November 18, 2003

[a+ magazine] Everything is Back

Sejarah saja berulang, apalagi mode.

Waktu saya kecil, ada sebuah peti besar berwarna biru di gudang rumah saya di Surabaya. Di situlah, ibu saya menyimpan berbagai perangkat masa lalunya untuk dibuka sewaktu-waktu. Tas tangan kulit buaya (asli tentunya), berbagai tas kulit bertekstur unik, boots merah maroon
setinggi lutut, leather gloves, syal bulu selembut kucing angora (memang dari kucing angora?), tweed coat hijau botol, dan berbagai aksesori yang dulu saya anggap begitu tak masuk akal.

Tetapi kini, betapa irinya saya pada masa muda sang ibunda. Apalagi menyimak semangat vintage dan retro yang terus-menerus datang dan kembali ke dunia mode. Nampaknya sekarang ini sangatlah beresiko untuk membuang sesuatu hanya karena sudah tidak in lagi. Perputaran mode makin lama makin cepat dan bolak-balik terus, dari back to sixties sampai back to eighties, back to sixties lagi, black is back, mod is back, punk is back, everything is back, dan seterusnya.

Apa kira-kira yang akan terjadi kalau semuanya sudah dibolak-balik sampai bosan? Mungkin majalah ini dan semua media yang mengusung mode akan segera bangkrut karena semua orang mengenakan jumpsuit seragam dari bahan metalik seperti dalam film-film science fiction. Tamatlah riwayat rumah mode dan para desainer menjadi pengangguran. Mungkin para wanita hanya mengenakan busana ala perban seperti Milla Jovovich dalam film Fifth Element. By the way, busana itu hasil rancangan Jean Paul Gaultier, jadi masih ada harapan untuk para desainer.
OK, stop the rambling thoughts. Marilah berharap mode masih hidup paling tidak sampai manusia mulai memakai transporter untuk berpindah tempat. Dan sebelum itu terjadi, kita masih bisa menikmati perputaran mode yang bolak-balik itu. Coba lihat, vintage apa lagi yang kembali digemari sekarang? (Oh peti biru itu!) Tas kulit eksotis (bukan dari hewan aslinya, mau di-demo oleh PETA?), tas-tas kulit bertekstur unik, boots semata kaki sampai selutut, leather gloves, dan berbagai perangkat masa lalu itu kini bisa kita sambut kembali.

Andaikan peti besar biru itu kini ada di rumah saya, terbayanglah sudah begitu banyak padu-padan super trendy yang bisa saya ciptakan. Sayangnya, sang peti berikut isinya sudah dimusnahkan kakak ipar saya yang kini menempati rumah itu. Sampai kini, nampaknya ia masih bertanya-tanya mengapa tiap kali bertemu, saya meremas tangannya erat-erat sambil menatap matanya dengan pandangan menghunjam.

November 15, 2003

[BMW Magazine] Lima Menit Bersama Seorang Ratu

Cantik, ramah, hangat, bersuara bagus, dan tentu saja pintar. Amelia Vega memang pantas menjadi Miss Universe.

Mobil BMW 735 Li abu-abu berhenti di depan lobby Hotel Le Meridien, Jakarta. Saat pintu terbuka, keluarlah sosok cantik setinggi 183 cm. Ia berdiri sejenak sambil tersenyum manis di samping mobil saat juru kamera mengambil gambarnya. Semua itu, ditambah dengan kesibukan para pengawal di sekitarnya mengingatkan pada suasana kehadiran seorang superstar di acara
Oscar.

Tak heran, yang datang ini memang layak disebut superstar baru karena ialah Miss Universe 2003, Amelia Vega dari Republik Dominika. Gelar itu disandangnya sejak Juni lalu di kota Panama, setelah menyingkirkan sekitar 70 gadis cantik dari berbagai negara. Gadis berusia 18 tahun ini membuat negaranya sangat bangga, karena inilah pertama kalinya gelar Miss Universe jatuh ke tangan warga Republik Dominika.

Sejak menjabat gelar Miss Universe 2003, Amelia tinggal di New York untuk bekerjasama dengan beberapa organisasi HIV/AIDS internasional sebagai juru bicara. Ia berkeliling dunia untuk berkampanye meningkatkan kesadaran akan AIDS, serta pencegahannya terutama di kalangan remaja. Selain itu, ia juga mengkampanyekan kesadaran akan hak-hak perempuan serta kepedulian pada kesehatan reproduksi.

Kunjungannya ke Indonesia di bulan Juli merupakan bagian dari serangkaian jadwal padat yang dijalaninya sebagai duta kecantikan. Ditemui setelah sebuah sesi pemotretan di sejuah majalah wanita, Amelia masih sempat memberikan kesempatan wawancara walau ia harus segera bersiap-siap untuk menghadiri acara pergelaran Putri Indonesia malam harinya.

Kesan lelah sama sekali tak nampak pada wajahnya. Yang terpancar justru sikap ramah, hangat, dan kepercayaan dirinya yang kuat. Di usia yang tergolong sangat muda, gadis kelahiran 7 November 1985 ini mampu menampilkan kematangan dan kehangatan layaknya seorang wanita dewasa.

Bagaimana hidup Anda berubah setelah menyandang gelar Miss Universe?

Semuanya sangat berbeda. Sebelumnya saya hanyalah Miss Dominika, mewakili negara saya sendiri. Kini saya sangat bahagia menyandang gelar ini karena sekarang saya tak hanya mewakili Dominika, tetapi juga seluruh dunia, termasuk Indonesia, negara Anda yang indah.

Kontribusi apa yang akan Anda berikan pada dunia melalui peran baru ini?

Sebagai Miss Universe, saya berkeliling dunia untuk mengkampanyekan kesadaran akan AIDS. Beberapa minggu yang lalu, saya mengunjungi para gay yang menderita AIDS, menghabiskan waktu untuk berkumpul dan berbincang dengan mereka. Itulah salah satu cara untuk
meningkatkan kesadaran dan pengetahuan masyarakat pada penyakit ini.

Saya dengar Ibu Anda, Patricia Polanco, juga seorang ratu kecantikan?

Ya, benar. Ia mewakili Republik Dominika untuk pemilihan Miss World pada tahun 1980 dan memenangkan gelar Miss Tourism.

Nampaknya gelar tersebut sudah merupakan keturunan dalam keluarga Anda?

Mungkin saja (Amelia tersenyum). Tapi Ibu saya tak pernah mengharuskan saya melakukan sesuatu yang tak saya inginkan. Ia hanya memberikan semua cintanya serta pendidikan yang baik. Ia mengatakan pada saya bahwa saya bisa menjadi apa saja yang suka. Ibu saya
merupakan salah satu panutan dalam hidup saya. Ia adalah bagian dari apa yang ada pada diri saya sekarang.

Adakah mimpi yang ingin Anda raih dalam hidup ini?

Kini gelar Miss Universe telah di tangan, mimpi saya yang lain adalah menjadi seorang penyanyi terkenal bila Tuhan mengijinkan. Tapi saat ini, saya ingin berkonsentrasi dulu pada tugas-tugas saya sebagai Miss Universe.

Apakah konsep wanita modern menurut Anda?

Wanita modern kini memiliki kebebasan untuk memilih apapun yang ia mau. Ia juga memiliki kemampuan untuk menangani keluarga sekaligus bekerja. Dan tentu saja saya sangat bangga menjadi bagian dari generasi yang modern ini.

Apakah gelar Miss Universe akan membantu Anda merefleksikan konsep wanita modern ini?

Tentu saja, saya adalah salah satu wanita modern tersebut. Dan sebagai wanita yang hidup di millenium ini, saya telah bekerjasama dengan beberapa organisasi sosial, saya merasa nyaman dengan semua ini, juga sangat percaya diri. Saya bangga bisa mewakili citra wanita muda saat ini.

Bagaimana mobil-mobil BMW menurut Anda, terutama seri 7?

Nyaman sekali. Saya sangat senang berada di dalamnya, bermain-main dengan semua tombolnya. Saya sangat berterimakasih pada BMW yang telah memberikan kesempatan pada saya untuk menggunakan salah satu mobilnya selama kunjungan ini.

Sayang, lima menit segera berlalu, dengan sopan Amelia meminta maaf karena harus menyudahi wawancara. Dedikasinya pada tugas membuatnya selalu berusaha menepati jadwal sebagai Miss Universe. Sambil tersenyum ramah, ia bersalaman, lalu segera berlalu untuk menyiapkan diri.

Kita boleh berharap untuk segera melihatnya lagi. Siapa tahu, mungkin tahun depan Amelia akan kembali mengunjungi Indonesia, kali ini sebagai penyanyi kelas dunia.

October 18, 2003

[a+ magazine] Soundtracks of My Life

Kalau hidup saya adalah sebuah film, maukah Anda membeli soundtrack CD-nya?

Malam itu begitu gelap. Nampaknya lampu-lampu jalanan tak lagi berfungsi. Sepinya jalan membuat saya menekan pedal gas semakin kuat, sambil menyenandungkan ‘The Tide is High’ dari Atomic Kitten yang menggaung keras dari perangkat audio mobil. Tak terduga, tiba-tiba dari arah depan, sebuah mobil meluncur tepat ke depan saya. Saya berusaha membanting setir ke kiri, tapi mobil tak mampu terkendali, menabrak pagar pengaman, terlempar, dan akhirnya terbalik. Pandangan saya pun mulai mengabur, sebuah cahaya perlahan muncul di atas sana. Sudah waktunya. Sementara di latar belakang, Atomic Kitten masih berdendang tak henti-henti,’The tide is high and I’m holding on, I’m gonna be your number one. The tide is high and I’m holding on, I’m gonna be your number one. Nuuuumber one, nuuuuumber one....’

Aaaah, untunglah itu semua cuma mimpi buruk, karena (1) saya tidak bisa menyetir mobil, dan (2) Atomic Kitten? (3) Atomic Kitten? (lagi) (4) Apa? Atomic Kitten? Yang bener lu?

Kadang-kadang saya membayangkan hidup ini seperti sebuah film, dan tentunya haruslah ada serangkaian musik yang tepat sebagai soundtrack-nya. Anda tak mau kan momen penting seperti di atas rusak hanya gara-gara musik pengiring tak tepat?

Jadi, apa pilihan lebih tepat untuk mengiringi adegan tersebut? Yang paling hip jatuh pada ‘Bring Me to Life’-nya Evanesence. Bagaimana menurut Anda? Musik rock menderu-deru, suara penyanyi wanita yang bening, dentuman suara vokalis pria: ‘Wake me up inside (I can’t wake up), wake me up inside (save me), call my name and save me from the dark…’, sementara kamera berpindah-pindah cepat antara wajah saya dengan mobil yang melaju kencang membahayakan, serta lampu mobil di depan yang tiba-tiba membelah kabut. Lalu mobil saya menabrak dan terlempar hingga terbalik tepat saat si vokalis pria berteriak: ‘Save meeee….’ Mengiris, bukan? Sayang sudah digunakan untuk soundtrack Daredevil.

Sebenarnya pilihan ini terlalu pop untuk saya yang cenderung retro (maksudnya bergaya jaman dulu, bukan yang di Crowne Plaza). Saya lebih suka memilih ‘The End’ dari The Doors. Judulnya saja sudah kena, apalagi liriknya: ‘This is the end, beautiful friend. This is the end, my only friend, the end…’. Seiring dengan semakin perlahannya suara Jim Morrison, pandangan saya pun semakin mengabur. Dengan gerak lambat, pandangan saya beralih ke langit. Begitu banyak bintang di langit yang hitam, suara Jim Morrison berganti dengan derik jangkrik. Pasti sutradaranya Francis Ford Coppola. Lho, tapi kan lagu ini memang dipakai sebagai opening song film Coppola tahun 1979, Apocalypse Now. Jadi saya masih harus mencari lagu lain dong.

Mengkhayal dengan diiringi musik memang nikmat. Tak hanya saat mengkhayal sesuatu yang belum atau tidak akan terjadi, tapi juga saat mengenang sesuatu yang sudah berlalu. Saya punya kebiasaan mengorganisir pikiran saya berdasarkan lagu-lagu yang pernah saya dengar. Bisa jadi karena iramanya, mungkin karena liriknya, atau hanya karena kebetulan saja lagu itu diputar saat sesuatu sedang terjadi. Itulah sebabnya, kalau saya mendengar Rio Febrian dan Glenn Fredly melantunkan ‘Katakan Kau Milikku’ dengan mendayu-dayu, saya pasti merasa sedang makan mangga sambil minum bir, mengobrol dengan seseorang yang spesial, dan merasa senang kembali.

Praktis, bukan? Jadi saat mendengar lagu tertentu, secara otomatis otak akan memutar juga pikiran yang berkaitan. Bisa dikatakan, saya ‘menyimpan’ pikiran dalam lagu-lagu. Dan saat saya ingin mengingat suatu pikiran tertentu (bisa kenangan, bisa pula cuma ide atau khayalan), saya cukup memutar lagu yang berkaitan. Kalau saya mendengar ‘Big Yellow Taxi’ dari The Neighbourhood (boleh juga yang versi The Counting Crows): ‘…don't it always seem to go that you don't know what you've got till it's gone. They paved paradise and put up a parking lot...’, maka terbayanglah saya berjalan bergandengan tangan dengan seorang anak laki-laki balita di sebuah pantai sepi nun jauh di negara asing. Saya memakai kacamata berbingkai bulat, kaos singlet dan celana pendek tie-dye. Demikian juga si balita. Kami berjalan pelan-pelan sambil menikmati suasana. Kapankah itu terjadi? Oh maaf, ini cuma khayalan kok.

Lalu kalau sedang ingin menggali kreativitas, lagu apa yang harus saya dengar? Nampaknya ‘Wish’ dari Franka Potente yang paling tepat. ‘I wish I was a writer who sees what's yet unseen. I wish I was a prayer expressing what I mean. I wish I was a forest of trees that do not hide. I wish I was a clearing no secrets left inside.’ Dan semoga pikiran yang buntu pun mengalir lancar. Yeah you wish.

Sistem ini jadi sedikit menyusahkan karena beberapa hal, yaitu: (1) kalau saya lupa apa lagunya, dan (2) lama-kelamaan saya sulit membedakan antara kenangan yang sungguh terjadi dengan yang khayalan belaka. Itulah akibat terlalu banyak berkhayal.

Nah, apakah theme song yang tepat untuk film kehidupan saya ini? Saya memilih ‘For Once in My Life’. Coba dengarkan: ‘For once in my life, I have someone who needs me, someone I've needed so long. For once unafraid, I can go where life leads me and somehow I know I'll be strong.... Oh begitu penuh harapan. Semua orang pasti ingin merasakan hal itu. Tak heran, lagu ini tak pernah absen dari setiap resepsi pernikahan di Gran Mahakam. Daftar penyanyinya pun berderet: Frank Sinatra, Gladys Knight and the Pips, The Temptations, Stevie Wonder, Vonda Shepard, dan –believe me, I’ve been doing a list- masih banyak lagi. Yah, tak apalah kalau theme song hidup saya ternyata sudah terlalu banyak dinyanyikan orang. Mungkin ini berarti keinginan saya pun tak beda dari keinginan banyak orang.

Pikiran-pikiran dan perasaan-perasaan yang tersimpan dalam lagu ini merupakan kenikmatan pribadi. Diam-diam saya merasa senang, sedih, bingung, penuh harapan, atau marah saat lagunya diputar. Ada baiknya saya mulai mengumpulkan lagu-lagu tersebut, menyimpannya dalam CD, dan menjudulinya ‘Soundtrack of My Life’. Ingat, ini bukan semata CD lagu-lagu, tapi merupakan media penyimpan pikiran. Di dalamnya ada kenangan, khayalan, dan harapan.

Lho, tapi ternyata bukan saya saja yang suka berkhayal sambil mendengarkan lagu. Hal ini sudah dilakukan oleh SEMUA orang. Tidak orisinil juga ya. Itu menjelaskan kenapa mas-mas sopir depan rumah saya tiba-tiba tersenyum sendiri kalau mendengar Inul menyanyi ‘Dikocok-kocok’. Ada kenangan apa, mas? Oh, nggak, saya cuma teringat goyang ngebor-nya mbak Inul itu (tidak bisa berhenti senyum-senyum).

Itu juga sebabnya muncullah berbagai acara lagu-lagu nostalgia di televisi. Para Bapak-bapak dan Ibu-ibu ternyata juga gemar berkhayal dan mengenang. Ibu saya tak bisa dipindahkan dari depan televisi pada hari Minggu malam. Kaset dan CD lagu kenangan pun tak pernah berhenti diterbitkan. Classic Love Song? 20 Evergreen Memories? 18 Tembang Emas? The Best of Rachmat Kartolo dkk? Take your pick.

By the way, saya masih belum menemukan soundtrack yang tepat untuk adegan tabrakan tadi. Hmm, bagaimana dengan ‘An Angel is Love’? Sebuah cahaya mengapung pelan di atas saya. Tubuh saya semakin ringan, tangan-tangan lembut mengangkat tubuh saya. Perasaan saya begitu lepas dan bahagia, samar-samar mengalunlah ‘...a beggar is sorrow, the devil is hate. A dream is tomorrow, a fool cannot wait. And honesty’s beauty that rises above to look in the eyes of an angel. An angel is love….’ Saya menoleh ke samping, lho kok ada seorang wanita berambut pirang dengan kostum bikini futuristik? Saya baru ingat, lagu inipun sudah menjadi soundtrack film Jane Fonda tahun 1968, Barbarella.

Pencarian masih berlanjut, sementara kesadaran saya perlahan timbul. Saya pun mulai bertanya-tanya, pentingkah pencarian ini dilanjutkan? Nampaknya lebih baik kalau saya tidur lagi, dan mengharapkan mimpi yang lain.

Sambil mengetik, muncullah video klip terbaru Justin Timberlake, ‘Rock Your Body’, di layar televisi saya. Dalam ruangan kerlap-kerlip itu, ia menari: ‘Don't be so quick to walk away. Dance with me, I wanna rock your body. Please stay...’ Tiba-tiba keasyikan saya terganggu dengan bunyi bel pintu. Bergegas saya ke depan dan membuka pintu pagar. “Eeh, dik Justin, silakan masuk.... Udah, sandal jepitnya dipake aja.” Wah, pasti ini mimpi lagi, karena (1) rumah saya tidak ada bel pintunya, dan (2) Justin Timberlake pasti tidak memakai sandal jepit.

October 15, 2003

[dewi magazine] Parfum Pesta, Pesta Parfum

Saatnya berpesta! Penampilan sudah istimewa, parfum pun perlu yang tak biasa.

Saat menerima undangan ke sebuah pesta, serangkaian rencana segera tersusun di kepala. Busana apa yang akan dikenakan? Bagaimana tata rias wajah dan rambutnya? Aksesori mana yang paling cocok? Tujuannya tentu agar penampilan di pesta jadi berbeda dengan penampilan sehari-hari.

Tapi semua persiapan itu tak akan lengkap bila ternyata parfum yang Anda kenakan masih saja sama dengan yang sehari-hari. Karena itu, ada baiknya Anda memiliki beberapa botol parfum sesuai saat-saat yang berbeda. Berikan label pada parfum-parfum tersebut -dalam hati saja, tak usah menempelkan label di botolnya- sesuka hati. Dengan demikian, saat Anda menyemprotkan parfum berlabel 'pesta', maka mood untuk berpesta pun segera terasa.

Tetapi jangan karena untuk ke pesta, lantas Anda menyemprotkan parfum secara berlebihan. Untuk mendapatkan aroma yang lebih kuat, pilihlah eau de perfume yang aromanya lebih terkonsentrasi daripada eau de toilette. Selain mengenakannya pada titik-titik nadi, kenakan parfum pada bagian tubuh di bawah pinggang. Karena aroma parfum menguap bersama panas
tubuh, hal ini akan membuat tubuh Anda harum dari ujung rambut hingga kaki.

Penggunaan secara berlapis dengan body lotion dan sabun beraroma sama juga akan mempertahankan wangi parfum. Apalagi sekarang banyak juga body lotion yang mengandung glitter untuk sentuhan khusus pada penampilan ke pesta. Menyemprotkan parfum pada busana biasanya tidak dianjurkan karena aromanya sulit dihilangkan, tetapi untuk ke pesta, tak ada salahnya Anda melakukan hal ini. Toh, busana pesta tersebut memang tak akan dikenakan sehari-hari.

Lalu, sebenarnya apa yang membedakan parfum sehari-hari dengan parfum untuk ke pesta? Secara umum, aroma bunga-bungaan yang lebih 'manis' menjadi pilihan banyak wanita saat ke pesta. Ternyata menurut penelitian, aroma seperti ini terbukti meningkatkan mood dan mengurangi kelelahan. Tapi tak perlu terlalu terpatok pada hal ini. Tak ada petunjuk lebih tepat
kecuali diri Anda sendiri. Karena seperti juga parfum untuk sehari-hari, parfum ke pesta pun mewakili kepribadian yang ingin Anda tampilkan.

Box:
Party Personality

Pilihan pesta menunjukkan kepribadian, dan kepribadian menentukan parfumnya. Mana pesta yang lebih Anda sukai?

Gala Dinner

So Pretty dari Cartier, No. 5 dari Chanel, Y dari YSL, Poeme dari Lancome, L'Eau D'Issey dari Issey Miyake.

Lounge Party

Pleasures dari Estee Lauder, L'Air du Temps dari Nina Ricci, Cristalle dari Chanel, Fragile dari JPG limite.

Private Party

Jaipur dari Bocheron, Coco dari Chanel, Obsession dari Calvin Klein, Versace Jeans Couture dari Versace, Omnia dari Bvlgari.

Garden Party

No. 22 dari Chanel, Red dari Giorgio, Rive Gauche dari YSL, Summer Cologne dari Tommy Hilfiger, Premier Jour dari Nina Ricci.

After Show Party

Casmir dari Chopard, Dolce Vita dari Christian Dior, Accenti dari Gucci, Un Aire de Samsara dari Guerlain, Cristobal dari Balenciaga.

October 08, 2003

[a+ magazine] Pria-Pria Tampan

Pria sportif, pria klasik, pria dandy, pria edgy. Nama boleh macam-macam, tapi kalau perut tak rata, Anda berada di luar lingkaran.

Mode itu jelas-jelas hubungannya dengan keindahan. Mau tak mau, kalau ingin keindahan mode itu nampak, tempat bertenggernya pun haruslah sesuai. Tidak mungkin kan, pemilik perut buncit mengenakan flat-front pants atau drawstring pants? Hasilnya pasti tidak flat atau malah dikira pelatih silat.

Superficial sekali, begitu pendapat Anda dengan defensif. Lho, itulah esensi dasar mode. Kalau tidak superficial, ya bukan mode. Jadi janganlah diperdebatkan mengapa tak ada trend busana untuk mereka yang terlalu kurus atau terlalu gemuk. Yang disuguhkan di atas catwalk adalah dunia ide dan inspirasi, dunia mimpi. Bagaimana menginterpretasikannya, bagaimana menanggapinya, tentu terserah pemirsa.

Lagipula semua hal pasti ada sisi baik-buruknya. Anorexia dan bulimia di satu ujung, tetapi ujung lainnya adalah kebugaran dan keindahan. Kita ambil sisi baiknya saja, akibat sampingan sebuah usaha keras menghasilkan tubuh hampir sempurna, biasanya adalah tubuh yang sehat. Tentunya bila hal ini dilakukan dengan kunjungan teratur ke fitness centre serta pengaturan makanan dengan gizi seimbang, bukannya liburan dua minggu untuk penyisipan implan silikon
agar dada jadi kotak-kotak.

Lihat saja, kalau sudah berhasil dalam usaha pembentukan tubuh, pasti Anda (diam-diam atau
terang-terangan) berusaha memamerkannya. Ini menjawab pertanyaan seorang teman saya soal mengapa pria-pria bertubuh bagus senang memakai busana agak ketat. Iyalah, kenapa juga sudah susah-susah membentuk perut terbagi enam, terus malah menutupinya dengan kemeja
kotak-kotak kedombrongan?

Dan buat mereka yang takut diragukan kejantanannya akibat tampil trendy, lebih baik buang alasan kuno untuk malas berolahraga tersebut. Kami para wanita lebih senang kok melihat pria bertubuh indah dan berpenampilan modis daripada yang sembarangan. Kalaupun ada wanita yang mengaku tidak suka, alasan sebenarnya pastilah kurang percaya diri karena kalah indah.

Karena itu, janganlah ragu berusaha keras membentuk tubuh dalam upaya tampil modis. Tapi bila perut tak juga rata setelah sit-up seratus kali tiap pagi selama 3 bulan, maka bukalah hati dengan lapang. Coba lihat barisan di bawah ini. Kalau Anda masih saja memandang dengan kesal, berarti sirik aja tuuh...

March 18, 2003

[a+ magazine] Mengenang Barbie

Pada suatu sore, saya terkenang pada sebuah kisah cinta lama, dan bagaimana saya melaluinya.

Mengingat jumpa pertama saya dengan barbie adalah melayangkan ingatan pada masa kecil. Entah sejak kapan persisnya, tiba-tiba sudah ada sepasang barbie berambut pirang dalam peti mainan saya. Saya segera terpesona pada kecantikan wajah dengan pipi merona dan kulit yang nampak begitu halus, rambut pirang sepinggul yang memantulkan cahaya pada setiap gerak, serta tubuh tinggi langsing dengan pinggang begitu ramping. Dalam sekejap saya melupakan Katak, boneka bulu berwarna hijau lusuh yang telah menemani selama bertahun-tahun. Apa boleh buat, barbie memang sebuah citra yang sangat, sangat cantik.

Sesuai dengan wujud mereka yang 'bule', saya memberikan nama Laureen dan Maureen. Layaknya barbie, kedatangan mereka ke kediaman saya tentu saja disertai seperangkat busana dan perlengkapan paling indah yang bisa dibayangkan seorang gadis kecil. Untuk tiap outfit berbeda, mereka memiliki padanan sepatu dan tas yang berbeda pula. Setiap pagi, mereka bersenam dalam busana ketat berwarna merah dan kuning lalu membengkok-bengkokkan lutut serta memutar-mutar tubuh (inilah kelebihan barbie dibandingkan boneka sejenis lainnya). Saat menghadiri acara makan siang, mereka merasa perlu mengenakan setelan denim dengan boots selutut dan tas tangan bernuansa senada atau paduan blouse putih berenda dan rok lipit bermotif bunga-bunga dan sepatu sandal bertali, tergantung di mana tempat makan siangnya.

Pada dasarnya, saya bukanlah orang yang mudah merasa iri. Tapi, siapa yang takan terpancing rasa irinya bila melihat sosok yang begitu cantik, begitu sempurna, dan begitu kaya? Ah, siapakah wanita yang tak ingin menjadi barbie walau sekali saja dalam hidupnya? Tak peduli betapa bodoh dan tak berotaknya citra yang kadang ditampilkan barbie.

Saya bukanlah satu-satunya yang tergila-gila pada kecantikan barbie. Sejak kemunculannya sebagai wanita berkebangsaan Italia pada tahun 1959, impian menjadi barbie mulai merasuk dalam pikiran setiap wanita. Apalagi kemudian barbie muncul dalam berbagai warna kulit, bentuk mata, maupun etnis berbeda. Jadi, bolehlah saya (waktu kecil) bercita-cita menjadi
barbie berkulit cokelat dan bemata belo sambil menikmati koleksi busana dan aksesori yang merupakan hasil cipta berbagai perancang berkelas -dari Bob Mackie, Vera Wang, Christian Dior, sampai Didi Budiardjo.

Tetapi mimpi memang harus tetap mejadi mimpi. Pada akhirnya saya tersadar bahwa semua barbie memiliki bentuk tubuh dan kecantikan yang persis sama, tak peduli etnisnya. Yang ada adalah barbie berpakaian Cina, Jepang, Rusia, sampai Minang, tetapi bukan wanita Cina, Jepang, Rusia, maupun Minang. Barbie hanyalah mimpi yang diciptakan otak jenius seorang
pemilik pabrik boneka, Ruth Handler. Dan karena itu, barbie haruslah tetap menjadi sekedar mimpi belaka, karena bila tiba-tiba menjadi nyata maka impian indah itu justru tak ada lagi. Maka, bodohlah mereka yang terobsesi ingin menjadi seperti barbie, karena sebenarnya hanya barbie yang boleh menjadi barbie. Masa nggak sadar juga, sih?

Jadi jangan salahkan saya yang akhirnya meletakkan Laureen dan Maureen ke dasar terbawah peti mainan beserta segenap perlengkapannya -sebagaimana umumnya kanak-kanak yang bosan pada mainannya. Pada saat saya melakukan hal itu, saya melihat Katak di dasar peti,
begitu lama terlupakan. Saya mengambilnya.

August 08, 2002

[Harper's Bazaar] Mereka Merantau ke Pulau Dewata

Walau bergelut di bidang yang sama, mereka berasal dari latar belakang dan budaya yang sama sekali berbeda. Mengapa akhirnya memilih tinggal di Bali?

Tak ada tempat yang memiliki begitu banyak sisi seperti Bali. Mereka yang hanya ingin bersantai dan menjauh dari kesibukan sehari-hari, lari sejenak ke Bali untuk menghilangkan kepenatan. Tapi Bali tak sekedar pulau liburan, tempat ini juga mampu menjadi sumber inspirasi bagi mereka yang bergerak di bidang seni, seperti para desainer perhiasan ini. Rupanya ada sesuatu yang menarik di Bali. Mungkin budaya setempatnya yang memang menempatkan seni sebagai bagian hidup sehari-hari. Mungkin alamnya yang masih begitu menawan. Atau mungkin, Bali memang memiliki suatu daya tarik misterius. Paling tidak, begitulah beberapa alasan yang dikemukakan para desainer perhiasan ini.

Diana Dunk: Kembali Pada Tradisi

Pada awalnya, wanita asal Bandung berencana tinggal di Bali selama setahun untuk bekerja di bidang interior, sesuai dengan jurusan tekstil interior yang telah didalaminya di Institut Kesenian Jakarta. Lalu tiba-tiba, tak terasa hampir duapuluh tahun sudah berlalu.

Saat itu, ia tak langsung bergerak di bidang desain perhiasan. Bali yang begitu kaya memuaskan
keinginannya untuk mempelajari berbagai hal yang berhubungan dengan desain. Ia belajar banyak tentang berbagai bahan seperti kayu, kain, bambu, dan akhirnya emas, perak, serta bermacam batuan. Sekitar lima tahun yang lalu, ia memutuskan untuk melepaskan berbagai
pekerjaan desainnya dan menjadi ibu rumah tangga penuh. Ketak-betahannya untuk menganggur membuatnya mulai menggambar beberapa sketsa perhiasan, yang kemudian diwujudkan oleh suaminya. Akhirnya, dengan bantuan sejumlah perajin, ia memutuskan untuk lebih menekuni bidang perhiasan ini.

"Yang saya suka dari Bali adalah cratmenship-nya. Mereka (para perajin itu) sangat berbakat, mampu membuat apa saja. Buat mereka, berkarya merupakan suatu dharma, bagian hidup sehari-hari, sama seperti kita makan nasi atau bekerja," ujarnya.

Dalam berkarya, Diana memilih untuk berkutat dengan emas 22 karat. Ia juga banyak menggali ke dalam budaya Indonesia sebagai bahan inspirasi. Saat ia menikah, ibunya yang berdarah jawa memberikan seperangkat perhiasan emas kepada Diana. Saat itu, terpikir olehnya bahwa sudah begitu banyak perhiasan tradisional Indonesia yang sudah tak bisa ditemui lagi karena telah dibeli oleh para kolektor di luar negri. Di sinilah awal idealismenya untuk mengembalikan apa yang sudah lama ada dalam budaya Indonesia, untuk dikombinasikan dengan desain yang memungkinkan pemakaian sehari-hari.

Ia mencontohkan salah satu desainnya yang mengambil inspirasi bentuk giwang kuno dari Kalimantan. Diana memodifikasinya sehingga bentuk tersebut bisa dikenakan sebagai kalung atau cincin karena bentuk aslinya terlalu besar sebagai giwang.

Inspirasi ini memang terpancar pada berbagai desainnya yang memiliki bentuk-bentuk tradisional seperti spiral serta tekstur dan permukaan yang tak halus. Beberapa pelanggannya justru mengomentari desain Diana seperti perhiasan Eropa lama. Hal ini tak disangkal olehnya.
"Mungkin saja itu benar, budaya kita memang terpengaruh Spanyol, Portugis, dan Belanda di masa lalu."

Sebelum dua tahun terakhir, Diana hanya memasarkan karyanya di Amerika. Hal itu diawali dengan mengikuti pameran perhiasan di negara bagian Arizona, Amerika, yang berlangsung setahun sekali pada bulan Januari. Pemasarannya di Indonesia diawali dengan tawaran dari
Palanquin Bali, sebuah butik di Kuta, untuk menjual hasil karyanya. Tak sekedar menjual, Palanquin juga mempromosikan para desainer yang menjadi mitra kerjasama melalui berbagai bentuk promosi, salah satunya adalah dengan trunk show atau pameran. Walau tanpa ikatan kontrak khusus, promosi melalui Palanquin ternyata cukup efektif, banyak pelanggan baru yang datang. Kini, selain di Palanquin, Diana juga memasarkan karyanya di Amanjiwo, Jogjakarta.

Saat ini Diana tinggal di Pejeng, sebuah desa kecil yang sunyi di luar Ubud, bersama keluarganya. Rumah itu ditinggalinya sejak lima tahun yang lalu, setelah ia meningalkan Ubud yang sudah mulai ramai. Ia memilih tinggal di tempat-tempat yang sepi karena ingin
mendekatkan diri dengan kehidupan masyarakatnya. Lagipula Bali bukanlah tempat yang terlalu besar, hanya dengan setengah jam perjalanan, ia bisa pergi ke gunung atau pantai.

Sebuah konsep yang ia pelajari dari para perajinnya adalah tak adanya keterikatan pada karya yang dihasilkan. "Setelah selesai mengerjakan, mereka lepas dari karya itu. Tak ada keterikatan, karena mereka tahu akan ada hal baru yang lain lagi," jelasnya. Diana pun mempraktekkan konsep yang sama pada karya-karyanya. "Perhiasan saya yang sudah selesai,
lepas dari diri saya, karena kini ia telah memiliki tanggung jawabnya sendiri."

Dalia Brooks: Perak Kelas Tinggi

Bidang perhiasan bukanlah hal baru untuk wanita kelahiran Israel keturunan Yugoslavia ini. Ayahnya, Rafael Alfandary, adalah seorang desainer perhiasan yang sangat terkenal di Toronto, Kanada. Tak heran bila Dalia telah mulai membuat perhiasan pada usia tujuh tahun dan menjual karya pertamanya pada usia 12 tahun. Pada usia 19 tahun, ia telah membuka butik perhiasan sendiri, yang berkembang menjadi tiga buah saat usianya mencapai 21 tahun.

Ketika datang ke Bali 12 tahun yang lalu, keinginannya hanyalah untuk berlibur, bagian dari perjalanannya berkeliling dunia. Tapi di pulau itu, ia terpesona pada kemampuan para perajin setempat untuk menghasilkan berbagai karya perhiasan tradisional dengan biaya yang sangat murah. Segeralah timbul idenya untuk mengkombinasikan hal itu dengan desain dan teknik yang lebih modern.

Keinginannya itu diwujudkan dua tahun kemudian ketika ia kembali ke Bali dan mendirikan perusahaan perhiasan atas namanya sendiri. Paduan antara kreatifitas, pengalaman di bidang materi dan teknik, serta biaya produksi yang rendah, membuat hasil karyanya meraih sukses besar sewaktu dipasarkan di Amerika.

Walau berdomisili di Bali, ternyata workshop Dalia berada di pulau Jawa. Bali menjadi tempat tinggalnya, sekaligus tempat mengatur kegiatan bisnis. "Di sini saya bisa bekerja dengan cara yang sama sekali berbeda dengan waktu masih di Amerika. Hubungan saya dengan para perajin sangatlah dekat. Saya mencoba membantu mereka membuat perhiasan dengan cara yang lebih
modern," ungkapnya.

Kemodernan ini semakin dimungkinkan sejak ia menggunakan CAD (Computer Aided Design) untuk membantunya berkarya. Dalam hal ini, suaminya sangat membantu dalam menginterpretasikan desain Dalia dengan komputer. Hasil komputer ini kemudian dikirimkan ke workshop, dan hasil akhirnya sangatlah tepat. Dengan bantuan komputer, beberapa langkah bisa dilewatkan, sehingga pembuatan perhiasan menjadi lebih cepat dan presisi.

Karya-karya Dalia menggunakan perak lokal, yang dipadukan berbagai batuan berharga atau semi-berharga impor. Ia menyukai garis-garis yang bersih pada desainnya, misalnya dengan menggunakan kandungan perak lebih tinggi agar hasilnya lebih bersih dan lebih putih. Dalia mengakui bahwa sebenarnya ia dididik untuk menjadi perajin emas, tapi saat datang ke Bali, ia memutuskan untuk berpaling ke perak. Semua ini didasarkan pada pemikiran bahwa harga perak lebih terjangkau daripada emas, sedangkan ia juga ingin melakukan pemasaran secara lebih luas.

Bukan berarti perhiasan Dalia adalah kelas dua. "Memang sudah anggapan umum bahwa perak berada di kelas yang lebih rendah daripada emas. Jadi kami mencoba membuat perhiasan perak yang berkualitas tinggi, tak kalah berkelas tapi dengan harga yang lebih terjangkau," jelas suami Dalia.

Sebelumnya karya-karya Dalia dipasarkan di Amerika secara masal melalui berbagai toko dan katalog dengan nama lain. Kini, ia mulai meluncurkan koleksi atas namanya sendiri dengan kualitas yang lebih tinggi dan desain yang lebih khusus. Dan setelah bersusah-payah memikirkan nama yang tepat, Dalia dan suaminya memutuskan bahwa nama Dalia-lah yang paling tepat.

Saat ini, Dalia dan suaminya tinggal di daerah Seminyak, Bali. Di Bali jugalah ia bertemu suaminya, seorang fotografer, membentuk keluarga, dan bahkan kini, ibunya pun telah memutuskan untuk berpindah ke Bali. Saat ditanya apakah ia sering pulang ke Amerika? Dalia menjawab, "Tidak, rumah kami di sini sekarang."

Tricia Kim: Spiritual dan Keindahan Alam Bali

Tricia Kim lahir dan tinggal di Seoul, Korea, hingga berusia 6 tahun. Kemudian keluarganya memutuskan untuk pindah ke New York, Amerika. Bisa dikatakan New York adalah kampung halamannya kini. Ketertarikannya pada seni bermula sejak awal, karena itu ia mengikuti
pendidikan di berbagai sekolah seni di New York dan Paris.

Awalnya, Tricia berkutat pada pembuatan patung multi media serta pembuatan produk furnitur. Tapi bidang perhiasan mulai menarik hatinya sekitar 12 tahun yang lalu saat ia mengadakan perjalanan keliling Eropa, Amerika Tengah, Asia Tenggara, serta India dan Srilanka. Hingga saat ini, sudah 29 negara yang dikunjunginya.

Saat berkunjung ke Bali lima tahun yang lalu, Tricia akhirnya memutuskan untuk tinggal dan memusatkan bisnis desain perhiasannya di tempat tinggalnya di Ubud. "Menurut saya, semua orang menyukai Bali karena pulau ini seperti surga. Semuanya begitu indah, orang-orangnya, pemandangannya. Saat berada di studio, saya memandang ke luar dan melihat pohon-pohon kelapa serta kupu-kupu beterbangan. Rasanya begitu sejuk bagi jiwa saya," ia menjelaskan kecintaannya pada Bali.

Dan tentunya dari segi bisnis, "... saya dapat menghasilkan cukup banyak di sini dalam bidang desain perhiasan karena ada begitu banyak perajin berbakat yang sangat mudah diajak bekerjasama."

Tricia menggunakan berbagai material untuk perhiasannya, dari perak, emas 22 karat, berbagai batuan berharga dan semi-berharga, hingga karet dan tali sutera. Saat diminta mendefinisikan kecenderungan desainnya, Tricia menjawab, "saya banyak menggunakan teknik tradisional, tapi hasil akhirnya saya buat sendiri. Jadi... anggap saja kecenderungan desain saya adalah 'traditionally cutting-edge'." Setelah itu ia tertawa karena istilah itu ternyata hanya karangannya sendiri.

Ia memang tak terlalu memusingkan ke arah mana kecenderungan desainnya, karena kebebasan berkreasi lebih utama buatnya. Begitu juga caranya menggali inspirasi. Ia tak memiliki cara khusus untuk menemukan ide, kadang inspirasi datang begitu saja dan ia bisa langsung membuat sketsa. Kadang ia merenung dan menggali ke dalam diri sendiri untuk mencari inspirasi.

Ketika melakukan perjalanan ke negara-negara Asia Tenggara, Tricia mendapatkan banyak inspirasi spiritual dari berbagai kuil Hindhu dan Buddha yang dikunjunginya. Dipadukan dengan keindahan alam Bali, kedua pengaruh itu banyak ditemui pada berbagai hasil karyanya.

Tricia memiliki berbagai sumber yang memasok berbagai kebutuhan bahannya. Misalnya, batu-batuan didapatkannya dari India, Bangkok, New York, Afrika, dan berbagai tempat lainnya. Sedangkan bahan perak diperolehnya secara lokal. Ia bekerjasama dengan para perajin yang bekerja penuh di workshop-nya serta beberapa perajin lepas yang juga bekerja untuk desainer lainnya.

Dengan begitu banyaknya desainer perhiasan yang berada di Bali, ia mengaku tak takut pada persaingan. "Saya tahu di sini banyak sekali desainer perhiasan, tapi hampir semuanya memasarkan produknya untuk ekspor ke berbagai bagian dunia. Persaingannya memang cukup ketat, tapi saya yakin tempatnya juga masih cukup luas."

Tricia sendiri memasarkan karyanya dengan nama Nagicia ke Amerika, terutama New York, serta ke Swiss. Ia juga sedang menjajaki pasar di Hong Kong, Singapura, Tokyo, dan Jakarta. Nama Nagicia merupakan gabungan antara nama panggilannya, Naga, karena ia lahir di tahun naga, dengan nama aslinya, Tricia.

Beberapa kali dalam setahun, Tricia kembali ke New York untuk melakukan berbagai hal yang tak bisa dilakukannya di Bali. Ia mengunjungi museum dan pertunjukan, serta bertemu keluarga serta kawan-kawan. Sesudah itu, ia pun kembali ke studionya yang sepi di luar desa Ubud. "It's a healing place."

B. Filippos

Sebenarnya pria kelahiran Yunani ini lebih dikenal sebagai pematung dengan media terutama marmer. Lahirnya pun di daerah penambangan marmer di Yunani Tengah. Ia mempelajari budaya Yunani kuno, serta melakukan berbagai eksperimen dengan berbagai media, dari kayu hingga marmer.

Saat berusia 27 tahun, Filippos mulai melakukan perjalanan ke Inggris, Spanyol, dan Bali. Seperti juga rekan-rekannya yang lain, ia pun akhirnya memutuskan untuk tinggal di Bali hingga saat ini telah lebih dari 10 tahun. "Saya jatuh cinta pada tempat ini. Saya merasa seperti di rumah, karena itu saya memutuskan untuk tinggal di sini."

Filippos memilih untuk tinggal di Ubud karena komunitasnya yang artistik, dengan begitu banyak seniman pelukis maupun pematung yang tinggal di sana. Ia membandingkan Ubud dengan Legian, yang untuk Filippos, terasa lebih berorientasi bisnis.

Di sela-sela kesibukannya sebagai pematung, Filippos masih sempat melakukan hobinya, yaitu melakukan perjalanan ke berbagai tempat yang eksotis. Ia telah mengunjungi Mesir, Mongolia, Kamboja, Meksiko, India, Cina, Srilanka dan berbagai negara lainnya. Di setiap tempat, ia selalu menyempatkan diri berkunjung ke daerah pertambangan untuk membeli berbagai batuan yang menarik hatinya. Untuk Filippos, cara ini terasa lebih misterius dan menarik dibandingkan membeli batuan dalam sebuah acara pameran, misalnya.

Kadang ia mendapatkan inspirasi dari batuan yang didapatnya, dari tekstur, bentuk, atau warnanya. Dari situlah, ia kemudian mengembangkan desain yang sesuai untuk batuan tersebut.

Filippos tak membedakan pekerjaannya sebagai pematung atau desainer perhiasan. Sewaktu mengerjakan keduanya, ia bisa menggunakan materi yang sama, emas dan batuan tak hanya untuk perhiasan, tapi juga untuk patung setinggi satu meter lebih. Walau, tentu saja ia tak menggunakan marmer sebagai bahan perhiasan. Filippos menjelaskan, "Kedua hal itu (patung dan perhiasan) bisa saling membaur, karena untuk saya, perhiasan adalah suatu bentuk patung mungil."

Filippos mendefinisikan kecenderungan karyanya sebagai sedikit tradisional. Ia selalu berusaha membuat karya yang memancarkan sesuatu yang kuno, seolah-olah telah diciptakan ratusan tahun yang lalu. Pengaruh berbagai kepercayaan spiritual serta simbolisme yang diperolehnya selama melakukan perjalanan juga terasa kuat pada patung maupun perhiasannya.

Inspirasi bukanlah hal yang sukar didapat, karena menurut Filippos, inspirasi ada di mana-mana. "Saya bisa menemukan inspirasi pada hidup itu sendiri, pada orang-orang lain, pada batuan, dari dalam diri saya, di mana-mana. Semuanya adalah soal keindahan."

Ia pun tak terlalu memikirkan pemasaran karyanya. Rupanya ia lebih suka bila karyanya tetap menjadi sesuatu yang eksklusif ketimbang komersil. Filippos mengakui bahwa pemasarannya membaik bila ia memfokuskan diri pada hal itu. Tapi ada saat-saat tertentu di mana ia merasa terlalu sayang pada hasil karyanya, dan memilih untuk menyimpannya saja.

Caranya memandang hidup memang begitu bebas lepas dan seperti tanpa beban. Seperti ketika ditanya soal sampai kapan ia berencana tinggal di Bali, Filippos menjawab, "Anda bicara soal masa depan? Well, masa depan saya di sini, sekarang, saat saya sedang bicara dengan Anda. Saya selalu mencoba berada di masa kini." Ia menambahkan, "Bila Anda selalu mencoba menikmati saat sekarang, maka saat sekarang ini bisa hidup selamanya. Dan itulah caranya merasakan hidup."

July 08, 2002

[Harper's Bazaar] PUBLISITAS KARPET MERAH

'I'm wearing Jean Paul Gaultier, Prada, Yves Saint Laurent and Donna Karan. Everybody.' (Sting, karpet merah malam Oscar 2002)

Inilah malam yang ditunggu dengan hati berdebar. Bukan hanya oleh para aktris dan aktor unggulan serta insan perfilman lainnya, tapi juga oleh para desainer busana dan perhiasan yang dikenakan para bintang. Buat mereka, bukan acara puncak yang paling penting, tapi sebelumnya, the red carpet. Malam ini, karya mereka akan melintasi karpet merah di Kodak Theatre, Hollywood, tempat perayaan Oscar ke-74 diselenggarakan.

Karpet merah ini bagaikan catwalk dengan para pengamat dan kritikus mode ketat mengawasi. Lampu dan kamera menyorot terang. Senyum dipasang. Langkah dijaga. Lambaikan tangan dan pasang telinga pada setiap teriakan pertanyaan, 'Who are you wearing?' Ini saat-saat yang paling kritis. Setiap kesalahan -walau sedikit- akan dikenang untuk jangka waktu yang cukup
lama. Dan bila kesalahannya fatal, sang artis akan dikenang selamanya.

'Sebenarnya para bintang sangat ngeri bila sampai membuat kesalahan, karena hal itu takkan dilupakan paling sedikit setahun kemudian,' ungkap Rachel Zoe Rosenzweig, stylist yang pernah bekerjasama dengan aktris Toni Collette. Karena itu, kebanyakan artis memilih busana yang indah tetapi aman. Itulah sebabnya, apa yang nampak di karpet merah biasanya
mudah ditebak. Spaghetti straps. Gaun dan payet. Berlian.

Tapi, tetap saja karpet merah menjadi incaran desainer yang ingin karyanya dikenakan para bintang. Carlos Souza, kepala bagian humas Valentino, memperkirakan rumah modenya mendapat publisitas cuma-cuma senilai 25 juta US dollar tahun lalu dari pemunculan di televisi
dan majalah. "Itulah keuntungannya mendandani para pemenang," ungkapnya. "Luar biasa besar."

Pendapat serupa diungkapkan oleh Anne Fahey dari rumah mode Chanel di New York. Nilai publisitas dari penampilan seorang bintang tak hanya bertahan semalam, tapi bisa bertahun-tahun lamanya. Foto-foto Marisa Tomei dalam gaun Chanel hitam-putih di tahun 1993 masih muncul di berbagai majalah. Tahun lalu, kliping dari media massa yang menunjukkan Jennifer Lopez dalam gaun chiffon Chanel abu-abu memenuhi empat ring-binder. Nilai publisitasnya? "Sekitar 7 juta US dollar," kata Fahey.

Tentu saja busana maupun siapa yang memakainya harus ditentukan dengan sangat hati-hati. Salah-salah, yang didapatkan justru nama buruk. Karena itu, begitu nominasi pemenang diumumkan, Carlos Souza dan Valentino langsung mengadakan rapat untuk menentukan aktris yang tepat menjadi 'target' untuk didandani. Surat undangan segera dikirimkan, ditandatangani oleh sang desainer secara pribadi. Banyak surat kembali yang meminta vintage dress -mengikuti jejak Julia Roberts tahun lalu-, terpaksa ditolak. "Museum sudah ditutup. Kini Valentino membuat couture modern," jawab Souza.

Kali ini, Souza dan Valentino berhasil mendapatkan tiga bintang, Reese Witherspoon, Kate Beckinsale, dan Sandra Bullock.

***
Malam Oscar tahun ini ditandai dengan warna-warna yang lebih lembut. Banyak pendapat menyatakan bahwa hal ini merupakan ungkapan keprihatinan atas serangan teroris pada bulan September. Kebanyakan artis memilih lagi-lagi- hitam, yang lainnya memilih warna-warna
pucat. Sayangnya, tak semuanya sukses mengenakan warna pucat. Paduan gaun Chanel couture pink pastel dan kulit putih Nicole Kidman memang pucat, tapi justru membuatnya nampak seanggun peri, tentu karena ditunjang wajah dan tubuhnya (dan tentu saja, gaun Chanel couture-nya).

Tapi Jenifer Connelly, aktris pembantu terbaik, yang mengenakan gaun chiffon Balenciaga dalam warna beige malah nampak kurang darah. Ini terutama karena scarf warna pucat yang melingkari lehernya, walau kreatifitasnya memadukan dress dan scarf patut mendapat pujian.

Paduan pucat juga ditampilkan Kirsten Dunst dengan gaun Dior-nya yang gemerlapan, Audrey Tatou -pemeran Amelie- dalam gaun Alberta Ferretti, Helen Mirren dan Jodie Foster dengan gaun Giorgio Armani, serta Jennifer Lopez yang kembali mengenakan Versace. Tahun ini, Lopez mendapat kritikan -bukan karena gaunnya- tapi karena tatanan rambutnya yang dianggap lebih cocok untuk ratu kecantikan Texas.

Warna hitam kembali membuktikan diri sebagai warna paling aman dan anggun. Reese Witherspoon mendapatkan banyak pujian atas gaun lace dengan cap sleeve Valentino-nya. Dipadukan dengan tatanan rambutnya dan lipstik merah, ia tampil bagaikan bintang Hollywood
tahun 50-an. Pilihan hitam juga mengantar Sandra Bullock sebagai kandidat busana terbaik. Seperti Witherspoon, ia juga mengenakan karya Valentino. Julia Roberts dengan gaun Giorgio Armani juga mendapatkan pujian karena berkesan sangat modern dan simple setelah penampilannya yang cukup 'berat' dalam vintage Valentino tahun lalu.

Sebagai warna yang paling aman, kebanyakan artis yang memilih hitam memang mendapat pujian karena nampak anggun, misalnya Renee Zellweger dan gaun Carolina Herrera, Marisa Tomei dan rancangan Jurgen Simonsen, Sharon Stone dalam Versace, Uma Thurman 'sexy mom' dalam Jean Paul Galtier, serta Helen Hunt yang nampak seksi dengan Gucci.

Pemakai hitam paling dikecam adalah Gwyneth Paltrow, yang ironisnya selalu dianggap sebagai seorang fashion icon. Perpaduan gaun Alexander McQueen dengan tatanan rambut kepang dan makeup bergaya gothic nampaknya lebih cocok di atas runway daripada di karpet merah yang terbiasa dengan kecenderungan klasik.

Tak semuanya memilih penampilan 'aman' hitam atau pucat. Kate Winslet dengan gaun merah Ben de Lisi tampil sebagaimana layaknya seorang bintang, seksi dan berani. Sedangkan Laura Elena Harring dengan gaun Versace mendapat sorotan justru karena aksesorinya yang luar biasa mahal.

Cameron Diaz tampil berbunga-bunga dalam gaun kimono dari Ungaro Couture, dipadukan scarf dan rantai di pinggang membuat penampilannya terlalu ramai, apalagi dengan rambut berkesan acak-acakan. Tapi nampaknya ia tak peduli, karena menurut Diaz, gayanya itu adalah
seratus persen menampilkan kepribadiannya.

Pemenang aktris terbaik tahun ini, Halle Bery, memilih karya perancang kelahiran Libanon Elie Saab yang menurut kritikus 'mengandung resiko tinggi'. Maksudnya? Gaun yang bagian atasnya dari tulle trasnparan dengan penempatan motif daun yang strategis itu sebetulnya cukup vulgar, tetapi karena yang mengenakannya secantik Halle Berry, maka masih termasuk seksi dan dapat 'dimaafkan.

Busana para bintang pria pun mendapat sorotan walau tak sebanyak yang wanita. Will Smith patut mendapat predikat busana terbaik dengan jaket Ozwald Boateng dan dasi emas yang sangat mengusir kebosanan tux-and-black tie. Giorgio Armani menjadi pilihan terbanyak para bintang pria. Misalnya Samuel L. Jackson dengan brocade evening coat yang nampak stylish, Russel Crowe dengan tuxedo hitam, serta pemenang aktor terbaik, Denzel Washington, yang
memilih tuxedo warna midnight blue.

Malam Oscar bisa saja berlalu, tetapi busana-busana yang melintasi karpet merah masih tetap dilihat dan dibicarakan. Kita masih saja kagum pada gaun Valentino tahun 1982 yang dikenakan Julia Roberts tahun lalu, gaun Versace dengan garis leher sampai ke pusar yang dikenakan Jennifer Lopez dua tahun lalu, juga keberanian Bjork mengenakan gaun 'angsa karya Marian
Pejoski yang dikritik habis-habisan.

Yang jelas, agar selalu diingat dalam jangka waktu yang lama, pilihannya adalah menjadi the best dressed atau the worst dressed. Pilihan busana yang aman memang pasti akan terhindar dari kritikan, tapi juga takkan diingat orang. Tak heran para bintang pun berlomba-lomba dengan penampilan, kalau bisa paling bagus, paling buruk pun mungkin tak apa.

Lagipula, bad publicity is a publicity after all.

June 08, 2002

[Harper's Bazaar] Maksimalis vs Minimalis?

Benarkah kecenderungan fashion di Indonesia hanya identik dengan mewah dan gemerlapan? Lalu bagamana dengan kesedehanaan dan kepraktisan? Ini tuntutan pasar atau keterbatasan kemampuan?

Anda baru saja membeli sebuah busana rancangan desainer Indonesia denga harga yang cukup mahal. Kira-kira seperti apa bentuknya? Kemungkinan besar busana Anda mengandung unsur payet dan gemerlap. Kemungkinan besar juga busana itu Anda beli untuk dipakai ke acara tertentu dan bukan untuk kegiatan sehari-hari. Kemungkinan besar demikian. Kalau salah, mohon dimaafkan.

Kenyataannya, kalau kita mendengar kata-kata 'rancangan desainer Indonesia', yang pertama terbayang adalah busana mewah dengan segala pernak-pernik dan detil cukup meriah. Jarang sekali kita menemukan rancangan desainer Indonesia yang bebas trimming dan detil, dan hanya mengandalkan kesempurnaan cutting dan kualitas material belaka. Terbersit pertanyaan, jangan-jangan kalau tidak dihiasi berbagai pernak-pernik, suatu busana tidak dianggap layak
mendapat predikat 'rancangan desainer' di Indonesia?

Mungkinkah masyarakat fashion Indonesia memang masih sementah itu? Jumlah nominal yang sudah dikeluarkan hanya dianggap impas bila hasilnya jelas-jelas mewah dan gemerlapan. Karena itu, rancangan bergaris minimalis dengan detil sederhana tak mendapatkan pasar di sini. Tapi, sepertinya terlalu dini bila kita mengambil kesimpulan semudah itu.

Mari kita lembali ke akar budaya, seperti kebanyakan negara Asia lainnya, Indonesia sangat kaya dengan ragam busana dan tekstil tradisional yang semuanya penuh motif dan warna. Detail yang rumit, payet dan manik, serta pekerjaan tangan yang teliti merupakan ciri yang tak asing. Dulu, status sosial seseorang bisa dilihat jelas dari 'kekayaan' yang dikenakannya.
Walau kini soal status tak bisa dinilai semudah itu, tapi kebiasaan tampil 'kaya' rupanya masih terbawa sampai sekarang, walau tak lagi berciri tradisional.

Soal status ini dibenarkan juga oleh Erick Roland, buyer Versace untuk Indonesia. Butik yang dikenal dengan garis maksimalis kental ini memiliki sejumlah pelanggan yang bisa dikatakan fanatik. "Customer kami senang berpenampilan meriah, mereka tidak memilih ke butik A (menyebut suatu nama) karena garisnya dianggap terlalu sederhana. Mereka memang senang kelihatan bermerek," ungkapnya.

Lalu sebagian besar expatriat yang berbelanja di butik Versace Indonesia umumnya berasal dari Afrika. Tapi konsumen tetapnya kebanyakan masih orang Inonesia sendiri, yang tak segan berdandan head-to-toe dalam motif Versace. Ada miripnya dengan kaitan fashion Indonesia dengan akar budayanya. Benua Afrika juga dikenal dengan kemeriahan warna dan detil, jadi
nampaknya kecenderungan tampil 'meriah' terbawa hingga sekarang. Lihat saja penampilan rapper dan penyanyi berdarah Afrika, yang berdandan sangat meriah dalam tumpukan merek dan aksesori. Mantel bulu, kalung-kalung dan aksesori emas serba besar, serta motif meriah.

Alasan budaya ini mungkin bisa membenarkan kecenderungan desainer pada rancangan yang maksimalis, yaitu untuk mengikuti tuntutan pasar. Tapi bukankah ada kecanggihan teknologi komunikasi yang memudahkan informasi fashion dunia mencapai konsumen di Indonesia? Ternyata tak smua konsumen fashion di sini masih berkutat dengan akar budaya.

"Saat pernikahan, tentunya saya ingin juga tampil glamour, karena itu saya memilih busana yang meriah," ungkap Vicky Supit, seorang konsumen fashion. Namun untuk sehari-hari, ia mengakui bahwa pilihannya justru jatuh pada produk-produk impor. Masalahnya bukan karena brand-minded pada merek-merek luar, tapi Vicky belum menemukan busana casual yang nyaman dipakai dari desainer Indonesia. Ia mengaku tak mempersoalkan merek ataupun harga, tapi untuk busana sehari-hari, yang penting adalah kenyamanan.

Ketika porsi pasar yang hanya menghargai kemewahan semakin kecil, porsi yang lebih sadar fashion pun semakin besar. Indonesia, Jepang, Hong Kong, termasuk negara-negara Asia dengan selera berbusana yang cukup baik, dalam arti mampu mengikuti mode dalam waktu
cepat. Kesederhanaan gaya busana telah semakin diterima sebagai sesuatu yang elegan, chic, atau klasik, tidak lagi menjadi tanda 'kemiskinan'.

Agar mudah memperoleh gambaran bahwa minimalis juga mengandung kemewahan, perhatikan model busana pengantin para selebriti Hollywood. Ingat gaun pengantin Jennifer Aniston, Jennifer Lopez, sampai Catherine Zeta-Jones. Kesan pure, cantik dan mahal tetap terpancar.. Kultur ini datang dari Amerika, khususnya gaya yang diusung oleh New York Fashion Week. Lalu bandingkan gaya wedding gown yang dipakai oleh konsumen Jakarta (perbandingan ini hanya berlaku untuk international look yang bebentuk gaun putih panjang dan tutup kepala).

Maka sulit menemukan karya desainer Indonesia dengan ciri minimalis yang kental. Para penyuka kesederhanaan pun akhirnya harus berpaling pada merek-merek impor yang jumlahnya juga semakin banyak di Indonesia.

Harapan akan munculnya desainer-desainer baru yang mengusung kesederhanaan memang semakin bersinar. Bukan kreativitas saja yang bisa mendukung, tapi juga ketelitian bekerja serta teknologi. Rupanya kesederhanaan bukanlah hal yang mudah. Saat membuat suatu karya yang minimalis, tak banyak ruang gerak untuk membuat suatu kesalahan. Garis yang begitu
sederhana harus didukung dengan bahan bermutu tinggi, kualitas jahitan nomor satu, serta cutting yang sempurna. Bia tidak, maka kesederhanaannya menjadi tak berarti lagi.

Padahal jika melihat patokan harga, busana minimalis bukan berarti lebih murah daripada busana yang lebih ramai. Justru, desain minimalis biasanya dibuat dari bahan kain terpilih dengan presisi eknik potong sangat rapi. Karena kain bermutu ini harus menunjang siluet atau pola busananya. Sangat masuk akal jika harganya menjadi tinggi.

Arulita Adityaswara, Merchandise Director PT Pasaraya Nusakarya, menceritakan pengalamannya berkunjung ke sebuah garment manufacturer yang cukup besar. "Untuk
mengerjakan produk yang cukup sederhana saja -a simple white shirt-, mereka menggunakan alat pemotong yang sangat canggih, luar biasa tajam sehingga operatornya harus menggunakan sarung tangan baja." Ia melanjutkan, "Untuk fashion di Indonesia, keterkaitan dengan teknologi semacam itu masih dalam porsi yang sangat kecil."

Bukan tiada garment manufacturer di Indonesia yang memiliki teknologi secanggih itu, tapi kerjasama dengan desainer tetap saja sulit. Kebanyakan desainer Indonesia menjalankan usahanya secara pribadi, mempekerjakan sejumlah penjahit atau pengrajin sendiri, dengan jumlah produksi berskala kecil. Untuk menyerahkan pada garment manufacturer, jumlah minimum produksi yang ditetapkan terlalu tinggi untuk dipenuhi. Soal dana menjadi kendala.

Akhirnya, memang lebih mudah membuat sesuatu yang maksimalis ketimbang minimalis. Bukan berarti bahwa garis maksimalis memberi lebih banyak ruang untuk kesalahan, hanya saja kaitannya dengan teknologi sangat bisa diminimalkan Perbedaan paling besar antara dua kutub ini -maksimalis dan minimalis- terletak pada proses pengerjaannya. Semakin banyak pekerjaan tangan dilibatkan, semakin rumit pemasangan beading-nya, maka semakin berharga sebuah gaun mewah yang penuh detail. Teknologi tinggi tak terlalu diperlukan, karena pekerjaan tangan yang lebih dilibatkan. Keterbatasan teknologi di satu sisi, sumber daya manusia yang berlimpah di sisi lain, membuat desainer Indonesia lebih mudah membuat karya 'wah' daripada sederhana.

Kita patut mensyukuri kemampuan membeli dan kesadaran fashion konsumen Indonesia yang cukup tinggi. Kini mereka tak segan tampil dalam balutan busana desainer lokal untuk tampil dalam kesempatan-kesempatan khusus. Pilihan yang ditawarkan juga beragam. Maksimalis sudah punya posisi kuat di sini, pasarnya ada, pengisinya banyak. Tapi di pihak lain, pilihan busana bergaris sesederhana masih banyak diisi oleh produk luar. Padahal busana-busana seperti ini daya pakaianya lebih tinggi, dan peminatnya semakin besar. Pasar ini masih
menanti hasil karya desainer Indonesia.

Akhirnya, masalahnya bukanlah maksimalis atau minimalis, keduanya adalah kutub yang berlawanan, jauh berbeda, tapi tetap harus ada demi keseimbangan. Toh dunia fashion sendiri selalu berputar, kadang kecenderungannya meriah, kadang sederhana. Jalan masih panjang dengan mata rantai yang sangat rumit. Sebuah produk yang sederhana misalnya, tetap harus didukung oleh tim yang tangguh. Sayang sekali bahwa di Indonesia, kutub yang satu terisi penuh, dan kutub yang lainya begitu sepi.

November 15, 2001

[dewi magazine] Sehalus Lilin, Selembut Coklat

Ternyata coklat tak hanya nyaman di lidah Anda, tapi juga nyaman di kulit tubuh. Digabungkan dengan perawatan dengan lilin, kulit Anda akan benar-benar dimanjakan.

Hampir semua wanita menyukai coklat, karena itu theobroma cacao atau coklat juga sering dikatakan sebagai sahabat wanita, tentunya setelah berlian. Nama theobroma sendiri berarti 'santapan dewa', menunjukkan kenikmatan coklat sebagai makanan. Namun sebagai
sahabat, coklat juga sering ditakuti wanita karena dianggap sebagai penyebab gangguan kulit serta kegemukan.

Sebenarnya, coklat murni mengandung berbagai bahan yang berguna bagi kesehatan tubuh. Misalnya flavinoids yang merupakan bahan antioksidan, juga mampu menurunkan tingkat kolesterol dan mengurangi resiko tekanan darah tinggi. Coklat juga mengandung theobromine dan caffeine yang memberikan energi bagi tubuh. Tetapi penambahan bahan-bahan pemanis dan penambah kaya rasa seperti gula, susu, dan mentega, memang bisa menyebabkan coklat memberikan efek kurang baik bila dikonsumsi berlebihan.

Soal coklat sebagai makanan seperti di atas, tentu Anda sudah sangat akrab. Pernah membayangkan coklat sebagai bagian perawatan kulit? Beberapa waktu lalu, pihak Tulip Chocolate melakukan kerjasama dengan rumah kecantikan Centre de Beaute untuk mengadakan acara mandi coklat sebagai perawatan kulit. Acara ini merupakan bagian dari sebuah pameran akbar bertema coklat.

Bayangkan, Anda berendam dalam bathtub berisi coklat murni sehangat 40 derajat celcius selama 15 sampai 20 menit, dan saat keluar, kulit tubuh terasa begitu halus dan lembut. Hasilnya pun tak semata-mata kelembutan kulit, tapi juga tubuh yang rileks serta rasa nyaman karena kemewahan coklat itu sendiri.

Sebenarnya khasiat coklat bagi kulit sudah lama dimanfaatkan dalam industri kosmetik. Coklat sering digunakan sebagai bahan baku berbagai produk kosmetik, terutama lipstik, berbagai krim, dan maskara. Biji-biji dari dalam buah coklat diproses menjadi cocoa butter, cocoa liquor, dan cocoa powder. Cocoa butter yang berwarna kuning inilah yang memiliki manfaat besar bagi kulit. Kemampuan menghaluskan dan melembapkan kulit memang dimiliki oleh berbagai minyak alami, tetapi kelebihan cocoa butter adalah pada kepekatannya yang ringan sehingga mudah diserap kulit. Kemudahan ini membuat khasiat coklat yang melembutkan lebih mudah terasa dan bertahan hasilnya.

"Mandi coklat bisa dilakukan oleh siapa saja, tanpa persyaratan khusus kecuali mandi bersih saja sebelumnya," jelas Elvira, business development manager dari Tulip Chocolate yang berlokasi di Bekasi. Tapi jangan terburu-buru mencari tempat yang menyediakan perawatan ini, karena di Indonesia memang belum ada. Hal ini dijelaskan oleh Elvira, "Walaupun
bermanfaat bagi kulit, mandi coklat membutuhkan biaya yang sangat besar."

Satu kali mandi coklat membutuhkan sekitar satu kwintal coklat dengan kandungan cocoa butter sebanyak 65% dan cocoa liquor 35%. Coklat yang digunakan benar-benar murni, Anda bisa saja menambahkan gula dan tepung bila berniat mengolahnya menjadi cake! Tentu saja coklat yang sudah digunakan untuk mandi tak bisa diolah seperti itu karena alasan kelayakan. Maka sayang sekali jika harus membuang satu kwintal coklat untuk kenikmatan selama 20 menit.

"Waktu itu, kami memang ingin membuat sesuatu yang spektakuler untuk menunjukkan kepada semua orang bahwa coklat itu merupakan sahabat wanita karena merupakan bahan baku kosmetik, jadi tidak perlu ditakuti," jelas Yani Bodhipala dari Centre de Beaute mengenai tujuan mengadakan acara mandi coklat ini. "Selain itu, kami juga ingin menunjukkan bahwa coklat produksi lokal tak kalah mutunya dengan yang bukan lokal."

Bila masih juga berniat untuk merasakan nikmatnya mandi coklat, Anda bisa berkunjung ke Hershey Hotel di Pennsylvania. Spa di hotel ini menyediakan berbagai perawatan dengan coklat sebagai menu utama. Perawatan yang bisa Anda lakukan misalnya Whipped Cocoa Bath ­atau mandi coklat susu, Chocolate Mud Hydrotherapy­ yang menggabungkan khasiat lumpur dan coklat, Chocolate Bean Polish dan Cocoa Butter Scrub untuk menghilangkan kulit mati, serta Chocolate Fondue Wrap yang membungkus tubuh dalam coklat. Semua perawatan ini menggunakan coklat produksi kota Hershey sendiri.

Tapi untuk sementara, tak perlu jauh-jauh berkunjung ke kota Hershey untuk merasakan manfaat coklat. Manfaat cocoa butter masih tetap bisa Anda rasakan dalam bentuk minyak yang digunakan untuk massage menjelang berbagai perawatan tubuh lainnya. Salah satu perawatan yang bisa Anda lakukan adalah gabungan antara massage dengan cocoa butter yang dilanjutkan dengan pembaluran lilin parafin yang juga sudah dikenal kemampuannya melembutkan dan melembapkan kulit.

Tertarik merasakan kemewahan coklat dan merasakan hasilnya pada kulit Anda? Untuk lebih jelas mengenai coklat dan mandi lilin, dewi melakukan awancara dengan Yani Bodhipala dari Centre de Beaute.

Mengapa mandi coklat tidak diadakan sendiri, tanpa digabungkan dengan perawatan lain?


Kami memang pernah membuat sesuatu yang spektakuler dengan mandi coklat murni. Tetapi untuk dilakukan sebagai perawatan teratur, biayanya akan terlalu tinggi dibandingkan hasilnya. Sekali mandi coklat yang hanya sekitar 15 hingga 20 menit menghabiskan satu kwintal coklat berharga puluhan juta. Saat dikombinasikan dengan mandi lilin, ternyata hasilnya tetap sama tetapi biayanya bisa jauh berbeda.

Mengapa coklat yang dipilih untuk melengkapi perawatan mandi lilin?

Perawatan ini menggunakan produk dari biji coklat berupa minyak yang disebut cocoa butter. Minyak ini merupakan bahan alami yang bersifat melembutkan dan melembapkan kulit, karena itu banyak dipakai sebagai bahan baku kosmetik. Dibandingkan dengan minyak alami lainnya, misaknya minyak zaitun, cocoa butter tidak begitu pekat serta lebih mudah diserap oleh kulit.

Bagaimana langkah-langkah pelaksanaannya?

Seperti melakukan perawatan tubuh biasa. Pertama-tama, dilakukan dulu scrub atau penggosokan tubuh, kemudian langsung dilakukan massage dengan minyak cocoa butter ini. Setelah itu, area yang hendak dirawat diolesi dengan lilin parafin khusus dan ditutup dengan plastik selama kurang lebih sepuluh menit.

Untuk kaki yang lelah, perawatan dimulai dengan foot spa menggunakan garam mandi yang mengandung aromatheraphy tertentu. Setelah kaki dikeringkan, dilanjutkan dengan refleksiologi menggunakan minyak cocoa butter, baru kaki dibalur dengan lilin parafin.

Mengapa harus ditutupi dengan plastik?

Pembuluh darah yang mekar karena panasnya parafin akan membuat pori-pori terbuka. Saat terbuka itulah, kandungan parafin yang melembutkan kulit diserap. Plastik berguna untuk menjaga agar penguapan yang terjadi tidak 'lolos' sehingga kulit tetap lembap.

Mungkinkah perawatan ini dilakukan setiap hari?

Mungkin saja, tetapi sebenarnya tidak perlu, seminggu sekali saja sudah cukup. Sedangkan bagi mereka yang sedang dalam persiapan pernikahan, bisa melakukannya tiga hari sekali.

Berapa lama setelah perawatan dilakukan, hasil nyata bisa dirasakan?

Kelebihan dari perawatan ini memang pada hasilnya yang langsung bisa dirasakan setelah perawatan, terutama bagi mereka yang memiliki kulit kering karena jenis maupun penuaan. Kulit terasa lebih lembut, lembap, dan halus, dan bertahan hingga dua minggu setelah
perawatan.