July 20, 2001

[a+ magazine] Jangan Bangun Pagi-Pagi!

Burung yang bangun paling pagi mendapat lebih banyak cacing. Tapi Anda bukan burung, dan Anda pasti tidak suka cacing.

Hobi saya? Hmm... tidur. Ini cukup memalukan, soalnya jawaban ini dianggap tidak biasa. Belum lagi bila ditambah dengan cap pemalas dan tidak aktif. Tapi ini bukan mengada-ada, pada akhir pekan saya selalu menghadapi dilema antara bersosialisasi dengan teman-teman atau tidur seharian. Tough choice.

Tapi coba pikirkan dulu. Bukankah jaman dahulu manusia memang menghabiskan banyak waktu untuk tidur? Dulu manusia tak punya pilihan selain tidur setelah matahari terbenam karena tak adanya lampu, radio, maupun televisi. Penemuan listrik memang membawa banyak kemudahan pada kehidupan, tetapi sekaligus membuat manusia jadi kekurangan waktu tidur. Pada awal tahun 1900-an, waktu tidur manusia rata-rata adalah 9 jam setiap harinya, dan kini telah berkurang hingga tinggal 7 jam atau malah kurang.

Jangan menganggap remeh soal berkurangnya waktu tidur ini. Kurang tidur dapat mempengaruhi stamina, mengurangi daya ingat, memperlambat proses mental dan menyebabkan sakit kepala. Seorang ahli bedah membuat kesalahan 20 persen lebih banyak akibat kurang tidur. Ini memang hanya hasil simulasi -untunglah- tapi jangan lupa bahwa simulasi memberikan hasil yang kurang lebih sama dengan kejadian sebenarnya.

Kurang tidur juga meningkatkan resiko diabetes dan serangan jantung karena meningkatnya kadar gula darah. Bukan hanya itu, kurang tidur ternyata mempengaruhi hormon tubuh, metabolisme, dan jaringan syaraf dengan efek yang serupa dengan penuaan. Jadi, semakin kurang waktu tidur Anda, semakin cepat Anda tua. Mungkin ini yang namanya beauty sleep.

Early risers, watch out! Sebuah riset dari University of Westminster bahkan menunjukkan bahwa mereka yang bangun sebelum matahari terbit cenderung lebih tegang dan mudah marah dibandingkan mereka yang bangun pada saat matahari sudah cukup tinggi. Selain itu, para early riser ini juga lebih sulit berkonsentrasi seharian, lebih mudah terkena pilek, sakit kepala, dan kejang otot.

'Tapi saya merasa baik-baik saja, padahal cuma tidur lima jam sehari.' Mungkin Anda berkata demikian. Jangan yakin dulu, mungkin Anda belum sadar bahwa kemampuan yang Anda tunjukkan sehari-hari ternyata tidak maksimal. Anda memang bisa menjadi terbiasa dengan sedikitnya waktu tidur, tetapi Anda tak mungkin mengurangi kebutuhan tidur tersebut.

Kalau begitu, sebenarnya berapa tepatnya waktu yang dibutuhkan untuk tidur? Delapan jam adalah minimal, beberapa pakar bahkan menyarankan sembilan hingga sepuluh jam. Tapi tuntutan ini ternyata sangat sukar dipenuhi. Berbagai alasan, mulai sibuk bekerja hingga sekedar tak mau melewatkan acara larut malam di televisi menjadi penyebabnya. Untuk bangun pada jam enam pagi, Anda harus sudah di tempat tidur pada pukul sepuluh malam. Berarti harus melewatkan aksi Pamela Anderson di serial VIP, sanggupkah Anda melakukan hal itu?

Remaja sering memenuhi kekurangan waktu tidur ini dengan tidur seharian pada akhir pekan, semacam bayar utang. Tetapi semakin dewasa manusia, tidur menjadi semakin ringan dan mudah terganggu, tidur seharian hampir tak mungkin dilakukan tanpa akibat sakit kepala.

Setelah sadar akan pentingnya jumlah tidur, memaksakan diri untuk tidur lebih banyak ternyata telanjur tak mudah. Penyebabnya adalah tubuh yang telah terbiasa dengan jam tidur -walaupun kurang- itu. Dilema ini tidak bisa diatasi hanya dengan sekedar menelan sejumlah pil tidur. Masalahnya, pil tidur hanya menghasilkan tidur ringan tanpa mimpi, bukan jenis tidur yang 'bermutu'. Jadi, jalan satu-satunya adalah membiasakan tubuh kembali pada jadwal tidur yang tepat.

Ini bisa dimulai dengan membuat jam tidur yang teratur dan berusaha menepatinya. Beberapa hari pertama mungkin sulit dilakukan, tapi jangan menyerah. Berbagai teknik relaksasi bisa Anda lakukan untuk membantu tidur, misalnya minum secangkir teh chamomile hangat atau segelas susu hangat, melakukan meditasi atau yoga, mandi air hangat atau berolahraga ringan
sebelum tidur.

Tidur yang bermutu juga sangat ditunjang oleh keadaan kamar tidur serta ranjang Anda. Pastikan bahwa cukup tersedia udara di kamar tidur. Sebaiknya hawa kamar tidur terjaga agar cukup sejuk, tetapi tidak terlalu dingin, hangat, apalagi panas. Jangan meremehkan kenyamanan tempat tidur Anda, ingatlah bahwa Anda akan menghabiskan kira-kira 100 hari dalam setahun di tempat tidur. Ranjang yang kokoh, kasur yang tidak terlalu empuk atau terlalu keras, sprei yang bersih dan terbuat dari bahan yang menyerap keringat. Saat bangun di pagi hari, mungkin Anda tak akan ingat bila tidur Anda terganggu, tetapi akibatnya akan sama saja dengan bila Anda tak tidur.

Keadaan gelap sangat membantu mudahnya Anda tertidur. Rata-rata manusia tertidur 15 menit setelah lampu dimatikan. Tetapi sedikit musik tenang boleh juga menjadi pilihan pengantar tidur. Jangan salah pilih musik, walaupun Bonnie and Clyde-nya Eminem memiliki irama yang cukup tenang, apalagi ditambah suara bayi yang lucu, tetapi liriknya bisa dipastikan
akan mengganggu tidur Anda, apalagi setelah bunyi ceburan di air itu. Karena itu -tak bisa disangkal lagi- musik klasik tetap menjadi pilihan utama, selain iramanya yang menenangkan, juga tak ada suara penyanyi yang bisa menarik perhatian.

Saya tahu Anda tak mudah percaya kata-kata saya. Tapi coba buktikan dengan tidur satu jam lebih awal setiap hari selama seminggu, dan rasakan peningkatan kemampuan Anda. Bila ternyata tak terjadi apa-apa, baiklah, lupakan saja bahwa Anda pernah membaca tulisan ini. Percayalah, ini sama sekali bukan alasan untuk membenarkan hobi tidur saya sendiri. Einstein
saja tidur 11 jam setiap hari, dan lihat apa hasilnya: e=mc2. Can you beat that?


Boks:

Tidur: Ini Soal Fakta

  • Rata-rata manusia menghabiskan sepertiga hidupnya untuk tidur. Mulailah menganggap tidur sebagai bagian penting dari kehidupan Anda.
  • Kalori yang terbakar pada saat Anda tidur lebih banyak dibandingkan saat menonton televisi.
  • Lima tahapan tidur adalah 1) tidur 'ayam' 2) tidur ringan 3) peralihan dari tidur ringan ke tidur nyenyak 4) tidur nyenyak 5) REM (Rapid Eye Movement), tidur dengan mimpi
  • Tahapan REM memperbaiki kondisi mental, sedangkan non-REM memperbaiki kondisi tubuh.
  • Anak berumur empat tahun rata-rata bermimpi 3-4 jam, yang semakin berkurang seiring bertambahnya usia hingga menjadi 100-120 menit setiap malamnya.
  • Semua orang bermimpi pada saat tidur, ada yang bisa mengingat mimpinya, ada yang tidak.
  • Mendengkur saat tidur sama sekali bukan tanda tidur nyenyak. Ini menandakan adanya gangguan pada saluran pernapasan, dan bahkan menandakan tidur yang kurang 'bermutu.
  • Bila tubuh terasa letih saat bangun pagi, ini menandakan kualitas tidur yang tidak baik. Mungkin ada sesuatu yang membuat tidur Anda tak nyaman.
  • Kopi, rokok, dan alkohol dapat menimbulkan gangguan tidur dan menyebabkan Anda mudah terbangun.
  • Rasa aman sangatlah penting sebagai jaminan tidur bermutu. Rasa kurang aman di rumah sendiri akan memaksa Anda untuk tidur dengan 'satu mata terbuka, dus bukan tidur yang nyenyak.

June 20, 2001

[a+ magazine] How Do I Look?

Saya menerima wajah saya apa adanya. Masa? Yang penting hatinya baik. Masa? Saya tidak peduli pada fisik. Ah, masa?

Acara saya malam itu adalah menonton Miss Universe 2001 di televisi bersama dua orang teman. Begitulah, sederetan wanita cantik memperkenalkan diri satu-persatu, sedangkan saya dan teman-teman memberikan komentar seperti 'Nah, yang itu cantik!' dan 'Ah, lewat, lewat...' atau 'Yaah... boleh, boleh.' Lalu sang pembawa acara, Naomi Campbel, mengajukan pertanyaan 'What is the biggest misconception about beauty?' Sambil tersenyum standar ratu kecantikan,
Miss Venezuela menjawab, 'Seringkali kecantikan itu hanya dinilai dari luarnya saja, padahal cantik yang sebenarnya berasal dari dalam hati, inner beauty.'

Saya jadi ingin tertawa. Ha, ha, ha. Bayangkan saja, yang bertanya adalah supermodel (pekerjaan dengan kategori fisik tertentu), yang menjawab Miss Venezuela (terpilih karena kategori fisik tertentu), konteksnya Miss Universe 2001 (kriterianya adalah kategori fisik tertentu), dan kesimpulan akhirnya adalah inner beauty lebih berarti daripada outer beauty! Bukan, bukan pernyataan itu yang saya tertawakan, tetapi keseluruhan peristiwa itu, yang tak ubahnya sandiwara di mana semua orang bersandiwara dan tahu bahwa orang lain juga bersandiwara.

Inner beauty itu apa? Seorang rekan kerja saya yang tercinta pernah mendiskusikan inner beauty secara berapi-api. Kalau saya tak salah tangkap, buat dia, inner beauty adalah bohong belaka. Seseorang hanya bisa disebut cantik kalau secara fisik dia tampak menarik. Biarpun hatinya baik, tapi kalau secara fisik tak menarik, ya berarti tidak cantik. Setuju! Lho, bukannya arogan atau apa, kita kan bicara soal cantik, bukan hati yang baik. Cantik ya cantik, baik ya baik.
Kedua hal itu sama sekali berbeda. Jadi inner beauty itu sebenarnya hanyalah pengungkapan eufemisme untuk membesarkan hati mereka yang secara fisik tidak cantik tetapi tetap ingin disebut cantik juga.

Rupanya di sinilah letak inti permasalahan kita, keinginan untuk disebut cantik sesuai konsep yang diterima saat ini. Hal ini semakin sulit dipenuhi karena konsep kecantikan yang disebar-luaskan melalui media massa nampaknya semakin tidak membumi. Sosok cantik dan tampan berserakan di halaman majalah, televisi, billboard, dan iklan. Ke mana pun mata memandang, nampaklah sosok yang sebegitu indah fisiknya itu. Padahal -tentu saja- mereka bukan orang
yang biasa ditemui di jalanan. Mereka sudah dipilih dari sekian banyak calon model yang semuanya indah secara fisik. Mereka berolahraga secara teratur, penampilan akhir mereka adalah rekaan penata rias dan rambut profesional. Hasil akhirnya masih bisa di-retouch dengan kecanggihan komputer.

Tetapi di layar kaca atau halaman majalah, mereka muncul sebagai ibu rumah tangga biasa atau karyawan biasa, sehingga menimbulkan perasaan bahwa mereka sama saja seperti orang biasa. Dan semua itu membuat seseorang bisa menganggap mereka sebagai saingan tak ubahnya tetangga sendiri. Konsep kecantikan rekaan seperti ini sebenarnya hanyalah taktik bisnis paling
berhasil dalam sejarah perindustrian.

Untuk nampak lebih cantik dan menarik, kita dianjurkan untuk menggunakan conditioner tertentu atau menggunakan merek make-up tertentu. Dengan lihainya, produsen memanfaatkan keinginan dasar manusia untuk dibutuhkan dan menawarkan solusinya. Kaum feminis menyalahkan pria dan masyarakat yang patriarkal atas hal ini. Kaum sosialis menyalahkan kapitalisme dan industri periklanan. Apa sebenarnya yang terjadi? Mengapa pria dan wanita saat ini menjadi lebih terobsesi pada keinginan untuk tampil menarik? Mengapa
mereka percaya bahwa dengan menjadi cantik dan menjadi menarik adalah jawaban semua masalah?

Karena hal itu memang benar, paling tidak pada jaman dahulu kala. Ketika manusia masih hidup di jaman batu, kulit yang nampak bersinar, rambut mengkilat, dan tubuh indah merupakan penanda bahwa pemiliknya sehat, dan ini berarti kemampuannya bertahan hidup lebih besar. Pada masa itu, semakin besar kemampuan bertahan hidup seseorang, semakin besar eluangnya mendapatkan pasangan. Kebutuhan dasar manusia -dan semua makhluk hidup lainnya- adalah bereproduksi, dan saat itu semua manusia dengan jujur mengakui memiliki kebutuhan itu. Manusia modern mungkin dengan pintarnya sudah membuat berbagai excuse untuk mengingkari hal itu.

Inilah alasan utama -atau awal- wanita untuk tampak cantik, dan pria untuk tampak kuat dan tampan. Kecemasan berlebihan untuk tampak menarik sebenarnya berakar pada keinginan untuk melanjutkan keturunan. Bila tak menarik, berarti tak dibutuhkan. Bila tak dibutuhkan, berarti tak punya pasangan untuk bereproduksi. Reproduksi. As simple as that.

Jadi sebenarnya, penampilan fisik hanyalah sebuah tolok ukur untuk menilai besarnya kemampuan bertahan hidup seseorang. Lalu datanglah peradaban. Kemajuan teknologi membuat kemampuan bertahan hidup semua orang meningkat, yang tidak sehat bisa disehatkan oleh kemajuan ilmu kesehatan. Dan kecantikan jadi kehilangan alasan, sedangkan kebiasaan manusia untuk ingin tampil cantik masih tetap ada.

Dulu manusia mencari pembanding dengan melihat sekelilingnya. Batasan biasa-biasa mudah ditemui dengan melihat para penghuni lain dalam habitat hidupnya. Tetapi sekarang, batasan biasa-biasa ini sulit sekali dicari, terutama setelah melihat televisi atau majalah yang mengetengahkan orang-orang biasa yang sebenarnya tidak biasa itu.

Di film, Alicia Silverstone adalah murid SMU biasa, George Clooney adalah dokter di rumah sakit umum, dan Bella Saphira adalah seorang ibu dengan anak remaja. Tidak heran, banyak orang yang sebenarnya tak punya masalah dengan fisiknya, mengaku-aku jelek dan tidak menarik, lalu mulai mencari jalan untuk memperbaiki fisik. Bedah plastik lalu menjadi pilihan.

Padahal sebenarnya bedah plastik dikembangkan untuk membantu mereka yang benar-benar memiliki kekurangan -bahkan kelainan- fisik. Bila usia sudah empatpuluhan, maka Anda melakukan facelift untuk menarik keriput di muka. Pernahkah terpikir bahwa keriput yang seperti itu memang sudah sewajarnya ada di usia empatpuluhan?

Yang paling hebat adalah breast implant. Menurut saya, ini adalah jenis bedah plastik yang sama sekali tidak ada gunanya, kecuali bagi mereka yang menjalani pengangkatan payudara. Tetapi ternyata breast implant termasuk jenis bedah plastik yang paling banyak dibicarakan, diangkat sebagai polemik, dan tiap beberapa waktu, muncullah komentar ahli yang membahas jenis implan baru dan menjelaskan bahayanya implan lama (yang tentunya sudah terpasang di dada ribuan wanita).

Tak kalah populernya adalah rhinoplasty atau pembentukan hidung. Anda pasti sudah sering melihat buktinya berupa hidung Eropa yang mancung di wajah para wanita Indonesia yang bulat. Pembentukan hidung termasuk bedah plastik yang hasilnya nampak jelas, jadi saya kadang-kadang heran bila ada wanita yang menampik keras dugaan bahwa hidungnya hasil bedah plastik sambil menambahkan bahwa hidungnya yang nampak berubah itu hanya karena ia berganti penata rias. Ini dualisme yang hampir selalu muncul, mau menjalani bedah plastik, tetapi nampaknya malu untuk mengakuinya. Mungkin takut dianggap terlahir kurang menarik?
Tetapi yang paling menyedihkan, adalah bila mereka yang tak berkantong cukup tebal juga memaksakan diri untuk mengikuti kemajuan teknologi ini. Tidak ada bedah plastik yang murah, bila ada, lebih baik tidak dipercaya. Saya tidak akan menceritakan mengenai betapa buruknya hasil bedah plastik sembarangan ini, contohnya sudah cukup banyak. Sayangnya, -mungkin- belum cukup banyak.

Bila dipikir lagi, kalau cuma karena keinginan bereproduksi, kok dagu Anda sampai harus disuntik silikon agar nampak lebih panjang? Percaya sajalah bahwa Anda ini menarik, kalau pun tidak cantik atau tampan, yang penting tubuh Anda sehat, dan paling tidak hati Anda baik. Kalau jaman dulu manusia hanya dinilai dari kemampuannya bereproduksi, mungkin jaman sekarang inner beauty bisa dipertimbangkan, bukan?

So, honey, how do I look? (Say beautiful or else)

June 18, 2001

[a+ magazine] It's A Louis Vuitton Party

Dua hari di Malaysia, diakhiri dengan malam pesta di gedung sekolah. Wanna party? Ask these people.

"Kamu menginap di mana?"

"Ritz-Carlton Hotel," jawab saya.

"Wah, mana cukuplah uang kamu!" sergah sang petugas imigrasi KLIA (Kuala Lumpur International Airport) yang bertubuh tinggi besar dan berkumis melintang itu.

Oooh... rupanya inilah duduk permasalahannya hingga mereka menyuruh saya pergi ke kantor imigrasi dan melakukan perbincangan di atas dengan petugas imigrasi setelah disuruh menunggu hampir satu jam lamanya tanpa alasan yang jelas. Pada awalnya adalah petugas
imigrasi di counter yang -entah karena keisengan apa- menanyakan tentang berapa uang tunai yang saya bawa. Sebagai seseorang yang jujur, tentu saja saya jawab dengan jujur.

Menghadapi sergahannya, dengan gesitnya saya segera membuka tas untuk mengeluarkan undangan dari Louis Vuitton sekaligus mengeluarkan kartu-kartu kredit dan debet dari dalam dompet.

"Saya wartawan, datang ke sini atas undangan dari Louis Vuitton, ini undangannya. Selain itu saya juga memiliki sejumlah kartu kredit serta kartu debet yang diterbitkan oleh bank terkemuka dan berlaku secara internasional (hua ha ha...)."

Sambil menghirup udara kebebasan -mungkin hampir seperti inilah perasaan napi pada hari pertama kebebasan, oh maaf, berlebihan ya?- saya melangkah keluar. Kemunculan saya disambut dengan gerakan melambai yang bersemangat oleh Vissia Milana dari majalah Female Indonesia, disusul oleh Cicilia King dari Louis Vuitton dan Nanda dari majalah Dewi. Seperti biasa, dengan lagak marah-marah, saya menceritakan kejadian tersebut kepada rekan-rekan yang sudah kebingungan itu. Ridiculous. Tidak mungkin dong saya berkunjung ke luar negri hanya membawa sejumlah tunai tanpa jaminan apa pun.

Akhirnya sampai juga saya di Malaysia. Negara yang sudah lama ingin saya kunjungi, justru karena begitu miripnya dengan negri sendiri. Insiden di atas justru semakin mempererat hubungan kemiripan tersebut. Menunggu dipanggil saat di kantor imigrasi tersebut hampir sama rasanya seperti menunggu dipanggil di kantor kelurahan waktu membuat KTP, saya jadi tidak sempat merasa homesick.

Di pintu bandara, kami berpisah dengan Cicilia yang menginap terpisah di Hotel Regent. Setelah memastikan janji-janji untuk bertemu nanti sore, maka berangkatlah saya, Vissia, dan Nanda ke Ritz-Carlton Hotel. Perjalanan dari bandara ke hotel ternyata memakan waktu lebih lama dari penerbangan Jakarta-Kuala Lumpur. Saya terlelap sesaat, diiringi lagu Sephia dari Sheila on 7 (berjayalah Yogyakarta).

Anyway, kedatangan saya adalah untuk menghadiri pembukaan Louis Vuitton Starhill New-Concept Store di Starhill Shopping Centre yang disusul dengan pesta di Bukit Bintang Girls' School. A Louis Vuitton party? Berdasarkan beberapa pengalaman sebelumnya, saya yakin bahwa pesta ini akan berlangsung seru. I knew these LV people.

Malam pertama di Kuala lumpur diisi dengan dinner di sebuah restoran Thailand, Rama V, bersama para jurnalis lain dari Singapura. Tigabelas orang duduk lesehan di seputar meja persegi, makanan lezat, dan entah kenapa hanya memiliki tiga subyek pembicaraan yang diulang-ulang: bedah plastik, go-go boys, dan cerita hantu. Subyek yang terakhir ini ditentang keras oleh Cicilia King dengan menyumbat telinga rapat-rapat sepanjang pembicaraan bertema hantu.

Esoknya, setelah makan siang di Sentidos Tapas, restoran Mexico tak jauh dari butik, kami menghadiri press conference di Louis Vuitton Store di Starhill. Menapakkan kaki di parquette floor butik berlantai dua itu, saya jadi agak-agak iri. Bukan karena ingin rumah seperti itu, tapi karena di Indonesia -Plaza Senayan-, butik Louis Vuitton hanya satu lantai dan tidak menyediakan koleksi busana rancangan Marc Jacobs seperti di Kuala Lumpur. Butik ini merupakan yang ke-delapan di Asia Pasifik, setelah tiga di Hong Kong, dan masing-masing di Taiwan, Sidney, Singapura, dan Korea. Please, please let Jakarta be the next... hey, I need to shoot some fashion pages.

Tiga pasang model muncul membawakan koleksi ready-to-wear, sepatu, dan aksesori. Pasang mata baik-baik pada grafitti line-nya, the hottest items in town. Menurut Mr. Hugues Witvoet, President dari LVMH Fashion Group Asia Pasifik, ini merupakan gebrakan cerdas Marc Jacobs atas keklasikan Louis Vuitton untuk menarik pelanggan baru dari golongan usia lebih muda sekaligus mempertahankan pelanggan lama.

Malam akhirnya menjelang. Time to party. Sebelumnya, makan malam dulu di restoran Pickled Ginger. Saya bertemu lagi dengan ibu Inka Utan, General Manager Louis Vuitton Indonesia, yang baru tiba sore itu dari Jakarta. Pertemuan sebelumnya terjadi sewaktu saya masih bekerja untuk majalah Dewi.

Dinner ended abruptly. Karena sudah jam sembilan, kami melewatkan dessert dan segera melangkahkan kaki cepat-cepat ke Louis Vuitton Store. Starhill Shopping Centre sudah penuh manusia. Di lantai bawah, ada makhluk besar berbentuk kupu-kupu dengan Monogram logo di sayapnya (sebenarnya the Butterfly Man dari Australia ini adalah manusia yang berdiri di atas
egrang sambil membentangkan sayap kain yang besar sekali). Kami menukarkan undangan dengan gelang Louis Vuitton yang harus dikenakan sebagai tanda undangan.

Tiba-tiba terjadi desakan massa, rupanya seorang selebriti baru saja datang dan para wartawan foto menyeruak ke depan bersamaan. Tanpa bisa melihat wajahnya, saya diberi tahu bahwa yang baru tiba adalah Tony Leung, aktor Hong Kong terkenal. Saya mulai kehabisan nafas, dan memilih untuk bersandar ke dinding. Sheila Madjid melintas cepat di depan mata, bersama make-up artist-nya dan beberapa orang lagi. Rambutnya bermodel bob sekarang. Lalu pemandangan saya tertutup oleh serombongan pria berbusana ketat dan transparan.

That's it. I'm leaving. Kami berempat -kembali ke formasi awal di bandara- memutuskan untuk pergi ke tempat pesta daripada berdesakan tanpa berbuat dan melihat apa-apa. Tempat yang digunakan untuk pesta berada di seberang Starhill, yaitu sebuah sekolah yang baru saja ditutup karena dipindahkan. Picture this: rombongan manusia dalam dandanan pesta, menyeberang jalan pada jam sepuluh malam dari sebuah pusat perbelanjaan ke sebuah sekolah, dibantu oleh petugas lalu-lintas yang memegang stopper dengan stop sign di satu sisi dan Monogram logo di baliknya, serta tiga ekor anjing German Shepherd. It's surreal.

Bukit Bintang Girls' School benar-benar berbentuk sekolah tempo dulu dengan kelas-kelasnya. Ruangan pertama yang saya masuki berdinding gelap, dengan lampu ultraviolet di sana-sini. Tiga buah kotak acrylic raksasa berisikan para model Louis Vuitton, sedangkan di bagian tengah ruangan, seorang contortionist dari New York beraksi meliuk-liukkan tubuh secara tidak masuk akal di atas panggung. Monogram logo tercetak samar di tubuh dan kepalanya yang tak berambut. Gelas-gelas champagne dan wine tak berhenti ditawarkan.

Kegerahan, saya keluar dari ruang gelap itu dan berjalan di lorong sekolahan yang ditutupi kain
berwarna oranye. Lorong itu penuh dengan para tamu yang sedang makan Chinese food dalam kotak karton dengan sumpit. Detik berikutnya, saya sudah berada di sebuah ruangan dengan cermin menutupi dinding. Di dalamnya ada sofa-sofa, dan orang-orang yang duduk sambil makan, ngobrol, atau bengong sama sekali, serta musik berdentam-dentam. Cahaya yang cuma sedikit membuat saya tak bisa mengira-ngira seluas apa ruangan itu, dan apakah manusia di dalamnya memang sebanyak kesan yang saya tangkap atau hanya pantulan yang dipantulkan lagi oleh dinding cermin.

Kembali ke dark blue room, seorang penyanyi wanita berkulit hitam naik ke atas panggung dan menyuarakan lagu-lagu jazz. Setelah nyanyian dengan suara bertenaga itu, musik kembali diambil alih oleh DJ dengan dance music. Para tamu kembali berdansa dengan bersemangat, tak peduli pada panasnya ruangan. Champagne kembali beredar, tak kurang dari 1000 botol
Moet & Chandon dibuka malam itu.

Lewat tengah malam, kami memutuskan untuk keluar ruangan. Saya menghirup udara segar di halaman sekolah, lalu makan dua mangkuk kecil sorbet yang diedarkan untuk mendinginkan suasana pesta. Beberapa buah corong di atap sekolah menghembuskan uap air setiap beberapa puluh detik. Saya, Vissia, dan Nanda berjalan kaki ke hotel, pesta masih berlangsung meriah
di belakang kami, dan di sepanjang jalan ada beberapa orang yang sedang tidur atau bengong kebanyakan minum. Karena esoknya harus pulang dengan penerbangan pagi, kami tak bisa terus tinggal untuk pesta yang kabarnya baru usai pukul setengah lima pagi itu.

These Louis Vuitton people. They really know how to party.

May 18, 2001

[a+ magazine] Am I A Social Climber or A Follower?

Apa yang dibutuhkan dari seorang teman? Pertanyaan salah.

Apakah arti teman buat Anda? A friend in need is a friend indeed. Yeah, yeah, yeah... kita sudah sering mendengar hal itu. Tapi, sebenarnya apa maksud pernyataan itu, kalau memang pernyataan itu benar?

Apakah berarti teman-teman Anda adalah mereka yang mampu memenuhi kebutuhan Anda saat ini? Lalu, bagaimana bila mereka tidak lagi Anda butuhkan, bukankah berarti tugas mereka sebagai teman telah tuntas, dan Anda siap mencari teman baru yang bisa memenuhi kebutuhan Anda? Bisa jadi demikian.

Kalau begitu, berarti jenis kebutuhan menentukan jenis teman yang Anda miliki. Mungkin bukan hanya jenisnya, tapi juga menentukan lamanya hubungan pertemanan Anda. Apa kebutuhan Anda? Apa yang menurut Anda merupakan suatu kebutuhan?

Seorang kenalan saya, sesama anggota Plaza Senayan Society, menceritakan sebuah kejadian yang disaksikannya suatu sore di mal besar itu. Sepasang artis pria dan wanita, cukup kondang, dan mempunyai hubungan khusus -semua orang tahu itu- sedang berbelanja di sebuah butik. Saking banyaknya belanjaan, mereka merasa perlu menyertakan seorang pria kurus yang nampak sangat gembira membawakan segala barang belanjaan itu. Walau cuma membawakan,
tanpa dibelikan apa pun, toh sang pria kurus nampak sangat bahagia menerima tugas tersebut. "Itu sih bukan teman, tapi memperbudak," mungkin Anda berpikir demikian.

Mari kita telusuri kebenaran pemikiran ini. Sang pria kurus merasa senang melakukan hal tersebut, mungkin karena kebutuhannya untuk diakui sebagai golongan artis dianggapnya terpenuhi. Pasangan artis itu pun merasa senang, karena kebutuhannya untuk diakui sebagai manusia berkuasa yang memiliki pengikut, nampaknya juga terpenuhi. So everyone's happy, and you're the only one complaining.

Kalau benar 'a friend in need is a friend indeed', maka mereka adalah teman-teman sejati yang saling memenuhi kebutuhan masing-masing. Tuluskah hubungan pertemanan mereka? Justru lebih tulus daripada dugaan Anda. Menyedihkan? Tergantung bagaimana Anda melihatnya.

Bagaimana cara Anda mendapatkan teman menunjukkan kebutuhan Anda. Saya pernah mengenal seseorang yang setiap hari sibuk 'gaul' dan berteman demi memperluas networking-nya. C'mon, you're calling someone you've just met last night in some product launching party and say 'hello and let's get together sometime' tanpa pretensi apapun. That's not real. Jangan dikira bahwa ini semata-mata adalah usaha memperluas jaringan relasi untuk kelancaran kerja, alasan sebenarnya mungkin adalah keinginan untuk menguatkan status sebagai 'anggota' suatu kelompok sosial tertentu. Ironisnya, saat si social climber ini mulai mencoba berteman dengan saya, ini merupakan pengakuan tak langsung bahwa saya pun termasuk dalam suatu kelompok tertentu, suatu golongan 'elite' yang diidamkan. Atas pengakuan ini, saya boleh senang atau biasa saja, tergantung kebutuhan dasar saya pada awalnya.

Siapakah 'Anda'? Identitas diri memang sesuatu yang dirindukan dan diributkan setiap manusia. Coba saja berjalan-jalan ke -lagi-lagi- Plaza Senayan, dan temukan berbagai kelompok identitas di sana. Sekelompok wanita berusia tigapuluhan, dengan busana cukup seronok bernuansa cerah, rambut panjang yang menggulung di bagian bawah -pasti di-highlight-, duduk dalam cafe, pasti merokok, shopping bag terserak. Inilah kelompok ibu rumah tangga berkecukupan yang punya banyak waktu luang untuk dihamburkan. Baiklah, ini pandangan yang cukup sinis, tapi pasti ini yang terlintas dalam pikiran saat melihat kelompok tersebut. They all look alike. They need to look alike.

Sekelompok remaja, 13-15 tahun. Celana ketat, jaket sport dan T-shirt ketat warna-warni atau bermotif komik, sepatu olahraga terbaru yang didisain memisahkan jempol. Rambut gondrong di depan, pendek di belakang, yang wanita memakai jepit rambut di kiri dan kanan. Berjalan berombongan di sekitar bioskop atau toko kaset, tangan di saku atau memegang ponsel kecil warna-warni. 'Ah, kelompok brondong,' terlintas di pikiran. They all look alike. They need to look alike. Spooky.

Mengapa mereka butuh untuk nampak sama? Karena itulah persyaratan paling primitif untuk diterima menjadi anggota suatu kelompok. Itulah sebabnya mengapa bayi simpanse yang lahir albino ditinggalkan di hutan oleh kelompoknya. Dan itulah sebabnya saat berada dalam sebuah party, sering dijumpai pemandangan serupa yang berulang-ulang seperti sudah menjadi skenario hapalan semua anggota kelompok. 'Chris! Chris! (bisa diganti nama lain) Aduh, ke mana aja sih... (cium pipi kiri dan kanan)? Tambah cakep aja..., gimana salon/kantor/kerjaan/anak? Wah, keren banget cardigan-nya, beli di mana?' Lalu, bila ada orang lain yang belum dikenal, tapi dianggap layak, maka 'Eh, udah kenal sama... (memperkenalkan). Dia ini adalah... (jabatan) dari... (perusahaan), lho!' Setelah berbasa-basi sejenak, pergi sambil berucap, 'Gue jalan dulu ya, jangan lupa telepon-telepon... (cium pipi
lagi).' Ah, bahkan kata-kata yang digunakan pun kurang-lebih sama!

Ayolah, mana orisinalitas Anda? Paling tidak, gunakan vocabulary yang berbeda.... Atau Anda takut melanggar 'aturan' yang berlaku? Takut teman-teman Anda akan terkejut dan kemudian menganggap Anda berbeda, tak lagi pantas masuk kelompok tersebut? Dan sebenarnya, inti dari semua itu adalah, Anda takut tak punya identitas, Anda takut sendirian, Anda takut kesepian. Karena itu Anda berdandan sebagaimana gaya berdandan kelompok yang ingin Anda masuki, dan berbicara sesuai gaya bicara kelompok yang ingin Anda ikuti. Apakah Anda selalu menggunakan bo atau nek, menggunakan istilah insecure dan elitis? Apakah Anda yakin bahwa Anda memang ingin membicarakan boots dengan hak bermotif tulang ikan Bottega Venetta, kosmetik keluaran Prada, kebijaksanaan Gus Dur, atau novel Supernova?

Perhatikan teman-teman Anda. Yakinkah Anda bahwa Anda memang ingin bersama mereka, ingin seperti mereka? Are you sure that you're my friend?

Pada suatu malam, saya naik taksi dari sebuah mal -tebak namanya- menuju rumah saya, jauh di Pondok Labu. Hujan deras dan rasa lelah membuat saya membiarkan sang sopir taksi yang kesepian tiba-tiba menceritakan masalah keluarganya. Istrinya yang cantik, mertua yang menganggapnya tak pantas untuk anak mereka, perjuangan mereka hingga akhirnya menikah dan beranak dua. Ketak-sanggupannya mencari pekerjaan yang menghasilkan lebih banyak uang, paksaan mertua untuk bercerai. Saya hanya memberikan komentar dan gumam singkat, sekedar menunjukkan bahwa saya mendengarkan.

"Tapi saya mencintainya, mBak!" katanya, tiba-tiba emosi sambil menoleh ke belakang. Wah, pernyataan cinta, keluar dari mulut seorang laki-laki Indonesia, sopir taksi, kepada istrinya sendiri pula, ini bukan main-main. Maka saya pun menegakkan tubuh dan mulai mencurahkan perhatian. Bagi kami berdua saat itu, tak ada masalah yang lebih besar daripada mencari cara memenangkan hati mertuanya. Dunia hanyalah seluas taksi, isi dunialah hanya kami berdua dan masalah itu. Sewaktu turun, saya membayar sambil mengucapkan 'selamat berjuang' atau semacamnya. Ia memandang saya dan berkata, "Terimakasih." Saya tahu, terimakasihnya
lebih dalam daripada sekedar rupiah di tangannya. Maka sesuai dengan azas di atas, 'a friend in need is a friend indeed', maka saya dan sopir taksi tadi telah berteman, selama kurang lebih dua jam.

Akhirnya, ada juga alasan lain untuk berteman.

April 18, 2001

[a+ magazine] Manipulating My Mind, Musically

Trivia question: What music is in which the harmony is confused, charged with modulations and dissonances, the melody is harsh and little natural, the intonation difficult?

Suatu restoran di taman sebuah hotel berbintang, kami berdua duduk di sebuah spot di tepi kolam berhiaskan air mancur kecil. Malam hari, cahaya remang lilin, jarak antar meja memudarkan suara-suara hingga tinggal serupa bisikan. Para pelayan bergerak cepat bagaikan
sosok-sosok misterius yang siap sedia menyiapkan menu demi menu. Sayup-sayup masih terdengar suara kendaraan, tetapi begitu terpendam, seolah berasal dari dunia lain. Sesaat terasa segalanya mundur ke latar belakang yang samar, dan hanya keberadaan kami berdua yang terasa. Ah, ini pasti bukan Jakarta.

Di pojok sana, serombongan pemain musik dalam setelan hitam mulai menyiapkan alat-alatnya. Kiranya musik apakah gerangan yang tepat untuk suasana seperti ini? Saya mulai menyenandungkan One Fine Day-nya Natalie Merchant yang ngelangut itu. Dan detik berikutnya saya merasa seperti disiram seember air dingin begitu mendengar Copacabana yang bersemangat, lengkap dengan perkusi dan -ini dia- goyang pinggul sang penyanyi wanita. Dan anehnya, justru ditingkahi musik meriah itu, suara kendaraan jadi terdengar lebih keras dan saya mulai bisa mendengar gosip dari meja sebelah. Dan kenyataan hidup dengan segala hiruk-pikuk dan permasalahan kembali ke permukaan. Man, this is Jakarta.

Baiklah, katakan saja saya orang yang terlalu romantis sehingga merasa malam indah itu tercemar hanya karena lagunya tidak sesuai bayangan semula. Pasalnya saya memang selalu menggunakan musik sebagai alat bantu untuk melarikan diri dari -atau melarutkan diri pada-
suatu kenyataan.

Saya berani bertaruh, pasti semua orang pernah memutar lagu cengeng sambil menitikkan air mata pelan-pelan ke atas bantal, menikmati kesedihan itu sendiri, biasanya sih akibat masalah klise macam patah hati. Salah satu pilihan saya adalah You-nya Basille Valdez, liriknya
saja sangat cengeng: 'It's your smile, your face, your lips that I'll miss, those sweet little eyes...'. Tentunya sambil membayangkan siapa pun itu yang dianggap mematahkan hati ini. Pilihan yang lebih kuno dan begitu cengengnya hingga lama-lama membuat saya tertawa adalah dari tante Titiek Puspa dengan Cinta: 'Kejam oh kejam, pedih oh pedih, cinta ooooh cinta....' Saya pernah menyanyikannya di sebuah taksi bersama seorang teman, dengan suara melengking tak
sampai dan sopir taksi berulangkali melirik lewat kaca spion untuk mengecek apakah kami mabuk atau gila. Sometimes I really need being pathetic.

Tentu saja lirik memegang peranan penting dalam lagu, terutama dalam suasana cengeng seperti itu. Tapi irama musik itu sendiri berpengaruh sangat besar pada suasana hati dan pikiran. Ketika dikejar deadline persis seperti saat sedang mengetik tulisan ini -yang tertunda karena basically, I'm a lazy person-, suara-suara digitalized seperti One More Time dari Daft Punk itu mampu menumpulkan indra-indra perasa yang lain hingga yang tinggal hanya komputer dan pikiran saya sendiri. Mungkin karena bunyi digital itu begitu tidak alaminya sampai-sampai membuat saya jauh dari keberadaan fisik saya sendiri, some kind of virtual situation, I guess. Terlalu berlebihan, Anda bilang? Ya sudah kalau nggak percaya.

Yang ini bukan karangan saya dan Anda pasti sudah pernah membaca bahwa musik klasik yang diperdengarkan kepada ibu hamil membuat bayi yang dikandungnya tumbuh lebih pesat, lebih sehat, dan lebih pintar, seperti iklan susu bayi. Bagaimana kalau sang ibu lebih memilih Stan dari Eminem featuring Dido? Mungkin sang bayi akan mengalami depresi dini karena diekspos pada musik berupa rentetan kata tak putus yang menggambarkan obsesi tak sehat. Tapi alasan utamanya adalah, irama musik klasik ternyata paling sesuai dengan denyut jantung manusia. Karena itu, pikiran menjadi lebih tenang karena jantung tidak dipaksa berdenyut berlainan dengan seharusnya. Nah, rupanya itu menjelaskan kemunculan ladang bunga tulip warna-warni dalam pikiran tiap kali saya terekspos pada Suite No. 1- Forlane dari tuan J.S. Bach.

Mungkin musik klasiknya orang Jawa adalah tembang, karena ketenangan serupa juga selalu saya dapatkan bila mendengar ibu saya menembang 'halauma linta-lintu, ora rambut ora untu, ngiyup selaning nggaru, ...' (walaupun saya sama sekali tidak tahu artinya). Entah mengapa, tembang Jawa yang selalu banyak menggunakan nada-nada minor itu membuat suasana menjadi begitu bening dan bersih, kegelisahan terangkat dan perasaan saya begitu ringan. Tak salah bila tembang ini dulu sering dinyanyikan saat Maghrib di tempat pengungsian Eyang Kakung saya untuk menenangkan hati para pengungsi perang.

Selain memunculkan ladang bunga tulip dan membuat saya melayang dalam kehampaan, rupanya musik juga bisa memanipulasi pikiran dan perasaan sehingga saya merasa sedang jatuh cinta. Bukan salah saya dong, berduaan pada suatu malam di tepi pantai, lalu dengan penuh
perasaan Stevie Wonder melantunkan 'You are the sunshine of my life, that's why I'll always be around. You are the apple of my eye, forever you'll stay in my heart' dengan ketukan perkusi sangat nikmat hingga mata saya jadi berbinar-binar penuh cinta (padahal bukan). Well, thank you very much, Mr. Wonder.

Bila lagu-lagu romantis itu mendorong timbulnya perasaan cinta -sungguhan maupun bohongan-, musik bising justru lebih menimbulkan gairah seks. Yang bener? Rupa-rupanya bunyi yang berdentum-dentum itu mengacaukan irama jantung hingga aliran darah ke otak terganggu dan menimbulkan rasa gelisah. Lagipula suara musik yang begitu kerasnya itu tak memberi kesempatan pada akal sehat untuk berbicara. Bisakah Anda mendengar pikiran sendiri pada suatu Jumat malam di Retro? Sebuah riset menunjukkan bahwa lebih banyak pasangan yang melakukan hubungan seks usai menonton konser musik keras daripada resital piano Ananda Soekarlan, misalnya. Penonton resital piano mungkin lebih memilih untuk tidur dengan perasaan tenang, nikmat, dan damai, sedangkan pikiran gelisah para penonton musik keras masih mencari-cari penyaluran.... Mungkin Anda bisa memanfaatkan pengetahuan ini bila sewaktu-waktu diperlukan.

Beruntunglah saya karena memiliki berbagai pilihan musik untuk merangsang pikiran kreatif, mengiringi kecengengan, menimbulkan harapan, maupun meredakan kemarahan. Saya pikir lebih baik saya tidak menyatakan diri sebagai penggemar satu jenis musik saja agar tidak kehilangan berbagai perasaan berbeda itu. Biarlah saya jadi orang yang plin-plan dan bisa berubah mood dalam sekejap hanya karena mendengar musik tertentu, paling tidak itulah salah satu cara mengontrol pikiran ke arah yang saya inginkan. Dan karena saat ini saya sedang ingin menggoyangkan kaki sambil membayangkan suasana retro akhir 70-an (oh betapa spesifiknya), maka saya putarlah sebuah disko klasik tahun 1976 dari Osibisa, Dance The Body Music. 'Hear the music play, feel your body sway, hear the DJ say, oh, what a big smash, big smash... dance the body music....'

Trivia answer: Salah besar bila Anda mengira jawabannya adalah grunge music. Sebenarnya ini adalah penggambaran musik baroque -seperti karya Vivaldi atau Handel- dalam Dictionary of Music yang ditulis oleh Rousseau pada tahun 1768.

March 18, 2001

[a+ magazine] Don't Hate Me Because I'm Thin

Tak perlu bertubuh langsing untuk menjadi bahagia. Benar atau salah?

Benar. Itu jawaban saya selama ini. Hingga suatu kali saya pergi makan siang bersama seorang rekan dan tercengang melihat ia rela menyantap sepiring salad belaka sebagai makan siang dengan alasan ingin menurunkan berat badan. Sementara itu, saya menyantap hot dog ukuran jumbo dengan santai saja. Dan tiba-tiba saya tersadar, mungkin saya beruntung karena selama
ini tak pernah tahu bagaimana rasanya kelebihan berat badan -walau sekilo jua.

Kemudian rekan saya itu bertanya -sesuatu yang tak pernah bisa saya jawab-, "Bagaimana sih caranya agar tetap kurus?" Anda tak mungkin menanyakan rahasia bertubuh kurus pada orang yang tidak tahu bagaimana rasanya tidak kurus. Saya tidak tahu apa rahasianya. Saya penggemar cokelat, hot dog, kopi instan, dan teh botol. Saya jarang makan sayur dan buah-buahan. Satu-satunya makanan sehat yang saya gemari adalah sushi. Sekali lagi, saya tidak tahu.

Jadi saya juga tidak tahu bagaimana beratnya perjuangan para wanita yang ingin menurunkan berat tubuh hingga ke batas ideal. Karena itu, mudah saja bagi saya untuk setuju bila ada yang mengatakan 'tak perlu bertubuh langsing untuk menjadi bahagia'. Dengan ringannya saya menyatakan slogan itu kepadanya, maksudnya untuk meringankan perasaan karena saya tak
bisa memberikan resep ampuh bertubuh kurus. Anda tahu apa jawabannya? "Memangnya salah kalau gue senang karena timbangan turun dua kilo? Badan ini, badan gue sendiri kan?" Uhuk, rasanya ulu hati saya ditonjok mendengar jawaban itu.

Sekarang memang tak jarang terdengar slogan-slogan yang menganjurkan wanita berhenti memikirkan soal penampilan. Para feminis - yang ketinggalan jaman - menyalahkan masyarakat yang membuat wanita lebih mementingkan kecantikan ketimbang otak. Menurut
mereka, kecantikan adalah sebuah mitos yang dibuat-buat, sebuah plot ciptaan masyarakat patriarkal untuk mengontrol wanita secara moral dan seksual. Lebih jauh lagi, plot ini bahkan menjadikan wanita sebagai obyek penarik keuntungan materi lewat dunia kosmetik, mode, dan makanan diet.

Saya jadi curiga, jangan-jangan pernyataan-pernyataan ini dibuat oleh mereka yang merasa tak mampu mencapai standar kecantikan yang mereka inginkan sendiri. Mengapa seakan-akan keinginan akan tubuh ideal menjadi suatu dosa? Memang benar -tentu saja- bahwa budaya
dan era berbeda memang mempunyai standar tubuh ideal yang berbeda pula. Memang benar bahwa anorexia dan bulimia adalah dampak sebuah obsesi yang berlebihan akan tubuh ideal. Tapi memang benar juga bahwa tubuh ideal itu adalah sebuah kenyataan, bahkan sebuah anugerah Tuhan yang akan tetap ada untuk selamanya. Karena itu, keindahan tubuh ideal seharusnya dihargai, bukannya dipaksakan untuk dianggap tak berharga.

Sejenak kita berpaling pada sejarah manusia sendiri. Bila pria bersaing satu sama lain melalui otot dan keberanian, wanita bersaing melalui tanda-tanda kesuburan yang sehat seperti kulit berbinar, rambut berkilau, bentuk tubuh yang melekuk sempurna. Hal ini terus berlangsung hingga kini, dan tak bisa disangkal lagi bahwa semua ini adalah tanda-tanda kecantikan umum yang diidamkan wanita tanpa peduli asal budaya maupun jamannya.

Rekan saya tadi sangat setuju mengenai hal ini, ia tak akan sudi tampil di depan umum dengan rambut acak-acakan dan lemak di seputaran perutnya. Selain tak percaya diri, ia juga merasa harus menghargai orang-orang di sekelilingnya. Anda tak bisa menyangkal kenyataan bahwa mata kita terasa lebih nyaman saat menatap wanita berpenampilan cantik dan rapi daripada
penampilan asal dan tubuh tak terawat.

Jadi, seharusnya keinginan akan tubuh ideal dipandang sebagai sebuah dorongan biologis yang normal, bukannya keinginan semu pemuas masyarakat patriarkal. Ini adalah sebuah dilema khas wanita, mereka bisa saja mengacuhkan segala kebiasaan feminin, seperti mengenakan make-up dan memperhatikan berat badan, dus mengorbankan penampilan demi mengikuti sebuah ideal yang entah benar entah salah. Atau tetap memperhatikan bentuk tubuh dan penampilan, lalu dicerca sebagai korban idealisme buatan kaum chauvinist. Kedua pilihan itu sama-sama memiliki akibat yang tak menyenangkan.

Kalau begitu, mengapa harus peduli? Kalau memang sudah yakin, tak perlu lagi mempedulikan pendapat yang berlawanan. Di jaman reformasi yang penuh kebebasan ini (lagi-lagi pernyataan klise!), seorang wanita boleh saja tetap berjuang mencapai berat badan ideal dan sekaligus merasa bahagia dalam perjuangannya. Boleh saja bila ia ingin mengenakan bustier ketat, sepatu hak tinggi, atau sekalian melakukan operasi plastik dan menganggap itu semua adalah kebebasannya sendiri dalam menentukan pilihan hidup, sama bebasnya dengan mereka yang mengaku tidak peduli soal penampilan.

Bila dipikir lebih lanjut, segala hal yang dipromosikan untuk mencapai tubuh ideal -olahraga dan
makanan bergizi- sebenarnya menjamin tubuh yang sehat juga. Bukan kebetulan bila seorang wanita yang memperhatikan penampilannya cenderung merasa sehat fisik maupun mental. (Sampai di sini, berarti selama ini saya telah menjalani pola hidup tak sehat dan tak menyadarinya karena tak merasakan akibat berupa kelebihan berat badan. Nah, jadi saya beruntung atau tidak beruntung?)

Mungkin sebaiknya kita tidak usah memusingkan soal keinginan bertubuh langsing, itu kan pilihan bebas setiap individu. Yang lebih penting adalah kemampuan untuk mengakui bahwa tubuh ideal adalah suatu kenyataan, bukan idealisme yang dibuat-buat. Kita harus mampu bersebelahan dengan seorang wanita bertubuh ideal tanpa merasakan menciutnya rasa percaya
diri, lalu menutupinya dengan pura-pura kasihan karena menganggapnya sebagai seorang korban.

Benar juga bila dikatakan bahwa kita tak perlu bertubuh langsing untuk merasa bahagia. Tapi tak ada yang bisa menyalahkan Anda bila merasa bahagia karena bertubuh langsing.

December 20, 2000

[a+ magazine] Anda Bosan ke Salon?

Orange is Back! Golden Girls! Drop Dead Red! Pale is Now! Colours, Colours, Colours! Tolong! Jangan bingung, trend make-up hanyalah hasil keberanian dan
kreatifitas pribadi.


Seraya mengoleskan cat kuku bernuansa golden pink pada kuku-kuku jemarinya yang lentik, Bella mengeluh tentang koleksi eye shadow dan lipstik bernuansa shimmery pale-nya yang tak bisa lagi digunakan. 'Lho, kok bisa terjadi begitu, mBak? Salah pilih warna, ya?' tanya saya. Bukan begitu, ternyata ia merasa harus mengganti peralatan kosmetiknya dengan yang bernuansa keemasan demi mengikuti trend 80-an yang (katanya) sedang melanda dunia mode.

Masa sih? Padahal saya sedang jatuh cinta pada gaya Winona Ryder yang baru-baru ini muncul dengan smoky eyes dan nude lips. Dengan penuh percaya diri, saya mengutarakan keinginan untuk mengikuti gaya tersebut, jangan-jangan wajah saya mirip Winona? Cercaan rekan-rekan sejawat segera membuat saya mengurungkan niat tersebut.

Semua orang tahu, dalam dunia make-up juga ada trend seperti dalam dunia mode. Tapi entah kenapa, definisinya tak lagi semudah dulu. Andaikan saya hidup di tahun 40-an, saya takkan ragu mencukur alis hingga habis dan menggambarnya lagi jauh tinggi berbentuk garis tipis. Sedangkan bibir saya pasti semerah darah dengan bentuk menguncup di tengah. Pasalnya, inilah petunjuk pelaksanaan yang dianjurkan kepada semua wanita, dimulai dengan Rita Hayworth. Tetapi sekarang aturannya tak lagi sejelas dulu. Jadi bagaimana, yang mana, dan benarkah?

Jangan bimbang dan jangan ragu, sebenarnya panggung mode dunia masih merupakan sumber panduan untuk menemukan garis besar trend make-up, walau tak berarti gaya yang persis sama bisa diterapkan mentah-mentah dalam kenyataan sehari-hari. Sama seperti para perancang dengan ciri khas masing-masing, make-up pun kini lebih merupakan ekspresi diri si pemakainya. Sudah bukan masanya wanita harus tampil hampir kembar dengan goresan eyeliner ala mata kucing yang persis sama. Gaya apa saja sah untuk diterapkan, warna apa pun, yang penting membuat Anda merasa nyaman.

Karena itu, jangan heran -- misalnya -- bila melihat fashion editor majalah Vogue Italia, Anna Piaggi, dengan blusher merah yang begitu nyata dari pipi sampai ke dahi. Tak masalah bila kepercayaan diri Anda sebesar Anna, tetapi demi terjaganya ketentraman pemandangan dan perasaan masyarakat, sebaiknya Anda memilih gaya dandanan yang lebih masuk akal.

Matte vs. Shiny

Secara umum, riasan bergaya matte dan super-polished tak lagi digemari. Tetapi bila Anda menyukainya, tak apa, asalkan rela dipanggil 'tante' daripada 'mBak'. Kesan shiny yang dulu dihindari kini justru disukai, tetapi jangan disalah-artikan dengan muka lusuh-berminyak. Lakukan perawatan kulit wajah secara intensif karena kulit sehat merupakan modal dasar gaya
shiny. Cukup gunakan sedikit foundation untuk meratakan warna kulit -- kulit Asia lebih sesuai
dengan nuansa dasar kuning, bukan pink -- dan sedikit bedak di atasnya bila perlu. Bila jenis kulit Anda kering, penggunaan bedak boleh dilewatkan.

Temuan teknologi dalam dunia kecantikan menghasilkan berbagai produk yang mengandung light-diffusing particles. Bila label pada foundation, bedak, maupun eye shadow dan blusher Anda memuat kata-kata ini, berarti kosmetik ini mengandung partikel-partikel super kecil dengan kemampuan memantulkan cahaya. Efeknya adalah wajah yang nampak bercahaya tetapi tak berminyak, bayangkan para artis sinetron yang selalu disorot dengan efek soft-lens. Tak perlu menggunakan produk ini dalam jumlah banyak dalam sekali pemakaian, tak ada efeknya sama sekali. Banyak atau sedikit, hasilnya sama saja.

Bila Anda bertanya warna apa yang sesuai dengan gaya shiny, berarti Anda belum mengerti konsep ini. Warna apa pun sah saja dikenakan, asalkan teksturnya tak matte. Warna berefek shimmery dapat diulaskan sangat sedikit untuk efek soft atau lebih banyak untuk warna yang lebih matang. Pilihan warnanya, sesuaikan saja dengan warna busana dan perasaan Anda.

Tetapi hati-hati dengan warna gold, bronze, dan silver. Untuk kulit Asia yang sawo matang, salah menggunakan warna-warna ini akan membuat wajah justru nampak kusam dan tak bersinar, bagaikan black hole yang menyerap cahaya. Gunakan (sangat) sedikit saja sebagai highlight di tulang alis, kelopak mata, atau bagian tengah bibir.

Be Innovative!

Kreatifitas adalah salah satu kunci make-up. Bukan hanya dalam padu-padan dan pencampuran warna, tetapi juga pemulti-fungsian sebuah produk. Ulaskan lipstik berwarna netral pada kelopak mata, baurkan warna yang lebih kuat sebagai blusher pada pipi. Berikan sentuhan warna pada bibir Anda dengan menggunakan eye shadow yang mengandung glitter. Jangan ragu mengoleskan lipgloss di tulang alis sebagai highlight atau di atas kelopak mata untuk menguatkan warna eye shadow. Dengan ujung jari, oleskan sedikit glitter pada bulu mata yang telah bermaskara agar mata nampak lebih besar dan bercahaya. Multi-fungsikan eye shadow sebagai eyeliner dengan menggunakan kuas kecil yang lembap.

Variasikan riasan mata smoky yang biasanya menggunakan eyeliner dan kelopak bernuansa charcoal dengan olesan kuat warna gelap lainnya seperti purple, deep gold, atau moss green, bahkan maroon. Bereksperimenlah dengan warna-warna yang tak biasa Anda gunakan, seperti orange, violet, atau turquoise. Tampil alami tak lagi berarti brown eye shadow dan lipstik bernuansa senada dengan bibir. Dengan efek shimmery, semua warna akan berkesan lebih lembut, jadi takkan nampak 'mengerikan'. Cobalah tampil hanya dengan efek glossy pada kelopak mata dan bibir sebagai alternatif penampilan alami yang segar. Hati-hati, jangan berlebihan agar tak dikira keringatan.

Kembali ke Dasar

Sebagaimana semua hal, maka ada aturan dasar demi menjaga tertibnya pemakaian kosmetik dalam dunia tata rias ini. Misalnya pemilihan fokus pada mata atau bibir. Hal ini sangat penting agar wajah tak nampak berlebihan. Aturannya sih, biasa saja, bila kelopak mata menggunakan warna kuat, gunakan warna netral pada bibir, dan sebaliknya.

Tampil klasik juga bisa berarti kembali dengan bibir berwarna merah darah dan kelopak bernuansa netral. Di tengah segala warna-warna lembut, penampilan ini akan membuat Anda 'kelihatan' dibanding yang lainnya. Bila masih tergila-gila dengan efek matte, gunakan sebagai
efek khusus pada mata atau bibir dan padukan dengan nuansa shiny di bagian lainnya.

Aturan dasar lainnya adalah pembedaan gaya make-up sehari-hari dan yang lebih glamour untuk saat-saat tertentu. Bukan apa-apa, ini hanya agar Anda nampak berbeda daripada penampilan biasa, itu kan salah satu tujuan Anda datang ke acara khusus? Tak perlu repot-repot menghapus seluruh make-up dan mengulang kembali dari awal, kecuali bila Anda memang biasanya tak punya banyak kegiatan. Tambahkan saja warna yang lebih kuat pada riasan sehari-hari, sedikit efek shiny di sana-sini, dan ubah tatanan rambut. Itu semua sudah
cukup.

Dan setelah semua percobaan, eksperimen, dan susah-payah yang Anda lakukan, ingatlah bahwa Anda tidak sedang meniru siapa-siapa, tetapi sedang mencari diri Anda sendiri. Bertahanlah dengan apa yang membuat Anda nyaman, sebenarnya itulah esensi trend make-up saat ini. Jadi, bila ada yang mencela Anda yang kukuh bertahan dengan lipstik merah, balas saja dengan acuh tak acuh, situ oke?

[a+ magazine] The Party Countdown

Anda hanya punya tiga minggu untuk menampilkan resolusi penampilan akhir tahun yang spektakuler. Siapkah Anda menerima tantangan ini?

Tekad Anda sudah bulat. Kali ini Anda akan merencanakan benar penampilan paling 'oke' untuk pesta tutup tahun nanti. Walau berangkat ke pesta tak berkawan, yang pasti, pulangnya Anda tak akan sendirian. Yah, paling tidak ditemani sejumlah nomor telepon baru yang cukup prospektif.

Tiga Minggu Sebelumnya: The Planning

Jangan buang-buang waktu yang hanya tinggal tiga minggu, sisihkan hari pertama untuk menelaah kembali penampilan Anda. Apakah perut Anda mulai bergelambir, atau otot-otot lengan agak melunak? Jangan sampai tubuh Anda terasa lembek saat menopang seorang wanita cantik yang -siapa tahu terjadi- tiba-tiba terpeleset. Mulailah dengan mengunjungi pusat kebugaran secara teratur. Tiga atau empat kali seminggu selama tiga minggu sudah cukup untuk mengencangkan kembali tubuh yang mulai kendur. Yang penting realistis, bila Anda berkeras hati mengurangi limabelas kilo berat tubuh dalam tiga minggu, jangan-jangan Anda takkan sempat menikmati indahnya pagi perdana tahun 2001.

Kulit wajah jangan dilupakan. Pria pun perlu tampil dengan kulit mulus tanpa jerawat maupun noda. Untuk masalah jerawat yang cukup parah, segeralah mengadakan kunjungan ke dokter kulit terkemuka daripada mencoba-coba pengobatan yang tak tentu hasilnya. Anda yang beruntung tanpa jerawat, cukup melakukan pembersihan wajah secara teratur. Minimal dua kali
sehari dengan sabun khusus muka dan dua kali seminggu melakukan scrubbing dengan scrub cream atau scrub gel. Cukurlah wajah setiap hari, hal ini akan membantu membersihkan pori-pori kulit. Akhiri minggu ini dengan melakukan facial di salon sesuai dengan jenis dan masalah kulit Anda.

Bagaimana dengan rambut? Rasa-rasanya modelnya sudah mulai tak jelas. Untuk rambut yang agak pendek, rapikanlah dua minggu sebelum harinya. Selama waktu itu, rambut akan bertumbuh hingga 'menemukan' bentuknya yang paling mapan. Tetapi bila potongan rambut Anda crew-cut yang samar-samar menampakkan kulit kepala, tunda saja merapikan rambut hingga dua hari sebelum acara. Para pria gondrong boleh menggunting ujung rambut yang bercabang sejak tiga minggu sebelumnya. Tetapi saran saya, potong saja rambut gondrong itu, sudah tak jamannya lagi dan daripada dianggap 'sok' seniman.

Potongan rambut yang rapi saja belum cukup, kesehatan rambut dan kulit kepala perlu juga diperhatikan. Bila rambut berketombe, mulailah menggunakan shampoo anti ketombe sehari-hari. Tak ada salahnya mulai melakukan perawatan creambath di salon untuk merangsang sirkulasi darah di kulit kepala. Lancarnya aliran darah mampu meringankan masalah ketombe hingga menyehatkan rambut.

Dua Minggu Sebelumnya: Image Power

Setelah jadwal perawatan sudah berjalan lancar, Anda bisa mulai menyiapkan setelan yang sesuai dengan citra yang diinginkan. Tahun baru, baju baru? Belum tentu, intiplah isi lemari pakaian dan padu-padankan dengan sentuhan baru. Bila hal ini sepertinya terlalu berat dilaksanakan -yah, mungkin memang lebih mudah membeli sebuah setelan yang sama sekali baru.

Yang penting adalah menciptakan citra diri yang -- menurut Anda -- paling tepat. Apakah Anda ingin tampil sebagai Mr. Sensitive dengan penampilan sedikit acak yang membuat wanita gemas ingin merapikan? Atau sebagai Mr. Macho dengan rambut crew-cut, tato (palsu) di lengan, dan kemeja ketat yang mencetak perut kotak-kotak? Mungkin Mr. Rich dengan aroma parfum mahal dan logo-logo terkemuka di sudut-sudut strategis busana Anda -- yang ini modalnya memang jauh lebih besar.

Citra apa pun yang Anda pilih, sekalinya ditetapkan, pasti akan melenyapkan sebagian besar kebingungan. Luangkan minggu ini untuk menjalani rutinitas perawatan tubuh serta merenungkan citra diri. Memang, yang paling baik adalah tampil sebagai diri Anda sendiri. Tetapi diri Anda sendiri pun perlu sedikit 'muatan' tambahan agar nilainya naik dibanding ratusan pria lain yang juga tampil sebagaimana diri mereka sendiri.

Seminggu Sebelumnya: Check and Recheck

Baiklah, siapakah Anda kini? Seharusnya otot-otot sudah mulai mengencang, perut mengempis, dan rambut sehat berkilauan bak iklan shampoo. Dengan bahan dasar yang bagus ini, silakan bergerak ke tahap selanjutnya, check and recheck.

Benarkah tubuh Anda sudah sempurna? Bila belum, sudahlah, jangan paksakan diri. Sekarang sudah terlambat, jadi konsentrasikan perhatian pada bidang-bidang lainnya.

Sudahkah rambut nampak sehat, berkilau, dan tanpa ketombe? Bila belum, potong saja pendek-pendek. Dengan potongan super cepak, rambut tak sehat takkan kentara, di lain pihak, kulit kepala juga bisa bernafas lebih lega. Masih saja berketombe? Bila Anda nekat, gunduli saja. Bald is sexy, lho.

Bagaimana dengan kulit wajah? Bila masih saja ada jerawat dan noda yang mengganggu, tak apa. Jangan biarkan pemakaian concealer atau foundation melintasi pikiran! Biarkan saja alat-alat kosmetika itu tetap di meja rias kakak perempuan Anda, sebagai gantinya sinarkan kepercayaan diri dan ego Anda, Seal saja tetap dianggap seksi walau wajahnya bertoreh bekas
luka.

Menjelang pertengahan minggu, sebuah dilema akan menghadang Anda. Hadapilah dengan pemikiran matang sesuai dengan citra Anda semula. Ketika rambut mulai menumbuhi wajah, Anda harus menentukan keputusan: mencukurnya hingga bersih atau membiarkannya tumbuh. Pilihan pertama jelas lebih mudah, karena takkan berujung pada masalah selanjutnya, yaitu soal bentuk. Tak jadi masalah bila Anda ingin tampil dengan hiasan rambut di wajah, tapi bukan berarti Anda harus kelihatan seperti Robinson Crusoe saat ditemukan kembali. Rapikan kumis dengan gunting kecil agar nampak rapi, tapi berkumis tak berkumis, ingatlah bahwa sejumlah wanita lebih menyukai pria tak berkumis. Tak masalah, yang sebaliknya juga banyak.

Kumis saja tak cukup rupanya, Anda ingin melengkapinya dengan jenggot. Hilangkan jauh-jauh pemikiran untuk tampil dengan jenggot panjang -- ini cuma tampak bagus di film silat. Jenggot pendek lebih modern, bisa dibentuk hingga menyambung dengan kumis, atau yang lebih old-fashioned, menyambung dengan cambang alias side-burns. Tidak, tidak, kumis tak menarik, Anda memutuskan untuk tampil dengan jenggot saja. Ya tidak apa-apa, yang penting sang jenggot tetap pendek dan rapi. Minus kumis dan jenggot, Anda bermaksud memanjangkan side-burns, agak-agak Elvis Presley: benarkah ini keinginan Anda dan siapkah dengan konsekwensinya? Akhirnya dilema soal rambut wajah berakhir dengan kenyataan bahwa Anda ditakdirkan berwajah 'bayi' tanpa kehadiran bulu -- see prev. option.

Hari H: It's Now or Never!

Hari yang dinanti akhirnya datang jua, hati Anda gembira sekaligus cemas. Alihkan kegelisahan pada persiapan detil-detil akhir seperti menentukan dasi yang biru atau merah. Tetapi jangan membuat keputusan mendadak seperti pergi berbelanja sepatu atau dasi di saat-saat ini. Masalah seperti ini seharusnya sudah dibereskan pada minggu kedua.

Sempatkan untuk beristirahat secukupnya agar Anda siap tampil segar hingga pagi menjelang. Makanlah secukupnya, jangan kekurangan agar Anda tak nampak seperti si rakus di pesta. Jangan pula berlebihan hingga perut mudah terpancing hanya oleh segelas cocktail pertama.

Dua jam sebelum berangkat, sebaiknya Anda mulai bersiap-siap. Mulailah dengan -- tentu saja -- mandi hingga bersih. Kegiatan selanjutnya sudah tentu berjalan lancar, dengan persiapan selama ini. Potongan rambut yang sudah rapi cukup dibentuk dengan gel atau wax sesuai rencana, segarkan wajah dengan after shave lotion pilihan pribadi. Then slip into your planned
outfit dan semprotkan parfum kesayangan. Pemakaian aksesori merupakan sentuhan terakhir: jam tangan, gelang, kalung, anting, sepatu, dan jangan lupa seperangkat dompet dan isinya. Jangan datang terlambat, burung yang datang paling pagi memiliki lebih banyak kesempatan. Tapi kalau mau telat, telat sekalian. Fashionably late, karena mungkin Anda akan
dapat lebih banyak perhatian daripada beribu-ribu orang lain yang datang tepat waktu atau hanya agak telat.

Percayalah bahwa segala perjuangan berat selama tiga minggu silam telah membuat penampilan Anda cukup mengesankan. Istilah spektakuler mungkin jadi berlebihan setelah melihat pria-pria lain di arena. Tetapi bila tetap saja Anda sendiri hingga tahun berganti, jangan bertanya mengapa, maybe you're just not my type. Lagipula, ini kan cuma sebuah pesta, go on and have fun!

August 29, 1998

[Kompas] Harus Kembali Membangun Keindonesiaan

SAYA orang Indonesia asli, begitu disebutkan. Bukan, saya bukan Tionghoa. Saya wanita Jawa asli, muslim, yang biasanya disebut pribumi; bukan Tionghoa. Lalu kenapa? Kenapa kalau saya bukan Tionghoa? Apa itu pribumi? Siapa itu pribumi?

Sejak masa kerusuhan sampai sekarang, saya menjalani hidup seperti biasa. Makan, minum, jalan-jalan dengan teman. Mau ke mana pun saya suka, saya bisa. Saya tidak takut, ‘kan Jakarta sudah aman. Yah, walau memang, hidup agak susahlah sedikit; harus berhemat, maklum sedang ada krisis moneter yang lebih dikenal dengan krismon. Tapi semua orang juga begitu, harus berhemat. Semua orang?

Sungguh tidak adil bahwa saya masih tenang-tenang menjalani hidup saya seperti tidak pernah terjadi apa-apa. Padahal sementara itu ada begitu banyak orang yang bukan saja tidak menjalani kehidupan biasanya, bahkan tidak punya hidup lagi walaupun mungkin tidak mati. Tapi bisa jadi juga merasa lebih baik mati.

Bagaimana saya bisa begitu bodoh selama ini? Saya telah tumbuh dan dibesarkan di antara makhluk buas. Dan saya tidak tahu. Saya kira saya orang paling beruntung di dunia, hidup di tempat yang paling aman, damai, tenteram, dan sentosa. Itu seperti kata ibu dan bapak guru waktu di sekolahan dulu; yang saya sungguh percaya.

Walaupun pernah ketika kecil dulu saya masih di Semarang ikut orangtua, tahun 1980, bertanya-tanya apa maksud tulisan "pribumi" di banyak pintu rumah penduduk. Kata ibu, itu supaya aman, tidak dikira Tionghoa. Saya tetap tak mengerti penjelasan ibu, tetapi mengangguk-angguk tak berani tanya lebih jauh. Lalu sekolah diliburkan tiba-tiba lewat pengumuman di TV dan surat kabar. Tentu saja saya senang, buat bocah kelas 3 SD, bisa mendapat libur tiba-tiba adalah suatu anugerah yang mahal.

Tapi waktu masuk lagi, salah seorang teman saya sibuk bercerita tentang bagaimana ia dan keluarganya melarikan diri dan bersembunyi dari sekelompok pribumi yang mengamuk. Pribumi, lagi-lagi pribumi, kejam sekali mereka itu, para pribumi, begitu pikir saya. Moga-moga saya tidak pernah bertemu dengan salah seorang pribumi itu. Bodoh ya, kelas 3 SD waktu itu saya belum tahu persis makna istilah tersebut.

Lama..., lama saya baru memahami kalau saya adalah salah seorang dari kelompok menakutkan tersebut, karena ternyata saya pribumi. Karena ibu-bapak saya pribumi, eyang-eyang saya pribumi, buyut dan seterusnya pribumi. Dan karena Jawa itu pribumi. Juga Batak, Minang, Manado, dan lain-lain semua pribumi. Yang tidak pribumi cuma satu; cuma Tionghoa. Absurd.

Untuk pembauran, Tionghoa harus ganti nama. Jangan A Liang atau Li Ling. Itu tidak boleh! Tidak pembauran! Dan akhirnya mereka menciptakan nama-nama baru, yang kadang teramat bagus, dan nama marga mereka jadi kabur, tercerabut dari akar budaya.

Ada pula yang punya dua nama, yang satu nama ‘resmi’, yang lainnya diletakkan dalam kurung (nama kecil). Terkurung, seperti hidup yang harus mereka jalani. Terkurung birokrasi, terkurung keegoisan manusia lain yang menyombongkan kemayoritasannya. Terkurung di tanah yang indah berhiaskan nyiur melambai.


***


Maafkan saya, karena tidak tahu harus bagaimana. Maafkan saya, karena tidak tahu harus berbuat apa. Maafkan saya, karena telah menutup mata karena tak tega menyaksikan.

Berulang kali saya mencoba, tapi tangan saya selalu terlalu gemetar untuk memutar nomor-nomor telepon teman-teman saya itu. Bagaimana kalau kabar buruk yang saya dengar? Bagaimana kalau ia tak ada lagi... entah ke mana, bagaimana kalau ia terlalu menderita? Sanggupkah saya menolong? Apa yang bisa dilakukan setelah semua kehancuran ini?

Wanita-wanita dipermalukan dan dilecehkan. Hidup macam apa yang bisa dijalani setelah itu (kalau masih ada hidup), saya tak sanggup, tak kuat untuk membayangkan. Dan bisa jadi salah seorang dari mereka adalah teman saya. Bisa jadi salah satu teman saya yang sering jalan bareng, yang selalu saya cintai dan hargai.

Saya sudah muak dengan segala berita politik dan reformasi yang tiap hari kini didengung-dengungkan semua orang. Sekarang semua orang angkat bicara, berapi-api dan bersemangat bagaikan pejuang kemerdekaan dahulu.

Sekarang begitu banyak pengamat ekonomi, politik, dan sosial, yang begitu cemerlang mengemukakan ide-ide ini dan itunya. Para pemberani seakan lahir bersamaan di muka bumi Nusantara ini, menyuarakan suara rakyat kecil (dan siapa sih rakyat kecil itu, apakah saya termasuk di dalamnya?). Di mana mereka, para pemberani itu, tiga-empat bulan yang lalu? Apakah mereka sedang tertidur pulas dibuai angin sepoi-sepoi di bawah nyiur hijau di tepi pantai yang indah permai hasil pembangunan?

Apa pun yang terjadi kini, buat sebagian orang, sudah tak ada artinya lagi.


***


SEJARAH menyatakan, penduduk Indonesia datang dari daratan Tionghoa berabad-abad yang silam. Kemudian beberapa puluh tahun lalu, kerabat-kerabatnya menyusul dari Tionghoa.

Tapi tidak; tidak bisa disebut demikian! Karena yang datang duluan sudah berubah wujud menjadi pribumi, dan yang datang kemudian harus tetap disebut Tionghoa, pendatang.

Hanya karena kita datang duluan, lalu kita jadi berbeda? Ya. Ya, itulah adanya yang diyakini di sini, sekarang.


Saya wanita, sama seperti ratusan wanita yang dilecehkan hari itu.

Saya Jawa, pribumi, sama seperti ratusan makhluk buas hari itu.

Saya orang Indonesia, sama seperti ratusan orang yang dikejar dan mengejar hari itu.

Saya muslimat, saya percaya pada Allah, dan saya berlindung kepada-Nya.

Ya Allah, ke mana hati ini harus kubawa?

Indonesia, Indonesia, sebegitu hancur dan buruknya. Tapi saya telanjur jadi orang Indonesia, karena lahir dan dibesarkan di sini; tak dapat mengubah nasib ini lagi. Walaupun ternyata tak ada nyiur melambai dan padi kuning merayu, saya telanjur jatuh cinta pada Indonesia. Dan kira-kira begitu juga yang dirasakan oleh banyak orang Indonesia lainnya.

Lalu kenapa kita harus mempersoalkan perbedaan? Bukankah kita memang berbeda? Bukankah itu yang membedakan manusia dari binatang? Perbedaan yang membuat manusia beragam dan bermacam-macam. Apa menariknya sekumpulan manusia yang tak berbeda, bagaikan segerombolan robot dari sebuah pabrik. Ataukah kita memang sedang dalam proses robotisasi, menjadi boneka-boneka yang mudah dibentuk oleh tangan-tangan tertentu. Seperti sekumpulan bebek yang beriringan ke arah mana pun sang gembala mau: sama, sama, sama. Yang tidak sama adalah musuh, yang berbeda harus diperangi, dihancurkan, disingkirkan.

Kebencian ditanamkan dan diturunkan dari kakek ke anak, ke cucu, ke buyut. Apa mereka itu bodoh semua dan hanya menerima begitu saja, tanpa punya pikiran sendiri? Kebencian yang akhirnya tanpa alasan, menjadi kosong, hampa, hanya kebencian atas nama kebencian semata. Dan bagaikan robot yang hanya tergerakkan oleh kebencian, mereka berbuat dan bertindak tidak lagi menjadi manusia. Mereka kehilangan hakekatnya sebagai manusia dan merobek-robek hakekat manusia lainnya.

Tiap malam saya buka internet, memaksakan diri membaca berita dari mana-mana yang aktual. Dan saya gemetaran dan menangis tanpa mampu berbuat apa-apa manakala mendapati berita yang mengerikan menyangkut negeri saya. Saya jadi tersiksa, memendam berbagai pertanyaan, dan pemikiran, dan pengandaian. Andaikan tak terjadi, andaikan tak terjadi...

Saya begitu sedih dan kecewa. Tidak ada lagi kebanggaan dan rasa aman yang selama ini melingkupi. Saya memandangi sekeliling saya dengan penuh kecurigaan. Jangan-jangan dia makhluk buas itu, jangan-jangan dia makhluk biadab itu... Hancur sudah dunia mimpi yang kekanakan dulu itu.

Mulai saat ini, saya harus hidup dengan penuh kewaspadaan, bahkan kecurigaan pada manusia dengan topeng-topengnya. Mungkin juga saya harus mulai membuat topeng-topeng untuk saya pakai agar hidup saya aman. Agar saya tidak tiba-tiba menghilang dari dunia, rohaniah atau sekalian badaniah.

Saya orang Indonesia, seperti dua ratus juta lainnya yang berstatus Warga Negara Indonesia, apa pun sukunya. Saya orang Indonesia, asli atau tidak asli saya tidak lagi peduli. Saya orang Indonesia, apakah masih boleh bangga kalau kenyataannya sekarang setelah 53 tahun merdeka masih harus kembali kerja keras membangun keindonesiaan?