- misalnya -- bila melihat fashion editor majalah Vogue Italia, Anna Piaggi, dengan blusher merah yang begitu nyata dari pipi sampai ke dahi. Tak masalah bila kepercayaan diri Anda sebesar Anna, tetapi demi terjaganya ketentraman pemandangan dan perasaan masyarakat, sebaiknya Anda memilih gaya dandanan yang lebih masuk akal.

Matte vs. Shiny

Secara umum, riasan bergaya matte dan super-polished tak lagi digemari. Tetapi bila Anda menyukainya, tak apa, asalkan rela dipanggil 'tante' daripada 'mBak'. Kesan shiny yang dulu dihindari kini justru disukai, tetapi jangan disalah-artikan dengan muka lusuh-berminyak. Lakukan perawatan kulit wajah secara intensif karena kulit sehat merupakan modal dasar gaya
shiny. Cukup gunakan sedikit foundation untuk meratakan warna kulit -- kulit Asia lebih sesuai
dengan nuansa dasar kuning, bukan pink -- dan sedikit bedak di atasnya bila perlu. Bila jenis kulit Anda kering, penggunaan bedak boleh dilewatkan.

Temuan teknologi dalam dunia kecantikan menghasilkan berbagai produk yang mengandung light-diffusing particles. Bila label pada foundation, bedak, maupun eye shadow dan blusher Anda memuat kata-kata ini, berarti kosmetik ini mengandung partikel-partikel super kecil dengan kemampuan memantulkan cahaya. Efeknya adalah wajah yang nampak bercahaya tetapi tak berminyak, bayangkan para artis sinetron yang selalu disorot dengan efek soft-lens. Tak perlu menggunakan produk ini dalam jumlah banyak dalam sekali pemakaian, tak ada efeknya sama sekali. Banyak atau sedikit, hasilnya sama saja.

Bila Anda bertanya warna apa yang sesuai dengan gaya shiny, berarti Anda belum mengerti konsep ini. Warna apa pun sah saja dikenakan, asalkan teksturnya tak matte. Warna berefek shimmery dapat diulaskan sangat sedikit untuk efek soft atau lebih banyak untuk warna yang lebih matang. Pilihan warnanya, sesuaikan saja dengan warna busana dan perasaan Anda.

Tetapi hati-hati dengan warna gold, bronze, dan silver. Untuk kulit Asia yang sawo matang, salah menggunakan warna-warna ini akan membuat wajah justru nampak kusam dan tak bersinar, bagaikan black hole yang menyerap cahaya. Gunakan (sangat) sedikit saja sebagai highlight di tulang alis, kelopak mata, atau bagian tengah bibir.

Be Innovative!

Kreatifitas adalah salah satu kunci make-up. Bukan hanya dalam padu-padan dan pencampuran warna, tetapi juga pemulti-fungsian sebuah produk. Ulaskan lipstik berwarna netral pada kelopak mata, baurkan warna yang lebih kuat sebagai blusher pada pipi. Berikan sentuhan warna pada bibir Anda dengan menggunakan eye shadow yang mengandung glitter. Jangan ragu mengoleskan lipgloss di tulang alis sebagai highlight atau di atas kelopak mata untuk menguatkan warna eye shadow. Dengan ujung jari, oleskan sedikit glitter pada bulu mata yang telah bermaskara agar mata nampak lebih besar dan bercahaya. Multi-fungsikan eye shadow sebagai eyeliner dengan menggunakan kuas kecil yang lembap.

Variasikan riasan mata smoky yang biasanya menggunakan eyeliner dan kelopak bernuansa charcoal dengan olesan kuat warna gelap lainnya seperti purple, deep gold, atau moss green, bahkan maroon. Bereksperimenlah dengan warna-warna yang tak biasa Anda gunakan, seperti orange, violet, atau turquoise. Tampil alami tak lagi berarti brown eye shadow dan lipstik bernuansa senada dengan bibir. Dengan efek shimmery, semua warna akan berkesan lebih lembut, jadi takkan nampak 'mengerikan'. Cobalah tampil hanya dengan efek glossy pada kelopak mata dan bibir sebagai alternatif penampilan alami yang segar. Hati-hati, jangan berlebihan agar tak dikira keringatan.

Kembali ke Dasar

Sebagaimana semua hal, maka ada aturan dasar demi menjaga tertibnya pemakaian kosmetik dalam dunia tata rias ini. Misalnya pemilihan fokus pada mata atau bibir. Hal ini sangat penting agar wajah tak nampak berlebihan. Aturannya sih, biasa saja, bila kelopak mata menggunakan warna kuat, gunakan warna netral pada bibir, dan sebaliknya.

Tampil klasik juga bisa berarti kembali dengan bibir berwarna merah darah dan kelopak bernuansa netral. Di tengah segala warna-warna lembut, penampilan ini akan membuat Anda 'kelihatan' dibanding yang lainnya. Bila masih tergila-gila dengan efek matte, gunakan sebagai
efek khusus pada mata atau bibir dan padukan dengan nuansa shiny di bagian lainnya.

Aturan dasar lainnya adalah pembedaan gaya make-up sehari-hari dan yang lebih glamour untuk saat-saat tertentu. Bukan apa-apa, ini hanya agar Anda nampak berbeda daripada penampilan biasa, itu kan salah satu tujuan Anda datang ke acara khusus? Tak perlu repot-repot menghapus seluruh make-up dan mengulang kembali dari awal, kecuali bila Anda memang biasanya tak punya banyak kegiatan. Tambahkan saja warna yang lebih kuat pada riasan sehari-hari, sedikit efek shiny di sana-sini, dan ubah tatanan rambut. Itu semua sudah
cukup.

Dan setelah semua percobaan, eksperimen, dan susah-payah yang Anda lakukan, ingatlah bahwa Anda tidak sedang meniru siapa-siapa, tetapi sedang mencari diri Anda sendiri. Bertahanlah dengan apa yang membuat Anda nyaman, sebenarnya itulah esensi trend make-up saat ini. Jadi, bila ada yang mencela Anda yang kukuh bertahan dengan lipstik merah, balas saja dengan acuh tak acuh, situ oke?

[a+ magazine] The Party Countdown

Anda hanya punya tiga minggu untuk menampilkan resolusi penampilan akhir tahun yang spektakuler. Siapkah Anda menerima tantangan ini?

Tekad Anda sudah bulat. Kali ini Anda akan merencanakan benar penampilan paling 'oke' untuk pesta tutup tahun nanti. Walau berangkat ke pesta tak berkawan, yang pasti, pulangnya Anda tak akan sendirian. Yah, paling tidak ditemani sejumlah nomor telepon baru yang cukup prospektif.

Tiga Minggu Sebelumnya: The Planning

Jangan buang-buang waktu yang hanya tinggal tiga minggu, sisihkan hari pertama untuk menelaah kembali penampilan Anda. Apakah perut Anda mulai bergelambir, atau otot-otot lengan agak melunak? Jangan sampai tubuh Anda terasa lembek saat menopang seorang wanita cantik yang -siapa tahu terjadi- tiba-tiba terpeleset. Mulailah dengan mengunjungi pusat kebugaran secara teratur. Tiga atau empat kali seminggu selama tiga minggu sudah cukup untuk mengencangkan kembali tubuh yang mulai kendur. Yang penting realistis, bila Anda berkeras hati mengurangi limabelas kilo berat tubuh dalam tiga minggu, jangan-jangan Anda takkan sempat menikmati indahnya pagi perdana tahun 2001.

Kulit wajah jangan dilupakan. Pria pun perlu tampil dengan kulit mulus tanpa jerawat maupun noda. Untuk masalah jerawat yang cukup parah, segeralah mengadakan kunjungan ke dokter kulit terkemuka daripada mencoba-coba pengobatan yang tak tentu hasilnya. Anda yang beruntung tanpa jerawat, cukup melakukan pembersihan wajah secara teratur. Minimal dua kali
sehari dengan sabun khusus muka dan dua kali seminggu melakukan scrubbing dengan scrub cream atau scrub gel. Cukurlah wajah setiap hari, hal ini akan membantu membersihkan pori-pori kulit. Akhiri minggu ini dengan melakukan facial di salon sesuai dengan jenis dan masalah kulit Anda.

Bagaimana dengan rambut? Rasa-rasanya modelnya sudah mulai tak jelas. Untuk rambut yang agak pendek, rapikanlah dua minggu sebelum harinya. Selama waktu itu, rambut akan bertumbuh hingga 'menemukan' bentuknya yang paling mapan. Tetapi bila potongan rambut Anda crew-cut yang samar-samar menampakkan kulit kepala, tunda saja merapikan rambut hingga dua hari sebelum acara. Para pria gondrong boleh menggunting ujung rambut yang bercabang sejak tiga minggu sebelumnya. Tetapi saran saya, potong saja rambut gondrong itu, sudah tak jamannya lagi dan daripada dianggap 'sok' seniman.

Potongan rambut yang rapi saja belum cukup, kesehatan rambut dan kulit kepala perlu juga diperhatikan. Bila rambut berketombe, mulailah menggunakan shampoo anti ketombe sehari-hari. Tak ada salahnya mulai melakukan perawatan creambath di salon untuk merangsang sirkulasi darah di kulit kepala. Lancarnya aliran darah mampu meringankan masalah ketombe hingga menyehatkan rambut.

Dua Minggu Sebelumnya: Image Power

Setelah jadwal perawatan sudah berjalan lancar, Anda bisa mulai menyiapkan setelan yang sesuai dengan citra yang diinginkan. Tahun baru, baju baru? Belum tentu, intiplah isi lemari pakaian dan padu-padankan dengan sentuhan baru. Bila hal ini sepertinya terlalu berat dilaksanakan -yah, mungkin memang lebih mudah membeli sebuah setelan yang sama sekali baru.

Yang penting adalah menciptakan citra diri yang -- menurut Anda -- paling tepat. Apakah Anda ingin tampil sebagai Mr. Sensitive dengan penampilan sedikit acak yang membuat wanita gemas ingin merapikan? Atau sebagai Mr. Macho dengan rambut crew-cut, tato (palsu) di lengan, dan kemeja ketat yang mencetak perut kotak-kotak? Mungkin Mr. Rich dengan aroma parfum mahal dan logo-logo terkemuka di sudut-sudut strategis busana Anda -- yang ini modalnya memang jauh lebih besar.

Citra apa pun yang Anda pilih, sekalinya ditetapkan, pasti akan melenyapkan sebagian besar kebingungan. Luangkan minggu ini untuk menjalani rutinitas perawatan tubuh serta merenungkan citra diri. Memang, yang paling baik adalah tampil sebagai diri Anda sendiri. Tetapi diri Anda sendiri pun perlu sedikit 'muatan' tambahan agar nilainya naik dibanding ratusan pria lain yang juga tampil sebagaimana diri mereka sendiri.

Seminggu Sebelumnya: Check and Recheck

Baiklah, siapakah Anda kini? Seharusnya otot-otot sudah mulai mengencang, perut mengempis, dan rambut sehat berkilauan bak iklan shampoo. Dengan bahan dasar yang bagus ini, silakan bergerak ke tahap selanjutnya, check and recheck.

Benarkah tubuh Anda sudah sempurna? Bila belum, sudahlah, jangan paksakan diri. Sekarang sudah terlambat, jadi konsentrasikan perhatian pada bidang-bidang lainnya.

Sudahkah rambut nampak sehat, berkilau, dan tanpa ketombe? Bila belum, potong saja pendek-pendek. Dengan potongan super cepak, rambut tak sehat takkan kentara, di lain pihak, kulit kepala juga bisa bernafas lebih lega. Masih saja berketombe? Bila Anda nekat, gunduli saja. Bald is sexy, lho.

Bagaimana dengan kulit wajah? Bila masih saja ada jerawat dan noda yang mengganggu, tak apa. Jangan biarkan pemakaian concealer atau foundation melintasi pikiran! Biarkan saja alat-alat kosmetika itu tetap di meja rias kakak perempuan Anda, sebagai gantinya sinarkan kepercayaan diri dan ego Anda, Seal saja tetap dianggap seksi walau wajahnya bertoreh bekas
luka.

Menjelang pertengahan minggu, sebuah dilema akan menghadang Anda. Hadapilah dengan pemikiran matang sesuai dengan citra Anda semula. Ketika rambut mulai menumbuhi wajah, Anda harus menentukan keputusan: mencukurnya hingga bersih atau membiarkannya tumbuh. Pilihan pertama jelas lebih mudah, karena takkan berujung pada masalah selanjutnya, yaitu soal bentuk. Tak jadi masalah bila Anda ingin tampil dengan hiasan rambut di wajah, tapi bukan berarti Anda harus kelihatan seperti Robinson Crusoe saat ditemukan kembali. Rapikan kumis dengan gunting kecil agar nampak rapi, tapi berkumis tak berkumis, ingatlah bahwa sejumlah wanita lebih menyukai pria tak berkumis. Tak masalah, yang sebaliknya juga banyak.

Kumis saja tak cukup rupanya, Anda ingin melengkapinya dengan jenggot. Hilangkan jauh-jauh pemikiran untuk tampil dengan jenggot panjang -- ini cuma tampak bagus di film silat. Jenggot pendek lebih modern, bisa dibentuk hingga menyambung dengan kumis, atau yang lebih old-fashioned, menyambung dengan cambang alias side-burns. Tidak, tidak, kumis tak menarik, Anda memutuskan untuk tampil dengan jenggot saja. Ya tidak apa-apa, yang penting sang jenggot tetap pendek dan rapi. Minus kumis dan jenggot, Anda bermaksud memanjangkan side-burns, agak-agak Elvis Presley: benarkah ini keinginan Anda dan siapkah dengan konsekwensinya? Akhirnya dilema soal rambut wajah berakhir dengan kenyataan bahwa Anda ditakdirkan berwajah 'bayi' tanpa kehadiran bulu -- see prev. option.

Hari H: It's Now or Never!

Hari yang dinanti akhirnya datang jua, hati Anda gembira sekaligus cemas. Alihkan kegelisahan pada persiapan detil-detil akhir seperti menentukan dasi yang biru atau merah. Tetapi jangan membuat keputusan mendadak seperti pergi berbelanja sepatu atau dasi di saat-saat ini. Masalah seperti ini seharusnya sudah dibereskan pada minggu kedua.

Sempatkan untuk beristirahat secukupnya agar Anda siap tampil segar hingga pagi menjelang. Makanlah secukupnya, jangan kekurangan agar Anda tak nampak seperti si rakus di pesta. Jangan pula berlebihan hingga perut mudah terpancing hanya oleh segelas cocktail pertama.

Dua jam sebelum berangkat, sebaiknya Anda mulai bersiap-siap. Mulailah dengan -- tentu saja -- mandi hingga bersih. Kegiatan selanjutnya sudah tentu berjalan lancar, dengan persiapan selama ini. Potongan rambut yang sudah rapi cukup dibentuk dengan gel atau wax sesuai rencana, segarkan wajah dengan after shave lotion pilihan pribadi. Then slip into your planned
outfit dan semprotkan parfum kesayangan. Pemakaian aksesori merupakan sentuhan terakhir: jam tangan, gelang, kalung, anting, sepatu, dan jangan lupa seperangkat dompet dan isinya. Jangan datang terlambat, burung yang datang paling pagi memiliki lebih banyak kesempatan. Tapi kalau mau telat, telat sekalian. Fashionably late, karena mungkin Anda akan
dapat lebih banyak perhatian daripada beribu-ribu orang lain yang datang tepat waktu atau hanya agak telat.

Percayalah bahwa segala perjuangan berat selama tiga minggu silam telah membuat penampilan Anda cukup mengesankan. Istilah spektakuler mungkin jadi berlebihan setelah melihat pria-pria lain di arena. Tetapi bila tetap saja Anda sendiri hingga tahun berganti, jangan bertanya mengapa, maybe you're just not my type. Lagipula, ini kan cuma sebuah pesta, go on and have fun!

August 29, 1998

[Kompas] Harus Kembali Membangun Keindonesiaan

SAYA orang Indonesia asli, begitu disebutkan. Bukan, saya bukan Tionghoa. Saya wanita Jawa asli, muslim, yang biasanya disebut pribumi; bukan Tionghoa. Lalu kenapa? Kenapa kalau saya bukan Tionghoa? Apa itu pribumi? Siapa itu pribumi?

Sejak masa kerusuhan sampai sekarang, saya menjalani hidup seperti biasa. Makan, minum, jalan-jalan dengan teman. Mau ke mana pun saya suka, saya bisa. Saya tidak takut, ‘kan Jakarta sudah aman. Yah, walau memang, hidup agak susahlah sedikit; harus berhemat, maklum sedang ada krisis moneter yang lebih dikenal dengan krismon. Tapi semua orang juga begitu, harus berhemat. Semua orang?

Sungguh tidak adil bahwa saya masih tenang-tenang menjalani hidup saya seperti tidak pernah terjadi apa-apa. Padahal sementara itu ada begitu banyak orang yang bukan saja tidak menjalani kehidupan biasanya, bahkan tidak punya hidup lagi walaupun mungkin tidak mati. Tapi bisa jadi juga merasa lebih baik mati.

Bagaimana saya bisa begitu bodoh selama ini? Saya telah tumbuh dan dibesarkan di antara makhluk buas. Dan saya tidak tahu. Saya kira saya orang paling beruntung di dunia, hidup di tempat yang paling aman, damai, tenteram, dan sentosa. Itu seperti kata ibu dan bapak guru waktu di sekolahan dulu; yang saya sungguh percaya.

Walaupun pernah ketika kecil dulu saya masih di Semarang ikut orangtua, tahun 1980, bertanya-tanya apa maksud tulisan "pribumi" di banyak pintu rumah penduduk. Kata ibu, itu supaya aman, tidak dikira Tionghoa. Saya tetap tak mengerti penjelasan ibu, tetapi mengangguk-angguk tak berani tanya lebih jauh. Lalu sekolah diliburkan tiba-tiba lewat pengumuman di TV dan surat kabar. Tentu saja saya senang, buat bocah kelas 3 SD, bisa mendapat libur tiba-tiba adalah suatu anugerah yang mahal.

Tapi waktu masuk lagi, salah seorang teman saya sibuk bercerita tentang bagaimana ia dan keluarganya melarikan diri dan bersembunyi dari sekelompok pribumi yang mengamuk. Pribumi, lagi-lagi pribumi, kejam sekali mereka itu, para pribumi, begitu pikir saya. Moga-moga saya tidak pernah bertemu dengan salah seorang pribumi itu. Bodoh ya, kelas 3 SD waktu itu saya belum tahu persis makna istilah tersebut.

Lama..., lama saya baru memahami kalau saya adalah salah seorang dari kelompok menakutkan tersebut, karena ternyata saya pribumi. Karena ibu-bapak saya pribumi, eyang-eyang saya pribumi, buyut dan seterusnya pribumi. Dan karena Jawa itu pribumi. Juga Batak, Minang, Manado, dan lain-lain semua pribumi. Yang tidak pribumi cuma satu; cuma Tionghoa. Absurd.

Untuk pembauran, Tionghoa harus ganti nama. Jangan A Liang atau Li Ling. Itu tidak boleh! Tidak pembauran! Dan akhirnya mereka menciptakan nama-nama baru, yang kadang teramat bagus, dan nama marga mereka jadi kabur, tercerabut dari akar budaya.

Ada pula yang punya dua nama, yang satu nama ‘resmi’, yang lainnya diletakkan dalam kurung (nama kecil). Terkurung, seperti hidup yang harus mereka jalani. Terkurung birokrasi, terkurung keegoisan manusia lain yang menyombongkan kemayoritasannya. Terkurung di tanah yang indah berhiaskan nyiur melambai.


***


Maafkan saya, karena tidak tahu harus bagaimana. Maafkan saya, karena tidak tahu harus berbuat apa. Maafkan saya, karena telah menutup mata karena tak tega menyaksikan.

Berulang kali saya mencoba, tapi tangan saya selalu terlalu gemetar untuk memutar nomor-nomor telepon teman-teman saya itu. Bagaimana kalau kabar buruk yang saya dengar? Bagaimana kalau ia tak ada lagi... entah ke mana, bagaimana kalau ia terlalu menderita? Sanggupkah saya menolong? Apa yang bisa dilakukan setelah semua kehancuran ini?

Wanita-wanita dipermalukan dan dilecehkan. Hidup macam apa yang bisa dijalani setelah itu (kalau masih ada hidup), saya tak sanggup, tak kuat untuk membayangkan. Dan bisa jadi salah seorang dari mereka adalah teman saya. Bisa jadi salah satu teman saya yang sering jalan bareng, yang selalu saya cintai dan hargai.

Saya sudah muak dengan segala berita politik dan reformasi yang tiap hari kini didengung-dengungkan semua orang. Sekarang semua orang angkat bicara, berapi-api dan bersemangat bagaikan pejuang kemerdekaan dahulu.

Sekarang begitu banyak pengamat ekonomi, politik, dan sosial, yang begitu cemerlang mengemukakan ide-ide ini dan itunya. Para pemberani seakan lahir bersamaan di muka bumi Nusantara ini, menyuarakan suara rakyat kecil (dan siapa sih rakyat kecil itu, apakah saya termasuk di dalamnya?). Di mana mereka, para pemberani itu, tiga-empat bulan yang lalu? Apakah mereka sedang tertidur pulas dibuai angin sepoi-sepoi di bawah nyiur hijau di tepi pantai yang indah permai hasil pembangunan?

Apa pun yang terjadi kini, buat sebagian orang, sudah tak ada artinya lagi.


***


SEJARAH menyatakan, penduduk Indonesia datang dari daratan Tionghoa berabad-abad yang silam. Kemudian beberapa puluh tahun lalu, kerabat-kerabatnya menyusul dari Tionghoa.

Tapi tidak; tidak bisa disebut demikian! Karena yang datang duluan sudah berubah wujud menjadi pribumi, dan yang datang kemudian harus tetap disebut Tionghoa, pendatang.

Hanya karena kita datang duluan, lalu kita jadi berbeda? Ya. Ya, itulah adanya yang diyakini di sini, sekarang.


Saya wanita, sama seperti ratusan wanita yang dilecehkan hari itu.

Saya Jawa, pribumi, sama seperti ratusan makhluk buas hari itu.

Saya orang Indonesia, sama seperti ratusan orang yang dikejar dan mengejar hari itu.

Saya muslimat, saya percaya pada Allah, dan saya berlindung kepada-Nya.

Ya Allah, ke mana hati ini harus kubawa?

Indonesia, Indonesia, sebegitu hancur dan buruknya. Tapi saya telanjur jadi orang Indonesia, karena lahir dan dibesarkan di sini; tak dapat mengubah nasib ini lagi. Walaupun ternyata tak ada nyiur melambai dan padi kuning merayu, saya telanjur jatuh cinta pada Indonesia. Dan kira-kira begitu juga yang dirasakan oleh banyak orang Indonesia lainnya.

Lalu kenapa kita harus mempersoalkan perbedaan? Bukankah kita memang berbeda? Bukankah itu yang membedakan manusia dari binatang? Perbedaan yang membuat manusia beragam dan bermacam-macam. Apa menariknya sekumpulan manusia yang tak berbeda, bagaikan segerombolan robot dari sebuah pabrik. Ataukah kita memang sedang dalam proses robotisasi, menjadi boneka-boneka yang mudah dibentuk oleh tangan-tangan tertentu. Seperti sekumpulan bebek yang beriringan ke arah mana pun sang gembala mau: sama, sama, sama. Yang tidak sama adalah musuh, yang berbeda harus diperangi, dihancurkan, disingkirkan.

Kebencian ditanamkan dan diturunkan dari kakek ke anak, ke cucu, ke buyut. Apa mereka itu bodoh semua dan hanya menerima begitu saja, tanpa punya pikiran sendiri? Kebencian yang akhirnya tanpa alasan, menjadi kosong, hampa, hanya kebencian atas nama kebencian semata. Dan bagaikan robot yang hanya tergerakkan oleh kebencian, mereka berbuat dan bertindak tidak lagi menjadi manusia. Mereka kehilangan hakekatnya sebagai manusia dan merobek-robek hakekat manusia lainnya.

Tiap malam saya buka internet, memaksakan diri membaca berita dari mana-mana yang aktual. Dan saya gemetaran dan menangis tanpa mampu berbuat apa-apa manakala mendapati berita yang mengerikan menyangkut negeri saya. Saya jadi tersiksa, memendam berbagai pertanyaan, dan pemikiran, dan pengandaian. Andaikan tak terjadi, andaikan tak terjadi...

Saya begitu sedih dan kecewa. Tidak ada lagi kebanggaan dan rasa aman yang selama ini melingkupi. Saya memandangi sekeliling saya dengan penuh kecurigaan. Jangan-jangan dia makhluk buas itu, jangan-jangan dia makhluk biadab itu... Hancur sudah dunia mimpi yang kekanakan dulu itu.

Mulai saat ini, saya harus hidup dengan penuh kewaspadaan, bahkan kecurigaan pada manusia dengan topeng-topengnya. Mungkin juga saya harus mulai membuat topeng-topeng untuk saya pakai agar hidup saya aman. Agar saya tidak tiba-tiba menghilang dari dunia, rohaniah atau sekalian badaniah.

Saya orang Indonesia, seperti dua ratus juta lainnya yang berstatus Warga Negara Indonesia, apa pun sukunya. Saya orang Indonesia, asli atau tidak asli saya tidak lagi peduli. Saya orang Indonesia, apakah masih boleh bangga kalau kenyataannya sekarang setelah 53 tahun merdeka masih harus kembali kerja keras membangun keindonesiaan?